Tunangan Romeo 2

1021 Kata
Flashback On “Maaf, aku tidak sengaja tadi. Apa kau baik-baik saja?” Ada sorot penuh kekhawatiran di mata lelaki di depanku. “Aku baik-baik saja.” Aku memunguti lembaran-lembaran kertas tugasku yang berserakan di koridor kampus. Aku diam-diam menatap mata birunya yang indah. Aku sangat gugup dan aku tidak ingin sampai dia mendengar detak jantungku yang kian cepat. “Romeo Evans.” Setelah membantuku memunguti barang-barangku ia memperkenalkan namanya kepadaku. Aku sudah tahu kalau namanya adalah Romeo, siapa yang tidak mengenalnya. Dia dan ketiga temannya sudah seperti pahlawan yang dielu-elukan. Sedari tadi, Romeo Evans terus mengumbar senyumannya. Apa dia sedang menertawakan kebodohanku? Apa dia merasa aneh dengan sikapku? Jujur aku agak salah tingkah, meskipun aku berusaha maksimal untuk menutupinya. “Kalla Rei. Terima kasih sudah membantuku. Sampai jumpa.” Aku meninggalkannya. Aku seperti merasakan tatapannya masih menusuk punggungku, aku tidak menengok lagi ke belakang dan terus berjalan ke ruang dosen. Bertemu dan berada di sekitarnya ternyata sangat berbahaya untuk kesehatan jantungku. Baru kali ini aku bisa sedekat ini dengan Romeo Evans. Pantas jika banyak wanita yang membicarakannya. Dia memang tampan, sangat tampan. Mungkin sekarang aku sedang tersenyum membayangkan kembali bagaimana pria itu tersenyum kepadaku. Apa pipiku memerah lagi? Ingat Kalla, dia bukan pria yang bisa kau dekati sesuka hati. Sepertinya aku harus menghindari Romeo Evans yang memiliki pesona yang berbahaya untuk kewarasanku. Flashback Off Untuk kedua kalinya aku berkenalan dengan Romeo. Ini menggelikan. Aku mengelus-elus rambut Stella yang sedang tertidur lelap. Hari ini berat untukku. Aku benar-benar menemani Romeo hingga dirinya menyelesaikan makan siangnya. Aku heran mengapa diriku masih mau menemaninya mengobrolkan hal-hal yang tidak penting. Di saat itu, aku hanya berpikir jika Stella akan mendapatkan hadiahnya jika diriku bekerja dengan giat. Aku terlambat setengah jam dan membuat Stella menungguku, tapi aku berhasil menjual satu unit rumah termahal yang menjadi koleksi perusahaanku. Mungkin ini sepadan dengan pengorbanan yang sudah kulakukan. Tidak mudah jika harus berlama-lama membayangkan masa lalu yang indah dan menyakitkan secara bersamaan. Romeo sudah bertunangan dengan Gisel. Aku tidak tahu soal mereka, setahuku mereka hanya berpacaran dan hampir putus. Kadang publik bisa dibodohi, lagi pula Romeo memiliki kekuasaan untuk mengotak-atik media. Aku juga tidak peduli dengan hubungan mereka. Intinya mereka masih bersama dan tampak baik-baik saja. Dari mana dia tahu kalau aku memiliki seorang putri? Mengenai sudah berkeluarga aku rasa hanya kesimpulannya sendiri, karena keberadaan Stella. Aku tidak pernah menikah dengan siapa pun. Syukurlah kalau dia menganggapnya seperti itu. Paling tidak dia tidak akan mengganggu hidupku lagi. Cukup sekali dan aku tidak ingin berurusan dengannya. Aku benci menjadi wanita. Aku wanita dan aku menjadi tidak logis dalam menyelesaikan beberapa masalah. Ada segunung kebencianku untuk Romeo, tapi kalau mengingat segala kebaikannya selama 99 hari yang pernah kulewati bersamanya, itu membuatku sadar kalau aku tidak sebenci itu kepadanya. Aku mempertahankan Stella salah satunya karena aku masih mencintai Romeo dan berharap kalau dia datang untuk meminta maaf kepadaku. Aku benci menjadi diriku yang tidak logis dalam menyikapi ketidakberuntungan yang kualami. Stella adalah pengganti Romeo dan ibuku, agar