Tidak Mungkin 2

1122 Kata
Aku melihat tubuhnya menerobos kerumunan meninggalkan diriku yang mematung. Ini tidak benar, seharusnya aku yang menaklukannya, bukan dia duluan yang membuatku menjadi lelaki lemah seperti ini. Ingat Gisel, Romeo. Gisel itu cinta pertamamu. Kesadaranku kembali membuatku normal, aku menuruti keinginan Kalla untuk pulang duluan. Kami diam selama di perjalanan menuju rumah Kalla. Ketika Kalla hendak turun dari mobil, aku menahannya. Aku menariknya dan menciumnya sebisa yang kumampu. Aku begitu menginginkannya hingga membuat tubuhku membara oleh keinginan tak kasat mata. Kalla terengah-engah kehabisan napas, kami meneruskannya lagi dan berhenti ketika Kalla mendorong pelan dadaku. Aku tahu ini kesalahan, tapi aku begitu mendambanya. Awalnya aku hanya penasaran. “Aku bisa dimarahi kalau pulang terlambat.” “Sekali lagi.” Pintaku. Kalla mengecup bibirku dan keluar meninggalkanku, “Good night.” Kalla tersenyum lalu berjalan tanpa menengok lagi ke arahku. Ini salah, tidak seharusnya aku menginginkannya. Gisel mau aku taruh di mana? Ini hanya taruhan, aku bodoh kalau memilih Kalla daripada Gisel yang sudah bersamamu sejak dulu sekali. Aku berakhir dengan memukul-mukul kepalaku, agar kembali ke jalan yang benar. Flashback Off *** Sudah setengah bulan aku berada di Jersoix, setelah pertemuanku dengan Gisella dan Kalla waktu itu. Mereka membuatku gila. Gisella sudah mendapatkan rumah impiannya, padahal setahun yang lalu aku membelikannya sebuah apartemen. Aku seperti bank berjalan untuk Gisel. Gisel mulai berubah sejak aku masuk kuliah. Aku membiarkannya membeli apa saja asalkan dia bisa menjaga hatinya. Tapi sayang, dia tidak benar-benar mencintaiku. Semakin hari aku merasa kalau dia hanya memanfaatkan diriku atas kebaikannya dulu. Thomas ngotot agar aku meninggalkan Gisella, tapi aku bertahan, berharap Gisella mau mengerti, tapi yang ada dia malah semakin menjadi. Aku memutuskan berpisah, tapi dia selalu datang dan mengganguku. Aku sama sekali tidak mengerti tentang hubungan kami yang sekarang. Sekarang, aku disibukkan dengan berbagai acara, aku tidak sedang menghindari Gisel. Aku hanya ingin hidup tenang tanpa gangguan. Gisel sudah tidak meneleponku lagi sejak aku pindah ke Jersoix untuk sementara waktu, mungkin minggu depan aku akan kembali. Aku merindukan ibuku di rumah. Masih jelas teringat, Kalla yang membenciku dengan sorot mata yang ingin mencincangku hidup-hidup. Itu masa lalu, untuk apa aku merasa bersalah kepadanya? Semuanya sudah berakhir, baik dengan Kalla ataupun dengan Gisel. Wanita itu racun. Aku punya hal lain yang membutuhkan seluruh perhatianku. Aku masih terobsesi membuat kerajaan bisnisku sendiri. Aku harus realistis, wanita tidak hanya mereka. Biasanya aku dikagumi oleh banyak perempuan, untuk apa aku direpotkan dengan segala sesuatu yang menyangkut perasaan? Seperti lelaki tidak punya harga diri. Aku kadang suka mencibir diriku sendiri. Aku sedang membuat presentasi yang akan kupakai besok sambil mendengarkan suara tv local yang sedang menayangkan berita. Ada sebuah wawancara yang samar-samar kumengerti maksudnya. Suara itu, aku mengenali suara itu. Aku mengarahkan kedua mataku ke layar persegi panjang yang menempel di dinding. Kalla Rei sedang tertawa bahagia menggendong putrinya sambil menjawab beberapa pertanyaan dengan penuh percaya diri. ‘Stella Rei, pianist cilik berbakat’, judul yang disematkan dalam berita itu. Aku menganga lebar. Ini tidak salah, kan? Bocah yang kulihat di toko alat musik adalah anak dari Kalla. Aku yakin tidak salah mengenali. Gadis cilik itu masih mengenakan jepit rambut yang sama dan sorot matanya terkesan jauh. Dunia ini memang sempit, lalu untuk apa aku peduli dengan mereka? Aku sudah memiliki kehidupanku sendiri. Meskipun mereka hari ini ada di negara yang sama dengan diriku, aku juga tidak akan menemui mereka. Kecuali jika tidak sengaja bertemu. Itu lain