Romeo POV
Aku penasaran dengan ucapan Vincent yang mencocok-cocokan antara diriku dengan Stella. Aku sudah memesan tiket pesawat dengan tujuan dan jam terbang yang sama. Aku menyuruh orang-orang itu bekerja dengan giat agar aku bisa duduk tepat di sebelah Kalla. Tiket sudah berada di tangan, aku duduk di bangku paling belakang terhalang oleh pot besar berisi tanaman berdaun banyak yang tidak terdefinisakan apa namanya, toh aku bukan ahli tumbuh-tumbuhan. Aku melihat Kalla membungkuk memeluk anaknya, dia menangis, meskipun setiap hari waktuku habis di depan laptop, aku dapat melihat dengan jelas kalau punggung Kalla bergetar.
Sebentar lagi pesawat akan membawaku pulang ke rumah. Kalla dengan langkah pelannya menyusuri jalan yang digunakan untuk menuju ke tempat pemberangkatan. Kalla keberatan membawa Stella di gendongannya, dan dia terus berjalan sambil sesekali membenarkan posisi agar Stella tidak jatuh. Aku melihat Stella yang terlelap menampakkan pipi gembulnya. Masih ada cukup waktu dan aku memilih masuk ke pesawat paling akhir. Aku mengenakan kaca mata hitamku. Ini bukan gaya-gayaan, jangan sampai Kalla mengenaliku.
Aku duduk di sebelah Kalla dengan satu kursi kosong di antara kami. Seharusnya jok di sampingku untuk Stella, tapi ibunya tetap menggendongnya. Dia tidak memperhatikan diriku yang duduk di sebelahnya. Memakai hoodie untuk menutupi sebagian sisi wajahku. Aku sudah seperti artis yang takut dengan paparazzi. Aku menunggu waktu yang tepat untuk mengambil apa saja yang bisa kuambil dari Stella. Aku menyiapkan perlengkapan yang berukuran kecil, yang pas di saku hoodie ku. Aku membutuhkan tes DNA secepatnya. Aku memiliki rasa ingin tahu yang perlu dipuaskan.
Selama tiga jam ke depan aku akan berada di sebelah Kalla. Aku berharap Kalla segera tertidur sehingga aku leluasa melancarkan niatku. Hari sudah malam, banyak orang yang memilih tidur untuk menghabiskan waktu di dalam pesawat. Kalla mengelus-elus rambut anaknya, ia menciumi rambut itu dan terlihat begitu sangat menyayangi anaknya. Memang seharusnya seorang ibu mengasihi anaknya, kan?
“Tidur yang nyenyak, sayang. Mommy akan menjagamu, sampai tidak ada seorangpun yang bisa menyakitimu.” Kalla berbisik di dekat telinga Stella yang sedikit pun tidak bergerak.
Kalla mengusap pipinya dengan sebelah tangannya. Wajahnya merah seperti kepiting rebus, apalagi bagian hidung dan matanya. Aku sudah melepas kacamataku dari tadi. Aku tidak akan ketahuan selama aku tidak membuat hal-hal yang membuat Kalla memperhatikanku. Aku berani melakukannya karena aku yakin kalau Kalla tidak akan peduli denganku. Satu setengah jam kemudian Kalla tidur. Aku masih menunggu sampai dia benar-benar pulas. Aku membiarkan para pramugari hilir mudik. Aku tidak membutuhkan apa-apa, aku ingin tahu kebenarannya. Aku akan membuktikan kalau Vincent salah soal Stella. Stella bukan anakku.
Ada perasaan ragu ketika diriku ingin menjalankan rencanaku. Aku seperti pencuri yang menunggu sang korban lengah.
Hai Romeo, kenapa kau gemetar seperti vacum cleaner? Kamu hanya akan mencabut rambut dan mengambil air liur Stella.
Aku melirik ke kanan dan ke kiri. Hal seperti ini membuatku mengeluarkan keringat dingin. Aku menarik pelan rambut Stella lalu memasukkan ke plastik kecil yang kubawa. Untung saja anak ini tidur dengan mulut terbuka jadi aku mudah mendaratkan cotton bud ke dalam mulutnya untuk mendapatkan sample air liurnya. Tidak sampai lima menit tugasku selesai, dan ini sangat-sangat menegangkan. Stella dan Kalla sangat pulas dan tidak menyadari apa yang sudah kulakukan.
Aku sembunyi di toilet, sebelum Kalla terbangun dari tidurnya. Baru saja pesawat mendarat dan hari sudah sangat larut. Bandara sepi, tidak seramai ketika siang hari. Aku berjalan membuntuti Kalla yang menjinjing tas yang kurasa berisi pakaian. Apakah diriku sudah mirip seekor singa? Berjalan perlahan sambil mengintai mangsanya hingga lengah lalu menerkamnya? Ini seperti bukan diriku.
