Kalla POV
Aku membuka mata. Kepalaku sakit dan bibirku agak terasa aneh ketika digerakkan sedikit. Ini terasa menyakitkan.
“Mommy.” Stella memelukku. Syukurlah anakku baik-baik saja.
Aku memandangi Romeo yang berdiri tidak jauh dari kami. “Terima kasih, sudah menolongku.” Jujur aku tidak ikhlas ketika mengucapkannya. Aku benci terlihat lemah di depannya. Aku ingat saat Romeo tiba-tiba muncul semalam.
“Tidak usah banyak berbicara dulu, bibirmu akan semakin sakit kalau kau memaksanya.”
Dia meninggalkanku berdua bersama Stella yang tidak mau lepas dari tubuhku. Anakku takut aku pingsan lagi. Aku ingat bagaimana semalam lelaki tua itu memperlakukanku. Dia ayahku. Ayahku itu seorang penjahat. Dia mencari-cari kami, tapi baru kemarin malam dia menemukanku lagi. Aku akan pindah secepat mungkin, demi anakku. Aku takut anakku akan menderita, ayahku itu bukan lelaki yang baik. Aku sering melihat ayahku memukuli ibuku dan aku juga pernah merasakan bagaimana rasanya. Kupikir setelah sekian tahun dia tidak akan pernah muncul lagi di hadapanku.
Aku menyingkap selimut, kakiku diperban. Aku menggeser tubuhku agar bisa setengah duduk. Badanku rasanya remuk. Kepalaku berdentam-dentam, efek dari rambut yang ditarik begitu keras. Aku meringis setiap melakukan pergerakan. Stella melihatiku dalam diam.
“Mommy sakit lagi?”
“Tidak, hanya perlu istirahat sebentar.” Aku mengelus puncak kepala Stella penuh rasa sayang. Anakku sangat perhatian.
Pergelangan tangan kananku memar, keningku di plester, pipiku agak bengkak. Nyeri ketika kugunakan untuk mengelus-elus rambut anakku. Dari sekian milyar penduduk di muka bumi, kenapa diriku harus diselamatkan oleh Romeo? Aku benci jika skenario hidupku harus berakhir seperti ini.
Mataku menjelajah ke kamar besar yang memperlihatkan ruang tamu dan dapur dari dinding kaca bening yang membatasi setiap ruangan. Stella tampak seperti biasa, manja kepadaku.
“Stella sudah makan?”
“Sudah, Paman Romeo memberiku banyak stroberi.” Anakku tampak riang. Stella memang seperti itu jika diberi buah favoritnya dalam ukuran yang membuat bahagia. “Paman memiliki banyak sekali stroberi di kulkasnya.” Stella berbisik.
“Sudah mandi?” tanyaku lagi.
“Sudah.” Stella sudah tidak memakai bajunya yang semalam.
Stella ikut bersandar di bantalku. Dia sedang bercerita tentang Romeo yang baik, yang memiliki banyak stroberi, yang memiliki piano besar. Aku melihat segala tingkah polah Romeo di dapur minimalisnya. Aku meneliti setiap sudut yang bisa kulihat. Penataan barang yang efisien dan terkesan dingin. Hanya ada beberapa pot berisi tanaman yang menandakan kalau tempat ini adalah sebuah hunian untuk manusia.
Hanya ada warna hitam dan putih. Memang seperti ini dekorasi yang sering diminati, serta banyak diburu oleh para eksekutif muda. Sudah bertahun-tahun aku menjual apartemen sejenis ini kepada beberapa lelaki yang rata-rata berprofesi sebagai direktur atau pengusaha dengan penghasilan sebulan yang angkanya melebihi gajiku setahun.
Aku masih memikirkan bagaimana caraku bersikap di depan Romeo. Kecanggungan ini tiba-tiba terjalin dan terasa begitu memuakkan.
“Makanlah dulu.” Romeo menyuruhku memakan sup ayam yang ia bawa dengan muka datarnya. “Bisa makan sendiri.” Ini pertanyaan atau pernyataan sulit dibedakan olehku. Romeo tampak tidak ikhlas kalau aku berlama-lama di tempatnya. Apa aku ingin berada di posisi seperti ini. Aku masih tidak mengerti kenapa Romeo membawa kami ke apartemennya.