cerita. Lagi-lagi Kalla mengusikku secara tidak sengaja. “Stella ingin berbicara apa kepada orang-orang yang menonton di rumah?” Kalla mengajukan pertanyaan kepada anaknya. Semakin ingin tidak peduli, semakin diriku ingin tahu apa yang akan dijawab oleh bocah kecil itu. Sialnya, aku pun menunggu jawabannya. Agak aneh saat Stella terlihat akan menangis. Sebenarnya apa yang ingin disampaikan? “Stella … Stella … punya ayah. Ayah Stella, di surga.” Stella berkata terbata-bata aku melihat Kalla menciumi Stella yang sedih. “Sepertinya anakku sangat merindukan ayahnya yang sudah lama tiada.” Kalla tersenyum simpul dan pembawa acara tampak memahami. Kalla terlihat lancar sekali berbahasa asing. Dari dulu dia tidak berubah, selalu cerdas. “Ini mungkin bukan penampilan Stella yang pertama di depan banyak orang, tapi Stella tetap anak kecil yang ingin bermain dan bersenda-gurau. Kami bersyukur dan berterima kasih kepada sponsor acara yang telah memberikan kesempatan. Ini merupakan perjalanan yang lumayan jauh bagi Stella, meskipun saya sebagai seorang ibu sangat bangga dengan pencapaian putri kecilku yang luar biasa. Saya sangat mencintai Stella, apapun yang Stella inginkan, sebagai orang tua wajib mendukungnya. Kami harap teman-teman Stella juga mau mendukung, dan siapa saja mau terus memberi kami semangat.” Kalla berbicara kepada pembawa acara yang sedang tersenyum ke arahnya. “Itu benar-benar luar biasa, penampilannya kemarin selama hampir satu jam sungguh memukau. Apa yang akan anda lakukan terhadap Stella ke depannya?” “Saya ingin Stella menggapai mimpinya, apapun mimpinya. Saya sebagai orang tua hanya bisa mendukung semampunya. Stella masih terlalu kecil, sebenarnya saya lebih senang Stella bermain boneka di rumah.” Kalla tertawa. “….” “….” “….” “….” Aku merasa kasihan sekali kepada Stella, dari matanya menyimpan kesedihan, rupanya berkaitan dengan orang tuanya yang tidak lengkap. Dia masih terlalu kecil untuk mengerti sebuah kehilangan. Aku menepis pemikiran yang tiba-tiba muncul tentang sebuah peluang bagiku untuk mendekati mereka. Gengsiku masih lebih unggul daripada keinginan terliarku. Satu kata untuk Stella,’menarik’. Seorang pianis cilik yang sudah menjadi anak yatim dan memiliki bakat yang luar biasa. Wajar sekali kemarin aku melihat mereka hanya berdua. Apakah ini pertanda kalau aku harus menyingkir dari Jersoix? Sialan, bahkan saat berada di luar negeri pun aku masih dihantui oleh bayang-bayang mantan. Mau sampai kapan hidupku seperti ini? Mungkin aku terlalu terbawa perasaan hingga terombang-ambing tidak jelas. “Ludwig, antarkan makan siangku.” Aku menekan intercom dan menyuruh asistenku untuk mengantarkan beberapa makanan. Aku lapar, aku tidak berminat lagi untuk menyelesaikan pekerjaanku, setelah melihat mereka berdua di tv. Semangat bekerjaku terhempas ke dasar jurang, dan aku butuh beristirahat sekaligus menenangkan hati juga kepalaku yang mendadak pusing. Ludwig mengantarkan makan siangku dengan menu seperti biasa lalu berpamitan. Aku memakannya dengan berat hati. Setelah menyelesaikannya aku akan bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat. Vincent dan Gabriel kebetulan ada di sini, kami janjian di tempat yang aku belum tahu, karena Gabriel masih belum menyelesaikan urusannya. Daripada terlambat lebih baik aku mempersiapkan diri lebih awal. Sekalian aku ingin mengecek beberapa hal di hotelku, hotel yang sudah menampungku selama berhari-hari selama di Jersoix. Aku berbincang-bincang dengan salah satu pengelola yang merupakan orang kepercayaan yang bertugas mengatur banyak hal di hotelku ini. Tidak mungkin aku mengaturnya sendirian tanpa bantuan dari orang-orang yang memang kugaji untuk melakukan itu. Untuk menjadi besar kita perlu bekerja sama. Sudah tidak jaman bekerja secara mandiri, aku butuh banyak orang yang kompeten untuk membangun kerajaan bisnisku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN