“Paman punya banyak stroberi, boleh Stella minta lagi.” Stella tersenyum malu-malu.
“Tentu saja, Paman punya banyak.” Stella bertepuk tangan girang setelah kuperbolehkan untuk makan lagi.
Hening.
“Paman.”
“Apa, Sayang?”
“Apa surga itu jauh?” Stella tampak ragu dan khawatir. Aku tidak menyangka jika akan diberikan pertanyaan seperti ini.
“Memangnya kenapa?”
“Daddy Stella ada di sana.” Stella tertawa menampakkan gigi serinya. “Kata Mommy, Daddy senang berada di sana bersama dengan orang-orang baik yang sudah meninggal.” Stella merindukan ayahnya.
“Stella harus jadi anak yang baik, supaya Daddy Stella senang.” Stella mengangguk-angguk menyetujui. Bahasan macam apa yang sedang kubangun bersama dengan Stella?
“Stella ingin sekali pergi ke surga, supaya bisa bertemu Daddy.” Stella tertawa dengan wajah polosnya. Apa anak ini tidak tahu kalau ke surga sama dengan mati?
“Padahal Stella bisa pergi ke taman bermain daripada ke surga.”
“Taman bermain? Apakah di sana ada Daddy Stella?”
“Tidak ada.”
“Yaaah … kalau begitu Stella di rumah Paman Romeo saja menghabiskan stroberi.” Stella tampak kecewa.
“Ayo kita mencari stroberi!” Aku menggendong Stella dan membawanya ke dapur. Aku tidak ingin melihatnya sedih. Hatiku ikut sakit saat melihatnya cemberut.
Entah makanan jenis apa yang diberikan Kalla kepada anaknya. Stella sangat pintar dan berbakat diusianya yang masih sangat bocah. Aku seperti bercakap-cakap dengan David yang berumur tujuh tahun lebih. Bedanya, David lebih memiliki banyak kosakata dan lebih ekspresif daripada Stella. Ayolah, apa yang kuharapkan dari bocah berumur empat tahun, yang belum bisa membersihkan punggungnya sendiri?
Stella yang sudah mahir bermain piano dan bercakap-cakap adalah keajaiban. Aku penasaran sejak kapan Stella berlatih bermain piano kalau umur empat tahun dia sudah semahir ini? Tidak mungkin Kalla memberikan les tambahan ketika anaknya baru lahir, kan?
Aku membuka lemari es dan mengambil makanan yang disukai oleh Stella. Dari tadi anak ini menguap, memang sudah waktunya tidur siang. Mungkin Stella sudah biasa tidur di siang hari. Aku menggendong Stella, dia anak yang cantik dan aku sudah menyayanginya seperti menyayangi keponakanku sendiri. Aku menidurkannya di samping Kalla yang terlelap.
Aku bisa gila, kenapa juga aku harus menampung Kalla di tempatku? Semuanya terjadi begitu saja dan aku tidak tahu sejak kapan aku merasakan perasaan hangat yang muncul di dadaku. Pasti ada yang tidak benar.
Mataku terkunci pada sosok cantik di depanku. Saat melihat Kalla membuka matanya, aku tidak tahu apa yang seharusnya kukatakan kepadanya. “Sorry, aku membuatmu bangun, tidurlah lagi. Aku tidak akan mengganggumu.”
“Terima kasih, Rom.” Bisiknya lirih.
“Tinggallah beberapa hari lagi sampai kau sembuh.”
“Besok pagi aku akan pulang ke rumahku. Aku tidak mau merepotkanmu.” Kalla mungkin dalam keadaan setengah sadar. Kalla lebih jinak daripada beberapa waktu yang lalu.
“Baiklah, besok aku antar.”
“Tidak usah, aku bisa melakukannya sendiri.” Kalla menolak.
“Dengan kaki yang terkilir, bagaimana kau berjalan?”
“Aku bisa, aku pernah melalui hari yang lebih merepotkan dari kaki yang terkilir dan aku baik-baik saja.” Kalla tampak sedang memikirkan sesuatu. Sebenarnya apa yang sedang dirasakan oleh wanita di depanku ini? Kalla terasa sangat jauh dari jangkauanku. Apa ini hanya perasaanku saja?
“Kau itu keras kepala, aku tidak pernah mendengarmu menolakku sebelumnya.”
“Itu masa lalu. Aku memang Kalla Rei yang sama, tapi aku sudah banyak berubah.”
“Kehidupan yang membuatmu berubah?”
“Apa pedulimu? Kalau kau peduli mungkin dari dulu kau sudah menikah denganku dan memiliki beberapa orang anak, tapi aku lebih suka yang seperti ini. Apa yang pernah kau katakan kepadaku sepertinya tidak berlaku lagi, bukan?” Kalla tersenyum sinis dan aku benci melihatnya seperti ini. Dia baru saja menyindirku.
“Itu hanya masa lalu, kau belum memaafkanku?”
“Mudah untuk memaafkan, tapi sangat sulit untuk melupakan. Aku senang kita bertemu lagi. Paling tidak kita bisa saling sepakat untuk menghindar satu sama lain. Jujur aku tidak suka berdekatan denganmu, kecuali dalam keadaan terpaksa seperti sekarang ini.”
“Anggap saja aku sedang menebus kesalahanku di masa lalu.” Sepertinya Kalla tidak bisa memaafkan perbuatan jahatku dulu. Entah kenapa ini sangat menyakitkan untuk kurasakan saat ini.
“Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita.” Kalla berkata tegas kepadaku.
“Aku pastikan ini adalah pertemuan kita yang terakhir. Aku tidak suka berdekatan denganmu.” Padahal aku ingin memohon agar dia mau memaafkanku, tapi malah kalimat itu yang keluar dari mulutku. Sebenarnya aku tidak ingin mengatakannya.
“Aku juga begitu. Aku memiliki kehidupan sendiri, begitu juga dengan dirimu. Alangkah lebih baik kalau kita berjalan sendiri-sendiri dan tidak saling mengenal meskipun kita bertemu.”
“Terserah.” Apa peduliku? Lagipula selama ini diriku baik-baik saja tanpa Kalla. Memangnya siapa dirinya? Berani sekali berkata seperti itu.
Aku meninggalkan Kalla dan Stella. Aku ingin menghancurkan apa saja. Dia sangat melukai hatiku. Kalla Rei adalah sosok yang sama sekali tidak tahu berterima kasih. Aku tahu kalau dia sangat membenciku, tapi untuk apa membawa-bawa soal pertemuan terakhir segala. Ini membuatku jengkel setengah mati kepadanya. Siapa dia? Dia sangat keterlaluan di depanku. Kalla hanya seorang janda dengan satu orang anak. Bahkan aku belum menanyakan siapa laki-laki tua yang manariknya di bandara. Sialan.
Keingintahuanku membuatku kembali lagi ke kamar Kalla, dengan pura-pura mengambil suatu benda di laci kamarku. Kalla masih menatapku tajam.
“Aku hanya ingin mengambil sesuatu.” Kataku datar.
“Oh.”
Sialan, Kalla benar-benar menganggapku seperti sesuatu yang tidak penting.
“Siapa laki-laki semalam?” Sialan. Kenapa mulutku suka mengatakan sesuatu tanpa kusadari?
Hening. Kalla tampak berpikir. Mungkin Kalla tidak akan membagikan masalahnya.
“Ayahku. Kenapa?”
“Kenapa dia sadis sekali?”
“Aku melakukan kesalahan dan dia menghukumku, aku rasa ini normal.”
“Lalu kenapa kau menyuruh Stella untuk lari? Aku tahu ini janggal.”
“Aku tidak suka kau peduli kepadaku?” Lagi-lagi Kalla berkata dengan nada penuh kebenciannya. Seharusnya aku tidak perlu bertanya.
***
Sesuai keinginannya pagi-pagi sekali aku mengantarnya pulang ke rumah yang sama. Aku pikir Kalla tinggal di rumah almarhum suaminya. Perbedaannya adalah sekarang rumah Kalla memiliki ayunan yang dicat merah. Itu ada mungkin sejak Stella kecil bisa memainkannya. Sejak tadi pikiranku teralihkan ke arah Stella. Anak bernama Stella itu sangat menyukai buah stroberi. Ia sangat tenang selama perjalanan dan dari tadi ia menggigit sedikit demi sedikit buahnya, seperti takut kalau makanannya cepat habis.
Aku membantu Kalla masuk ke rumah dengan menuntunnya.
“Kakek!” Stella berlari menuju seorang lelaki tua yang disebutnya kakek. Aku seperti pernah melihat wajah itu, tapi entah di mana.
“Sudah, sampai di sini saja, terima kasih banyak.” Kalla mengusirku.
Aku yang tahu diri segera berpamitan dan kembali ke apartemenku. Aku sedang tidak mood bekerja hari ini. Mungkin mood ku akan membaik setelah membantai orang. Mengetahui sikap Kalla yang seperti itu kepadaku membuat diriku merasa sangat bersalah sekaligus jengkel.