Seorang laki-laki paruh baya berdiri di depan pintu keluar. Kalla berhenti tiba-tiba, dan berbalik secepat mungkin. Gerakannya yang tiba-tiba memaksaku sembunyi di balik pilar. Kalla ditarik oleh lelaki tua itu, tasnya jatuh dan aku tergerak untuk mengambilnya. Aku ikut mengejar Kalla yang berusaha lepas dari cekalan tangan yang menariknya paksa. Ada apa ini? Siapa lelaki itu? Dan kenapa ketika dia muncul Kalla seperti ingin berlari menghindar?
“Dasar bocah tidak tahu membalas budi!” Lelaki itu menampar Kalla dua kali.
Aku mencari-cari petugas keamanan untuk memisahkan atau menyelamatkan Kalla dan anaknya. Aku tidak menemukan siapa-siapa. Kalau aku ke sana, aku bisa ketahuan.
“Lepaskan aku! Aku tidak berhutang apa-apa kepadamu!”
“Aku mencarimu kemana-mana, kau begitu cerdik.” Laki-laki itu terus menarik Kalla, “tapi setelah ini aku tidak akan melepaskanmu lagi, sampai kapan pun aku akan selalu menemukanmu.” Laki-laki itu tertawa dan aku melihat wajahnya yang mengerikan dengan luka di pipi yang meninggalkan keloid.
Kalla menyentak tangannya agar terlepas dan bisa kabur, ia berhasil terbebas. Stella yang membuatnya tidak bisa bergerak lebih cepat.
Plak. Suara tamparan itu jelas terdengar, lebih keras dari yang pertama. Aku berlari menolong Kalla.
“Aakh……” Kalla dijambak hingga tidak bergerak. Stella bangun dan menangis melihat ibunya disakiti. Stella turun dari gendongannya dan memukul kaki laki-laki itu.
“Anakmu sama mengerikannya denganmu.” Pria itu menarik rambut Kalla hingga tubuhnya terhuyung.
“Lari, Stella!!” Kalla meringis kesakitan mencoba memberontak.
“Security! Tolong!” Berkali-kali aku mengatakan kalimat yang sama, berharap situasi tidak bertambah runyam.
Aku membebaskan Kalla, mencoba menolong sebisanya, aku memukuli pria asing tadi, kemudian petugas keamanan berdatangan untuk menolong kami. Segera orang-orang berkerumun dan membawa laki-laki itu ke pos keamanan dan Kalla tergeletak pingsan.
“Mommy! Mommy!” Stella menjerit.
“Mommy!”
Aku menggendong Kalla yang pingsan, sudut bibirnya berdarah dan pipinya lebam.
“Stella, ikut paman, kita harus menolong Mommy-mu.” Aku membujuk Stella yang menangis.
“Mommy tidak boleh meninggal! Stella takut sendirian!”
“Mommy-mu pingsan, tidak meninggal. Setelah ditolong dokter, Mommy Stella akan sehat kembali.” Aku mencoba menenangkan anak kecil yang menangis.
“Stella sudah tidak punya Daddy, Stella tidak mau kalau Mommy pergi ke surga.” Stella sesengukan menatapku penuh kesedihan.
“Ikut dengan Paman!” Aku berjalan meninggalkan Stella, perlahan Stella mengikutiku. Ada beberapa orang yang membantu kami. Mereka mengarahkan untuk membawa Kalla ke ruang kesehatan. Stella berlari-lari kecil mengikuti, masih dengan tangisan khas anak-anak”
***
“Paman, apa Stella terlalu serakah? Stella tidak apa-apa hanya hidup dengan Mommy, asal Stella terus bersama Mommy.” Aku memandang Stella yang hampir tertidur di sofa panjang. Kalla masih ditangani oleh para medis.
“Mommy akan baik-baik saja. Besok pagi Stella bisa bermain bersama Mommy.” Aku kembali menghibur Stella yang sejak tadi khawatir ditinggal sendirian.
“Benarkah, Paman?”
“Benar.”
“Lebih baik Stella tidur dan bermimpi indah. Apa Stella tidak mengantuk?”
“Stella ingin tidur, tapi Stella takut Mommy meninggal.” Stella tampak murung kembali.
“Ayo kita melihat bintang. Stella ingin Paman gendong? Percaya pada Paman, Mommy Stella akan sehat kembali.”
Aku menggendong Stella dan mengajaknya berkeliling. Stella banyak diam, dan setengah jam kemudian tertidur pulas dalam gendonganku. Aku mengelus-elus rambut Stella yang halus. Mungkin dia lelah karena dari tadi terus menangis dan berbicara yang aneh-aneh.
Rasa penasaran masih terpatri kuat di benakku. Kenapa orang itu sangat kasar kepada Kalla? Dan ketika aku ingin mencari tahu, aku dikagetkan dengan informasi kaburnya orang yang sudah menganiaya Kalla. Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Aku sempat marah-marah kepada petugas bandara yang lalai. Seorang lelaki tua bisa kabur dari penjagaan beberapa orang petugas keamanan bandara. Menurutku ini sangat keterlaluan.