“Aku bisa sendiri.” Dia membawa Stella pergi untuk memberiku waktu untuk makan. Aku mencari jam dan melihat dengan seksama, ternyata hari sudah sangat siang. Aku tidak sadarkan diri cukup lama dari yang kubayangkan beberapa waktu yang lalu.
Aku memegang sendok dengan tangan kiriku. Tangan kananku masih sakit. Stella tampak akrab dengan ayahnya. Mereka sedang membuat jus. Stella sedang berhitung dengan buah-buah berwarna merah yang ia masukkan ke dalam juicer. Dadaku terasa sesak, tapi aku tidak boleh menangis saat ini.
Aku membuka mulut dan mengunyah makanan perlahan. Mungkin hanya ayahku saja yang tega menampar dan memukuli anak kandungnya. Bagaimana ibuku bisa bertemu dengan ayahku itu? Jika benar karena cinta, ternyata cinta itu bisa membuat perempuan menjadi bodoh. Memang cinta itu membuat bodoh.
Aku melihat mereka. Romeo dan Stella terlibat suatu perlombaan. Mereka sedang beradu menjadi yang tercepat menghabiskan jus mereka. Ketika mereka tertawa bersama aku cukup miris melihatnya. Aku ingin mengatakan kalau Stella adalah putrinya. Aku menatap langit-langit yang tampak kokoh menggantung di atas sana. Aku meneteskan air mata. Gisella itu orang yang dicintai oleh Romeo. Aku takut kalau kami hanya akan menambah rumit keadaan. Ya, begini lebih baik. Ini demi kebaikan semua orang.
Aku menyimpan perasaanku untuk diriku sendiri dan juga untuk Stella. Membenci Romeo adalah pilihan hidupku. Aku akan segera pulang dari sini dan menjauhkan Stella dari Romeo juga ayahku. Mereka berbahaya bagi kami. Mungkin sewaktu-waktu Ayahku menemukan kami, aku takut Stella dijual dan aku dijadikan budaknya.
Aku menandaskan makananku, tidak lagi memikirkan kesedihanku. Aku harus kuat, untuk menjaga Stella.
Aku tidak pernah tahu kemana takdir akan menuntunku. Aku sekarang tidak sendiri lagi. Stella adalah tanggung jawabku. Aku berharap kalau Stella bisa hidup lebih baik daripada diriku, yang selalu disiksa oleh ayahku dan hidup bersembunyi agar ayahku tidak tahu di mana aku dan ibuku berada.
Aku meletakkan mangkok ke samping. Ada space yang cukup di atas nakas. Aku kembali ke posisi tidurku lagi. Kepalaku makin pening ketika memikirkan tentang ayahku yang muncul semalam. Suara tawa Stella terdengar nyaring dan mereka berdua sudah pindah ke tempat lain. Aku tidak bisa melihat Stella. Tubuhnya ditutupi oleh Romeo. Mereka sedang bermain piano bersama. Nadanya rumit, aku tidak tahu itu termasuk karya Mozart, Chopin, atau pachelbel. Aku belum pernah mendengarnya.
Romeo orang yang baik jika dilihat saat ini, tapi aku akan mengutuknya beribu-ribu kali ketika ingat dia mengatakan kalau aku hanya taruhannya saja. Lagi-lagi luka hatiku menyadarkan diriku kalau dia bukan lagi milikku.
Romeo POV
Aku memainkan Mariage D’amour yang ciptakan oleh Richard Clayderman, itu pun kalau aku tidak salah. Aku bukan musisi atau pianis terkenal. Aku memainkannya asal. Aku harus membuka buku musikku lagi, kalau aku memiliki waktu luang tentunya. Aku pun bingung kapan akan melakukannya. Stella tampak tenang melihat permainanku dan mendengarkan. Tes DNA itu akan keluar hasilnya antara dua sampai tiga hari ke depan. Ini membuatku berdebar. Aku yakin Stella bukan anakku.
Aku masih bingung perihal lelaki yang menarik Kalla dengan penuh paksaan. Aku masih tidak tega mengajaknya mengobrol. Aku membiarkannya beristirahat. Aku melihatnya sedang tidur setelah menyelesaikan makanannya. Dia pasti sangat membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya.
Stella Rei anak yang luar biasa, tidak butuh waktu lama untuk membuatnya bisa memainkan beberapa bait lagu yang kumainkan, meskipun tidak sampai selesai. Daya ingatnya patut diacungi jempol.