diriku tidak sendirian di dunia ini. Aku tidak boleh terlalu banyak meminta. Aku akan bersama Stella dan Romeo bersama Gisel. Gisel wanita yang baik dan terlihat mencintai Romeo. Di sini aku merasa kalau begitu lebih adil dan lebih baik. Selama ini aku baik-baik saja tanpa Romeo maupun tanpa keluargaku. Cukup Stella di sisiku, itu sudah lebih dari apa yang kuinginkan. Aku mengecup kening Stella dan pergi ke pasar swalayan, mumpung anakku tidur. Kapan lagi aku bisa pergi kalau tidak sekarang. Masih jam sembilan malam, Stella akan baik-baik saja selama kutinggalkan, dia akan bangun di pagi hari. Pergerakanku yang cukup cepat, membuat diriku sampai ke tempat tujuan dalam waktu kurang dari lima belas menit. Aku memang suka ngebut di jalanan, apalagi saat sepi seperti tadi. Aku mencari troli belanja dan mulai mencari apa yang kubutuhkan. Aku memasukkan beberapa sayuran dan buah ke dalam keranjangku yang sudah dipenuhi dengan makanan ringan, sabun, dan sebagainya. Aku tidak peduli dengan sound system yang menurutku sejak aku masuk sampai sekarang selalu memutar lagu-lagu galau. Hari ini, aku merasa alam sedang berkonspirasi untuk mengusik ketenanganku dan sialnya aku merasa sedih dengan hal itu. Aku hanya wanita biasa, aku punya perasaan kalau kalian mengetahuinya. I know, it’s impossible. Aku tidak mungkin berbaikan dengan Romeo lagi. Percuma, sesuatu yang terjadi di masa lalu tidak akan bisa kembali normal lagi. Misalkan waktu itu aku tidak memutuskan Romeo, pasti Romeo yang akan memutuskanku. Sama saja kan? Saat memikirkannya selalu saja dadaku sesak. Bukannya sudah berlalu bertahun-tahun yang lalu? Aku menghela napas, begini lebih baik. Mau bagaimanapun juga waktu tidak akan pernah berjalan mundur. Setelah dipikir-pikir menyesal sudah tidak berguna untuk menyelamatkan diriku. Aku rasa keputusan untuk tidak berurusan dengan Romeo adalah pilihan yang sangat tepat, karena aku menyadari kalau diriku memiliki hati yang sangat lemah. Meskipun aku selalu berusaha terlihat tegar, tapi aku tidak seperti itu. Ada sisi lemahku yang begitu menyebalkan yang susah kubuang, karena merupakan bagian dari diriku. “Ayolah, Kalla. Jangan lemah seperti itu!” Aku menyemangati diriku sendiri. Baru bertemu dengan Romeo Evans sekali sudah galau seperti ini. Di masa depan belum tentu juga aku akan bertemu lagi dengannya. Lalu apa yang sedang kupikirkan? Akan tetapi, aku ingin jujur jika aku ingin dia tahu kalau aku sudah berhasil melalui hari-hari burukku seorang diri. Dia adalah pria yang membuat kehidupanku semakin rumit di tengah hidupku yang tidak pernah baik-baik saja. Aku ingin membuka rahasia kecilku, agar merasa lebih lega. Akan tetapi, jika aku mengingat kembali bagaimana masa kecilku maka aku akan merasa takut. Mengapa aku merasa iri dengan Gisella? Dia cantik dan terlihat … bahagia. Dari penampilannya dia pasti berasal dari keluarga berada. Dari hal kecil itu aku malah merasa kalau Tuhan terkadang bisa menjadi tidak adil kepada umatnya. Hanya bersyukur yang bisa kulakukan, untuk membuatku merasa lebih baik. Manusiawi memang. Apa kali ini aku mulai menyalahkan Tuhan atas kemalangan yang menimpaku? Ada saat di mana diriku merasa tidak mampu menjalani semuanya. Lalu Stella selalu bisa membuatku bangkit kembali. Hanya anak itu yang membuatku semakin kuat dan kuat menjalani hidup ini. Aku pernah melalui hari yang lebih buruk dan aku bisa melaluinya lagi. Fokusku adalah memberikan kehidupan yang baik untuk Stella.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN