Tidak Mungkin 1

1085 Kata
Romeo POV Aku mendengar kakakku yang sedang memarahi putranya. Tidak marah sepenuhnya, hanya menasehati dengan suara yang luar biasa keras, khas kakak perempuanku. Aku duduk di taman, ibuku tadi sedang membuatkan makan malam untukku. Penat sekali dan aku memutuskan pulang ke rumah untuk sejenak menjernihkan pikiranku yang kacau, karena terlalu banyak berpikir. Itulah yang kubenci ketika menjadi dewasa. Keponakanku melangkah mendekatiku dengan wajah kusutnya. Aku tahu bagaimana rasanya dimarahi oleh seorang ibu. Aku tersenyum menyambutnya dan tatapannya malah semakin menderita. Apa kakakku terlalu keras kepadanya sehingga keponakanku tampak begitu sangat tertekan? “Apa yang kamu lakukan di sekolah, sampai mommy marah kepadamu?” Aku memberi ruang agar David bisa duduk di sebelahku. “Aku memukul temanku, karena dia membuat temanku jatuh ke kolam. Aku berbuat baik, tapi kenapa semua orang memarahiku.” David protes. “Kenapa kau harus memukulnya? Laporkan kepada gurumu, begitu lebih baik. Tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kejahatan.” Aku menasehati. “Aku benci mereka, mereka selalu membuat Stella menangis.” “Stella?” Aku berpikir sejenak, “teman sekelasmu?” “Bukan. Dia, dia, masih berada di taman bermain.” Aku mengingat-ingat lagi, memang David belajar di sebuah sekolahan yang memiliki jenjang pendidikan yang lengkap, baik dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas. “Pasti Stella nakal, makanya temanmu menceburkannya ke kolam.” “Tidak. Stella anak yang baik, Stella pandai, mereka memusuhinya karena Stella tidak punya daddy. Kenapa semua orang jahat kepadanya? Aku kasihan kepada Stella, aku sedih kalau Stella menangis. Kenapa mereka memusuhi Stella, Paman? Tidak semua orang memiliki keluarga yang sempurna, tapi itu bukan alasan untuk mereka selalu menyakiti Stella.” Aku menghela napas panjang, David mengutarakan semua perasaannya kepadaku. Keponakanku memang memiliki jiwa yang baik dan meluap-luap. Apa David menyukai bocah yang menangis itu? Sering sekali keponakanku bercerita tentang anak perempuan itu. Aku masih ingat kalau dia memintaku membelikan tiket untuknya agar bisa melihat temannya pentas, dan kakakku menolak dengan keras keinginan anaknya. Mana mungkin kakakku mengizinkan anaknya pergi melintasi banyak negara hanya untuk melihat konser? Sebenarnya kemampuan seperti apa yang dimiliki oleh teman David itu? Aku masih kurang paham. “Jadi keponakan paman sedang menjadi pahlawan. Tapi memukul temanmu itu tidak diperbolehkan. Polisi bisa menahanmu di penjara. Besok kalau ada anak yang nakal, kamu harusnya melaporkannya kepada gurumu. Paham?” “Paman tidak mengerti.” David masih saja keras kepala. “Jadilah anak laki-laki yang sesuai dengan umurmu. Paman merasa kalau kamu lebih tua dari umurmu.” Berurusan dengan bocah di sampingku kadang memerlukan banyak tenaga. “Karena aku pintar.” Jawabnya cepat. “David, makan!” Teriak kakakku dari meja makan. Suaranya melengking dan membuat kepalaku pening. “Mommy memanggilmu, sana makan. David harus patuh kepada mommy.” David mendengus dan melenggang meninggalkanku. Aku tahu kalau David masih menyimpan kekesalannya sendiri. Dia masih kecil, tapi tindakannya sudah seperti orang dewasa. Itu konyol sekali. Jaman dulu dan jaman sekarang sangatlah jauh berbeda, kadang aku takut sendiri kalau suatu hari nanti menjadi seorang ayah. Anak jaman sekarang terlalu cepat menjadi dewasa. Selesai mandi, aku bercakap-cakap di meja makan bersama kedua orang tuaku, kakak perempuanku dan juga suaminya, tidak ketinggalan ada David. Topik pembicaraannya masih sama, yaitu soal keponakan kesayanganku yang berkelahi di sekolah. Aku menikmati makananku dan kembali ke kamar. Setelah merendam kepala di bawah guyuran air, kepalaku malah semakin pening. Pening yang bukan karena sakit, tapi karena Kalla Rei yang dengan kurang ajarnya kembali ke dalam hidupku. Sudah lama sebenarnya sejak pertemuan pertama kami tempo lalu. Akan tetapi, aku masih merasa ada sesuatu yang sulit untuk kukatakan. Bayangan ketika kami menghabiskan waktu bersama selama tiga bulan lebih kembali menguar dan meracuni akal sehatku. Aku berulang-ulang mengingat kalau Kalla sudah berkeluarga. Memalukan sekali kalau aku harus merebut Kalla dari suaminya. Di dunia ini ada banyak wanita selain Gisella dan Kalla. Akan tetapi, hidupku selalu berkutat kepada dua manusia itu. Ternyata benar, move on itu susah, ngomongnya yang mudah. Lagi-lagi aku tidak tahu mengapa ada rasa tidak rela saat Kalla Rei terlihat baik bersama dengan keluarga kecilnya. Flashback On “Kau mau membawaku kemana?” Aku menarik tangan Kalla. Dia setuju untuk menemaniku pergi ke pesta ulang tahun salah satu teman sejurusanku. Semakin mengenalnya, aku semakin bingung dengan perasaanku sendiri. Aku memiliki Gisel yang kucintai, tapi aku bisa kalah kalau tidak bisa mendapatkan hati Kalla. Awal berkenalan, bagiku Kalla adalah nerd yang seksi. Tidak butuh waktu lama untuk mengenalnya, dia seperti buku yang bisa dengan mudah k****a. Sepertinya tidak akan membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan hatinya. Tantangan ini hanya berlaku sampai 100 hari. Aku bisa bertahan untuk kemenangan yang sudah kugenggam. Aku yakin kalau Kalla akan sepenuhnya takluk dibawah pesonaku. Semua orang tahu kalau Romeo Evans begitu menarik dan sulit untuk ditolak. “Kau harus di-make over supaya cantik. Aku ini ibu perimu yang akan merubahmu secantik para dewi.” “Apa acaranya hari ini? Kukira masih ada waktu beberapa hari lagi. Aku mau pulang, tidak jadi ikut.” Dari tadi Kalla ingin kabur, tapi masih bisa kutahan. “Ayolah, Kalla. Aku tidak memiliki teman yang bisa kuajak kesana.” Aku berusaha membujuknya. “Kau pintar sekali berdusta, aku tidak yakin kalau wanita di luar sana tidak mau kau ajak ke sana.” “Come on, Kalla. Aku temanmu yang harus kau bantu.” Aku menarik-narik Kalla Rei ke mobilku dan dia tidak bisa untuk menolaknya. Aku benci ditolak, apalagi oleh seorang wanita. Kalla terlihat terpaksa, tapi dia menuruti apa keinginanku. Tidak butuh waktu lama, dan dia berada di sampingku dengan tampilan barunya yang menurutku luar biasa. Kalla bahkan lebih cantik daripada cinta pertamaku, Gisella. Meskipun diriku suka mempermainkan wanita, dihatiku hanya ada Gisel seorang. Untung saja Gisel tidak satu kampus denganku, kalau dia tahu bagaimana kelakuanku pasti dia akan marah-marah. Kami semua menari di lantai dansa setelah mengucapkan selamat dan memberikan hadiah. Kami memakan beberapa kudapan dan mengobrol bersama yang lainnya. Kalla Rei yang biasa-biasa saja di kampus dalam waktu semalam berubah menjadi Cinderella yang membuat banyak mata bertanya-tanya siapa gerangan gadis yang kubawa. Dia memang cantik dan baru terlihat setelah diriku meminta seorang ahli untuk mendandaninya. “Apa ini dansa pertamamu di sebuah pesta?” “Aku tidak pernah datang ke tempat seperti ini sebelumnya.” “Apa kau senang?” Kalla mengangguk dan tersenyum kepadaku. Astaga, kenapa jantungku berdebar-debar saat ditatap seperti itu? Aku membiasakan diri agar tidak terlihat salah tingkah. Alunan musik yang menghentak-hentak berubah menjadi lebih lembut, ini adalah kesalahan. Kalla mendekat dan mengecup bibirku. Duniaku berhenti beberapa detik. Gadis nerd di depanku tersipu dan berbisik, “Aku ingin pulang.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN