Kalla POV
Flashback On
“Kau sedang apa di sini?” Aku berbisik dan menutup buku yang k****a. “Dilarang berisik kalau berada di perpustakaan.”
“Mencarimu. Aku merindukanmu.” Romeo menatapku berbinar-binar.
Sejak berkenalan dengannya karena aku pernah menabraknya, menjadikan hubungan kami semakin dekat. Kami berpacaran sekarang. Aku menerima pernyataan cintanya. Aku bahagia sekali. Agak aneh, ketika Romeo yang digilai banyak orang menyatakan cintanya kepadaku. Aku berharap hubungan ini bisa berlangsung selamanya.
Aku mengerti kalau Romeo itu bukan pria baik-baik. Romeo terlalu playboy, itu sama saja membuatku harus siap-siap patah hati suatu hari nanti. Meskipun aku berharap kalau Romeo bisa sembuh dari penyakit mata keranjangnya.
Aku merasa kecil di depannya, aku tidak sama seperti teman-temannya yang berasal dari keluarga kaya raya. Aku takut kalau hubungan kami akan sia-sia. Semoga Romeo tulus mencintaiku dan akan terus bersamaku. Aku berani mengambil risiko. Semuanya serba mungkin, aku perlu mencoba untuk tahu bagaimana hasilnya. Romeo baik dan aku langsung terjebak di dalam cinta yang dia bangun untukku. Semua ini terjadi begitu saja dan aku merasa nyaman di dalamnya.
Dia seangkatan denganku berbeda jurusan. Sejak awal melihatnya aku memang sudah tertarik. Seorang pangeran tampan dari keluarga kaya raya, itu kesan pertama yang kulihat. Benda-benda bermerk terkenal melekat di badannya. Tanpa menggunakan pakaian yang bagus aku akui kalau dia tetap mempesona, tapi sayang ia pemalas, karena ia menganggap kalau hidupnya akan baik-baik saja tanpa harus bekerja keras apalagi berusaha.
“Kita mau kemana?” Aku masih berbisik.
Romeo menarikku, “mencari buku, tolong bantu aku.”
Gara-gara suaranya yang lantang aku menampakkan wajah meminta maaf kepada orang-orang yang menatap kami karena gangguan yang kami lakukan. Bukan aku yang salah, tapi Romeo. Romeo tidak pantas mencari buku atau belajar, dia lebih cocok mencari wanita di club malam.
“Kita aman.” Romeo menyeringai dan menghimpitku di rak buku paling ujung yang jarang dijamah orang.
Dia melumat bibirku tiba-tiba.
Berciuman di perpustakaan, memimpikannya saja aku tidak berani. Romeo menciumi bibirku penuh gairah. Aku meronta karena takut ketahuan melakukan kegiatan tidak senonoh di kampus, tapi gagal, karena Romeo mencengkeram kedua tanganku erat-erat.
Romeo adalah lelaki pertama yang melumat bibirku sedalam ini. Setelah menjelajah dan mencicipi, lidah Romeo mulai membelai masuk dan membuatku meloloskan suara aneh. Semua ini begitu mengejutkan. Romeo terus memagut hingga terdengar suara desahan napas yang memburu.
Romeo melonggarkan cengkeramannya dan menjauhiku. Dia tersenyum dan wajahku terasa panas. Aku terengah-engah hanya karena ciuman Romeo yang menurutku penuh nafsu. Romeo akan selalu jadi yang pertama dalam hidupku.
“Bagaimana ciumanku? Padahal aku ingin berlama-lama, tapi aku harus pergi. Sampai jumpa senin depan, aku akan pergi berlibur bersama kakakku. Take care, Kalla.” Romeo mengecup keningku dan merapikan rambutku yang sedikit berantakan.
Aku tidak bisa berkata-kata, seluruh kalimatku menghilang bersamaan dengan tubuh Romeo yang lenyap diantara rak-rak buku besar yang berdiri begitu besar dan angkuh. Aku tidak merasakan kepakan ribuan sayap di perutku, yang aku rasakan sekarang adalah ingin melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman. Aku ingin memeluknya dan bergelayut di lehernya.
Aku menemukan gelang handmade yang jatuh ke lantai. Ini milik Romeo, dan aku memungutnya. Aku berniat mengembalikannya besok Senin, ketika aku bertemu lagi dengannya.
Flashback Off
Aku memasukkan gelang yang mengintip dari laci di meja belajarku. Gelang milik Romeo Evans yang lupa tidak kukembalikan. Aku tidak yakin kalau Romeo akan mencari barangnya ini. Gelang ini sudah berada di kamar ini cukup lama. Aku menaruh gelang itu ke kardus, bersama dengan barang-barang pemberian Romeo. Setelah sekian lama aku baru mengurusi barang-barang tidak penting ini. Romeo hanya masa lalu. Aku berniat mengeposkan semua barang-barang itu ke apartemen Romeo. Sudah saatnya aku hidup dengan hal-hal yang baru.
Stella membantuku dengan memasukan mainannya ke dalam kardus, secepatnya kami akan meninggalkan rumah dan menetap bersama Samantha. Rumahku sudah tidak aman lagi, ayahku bisa sewaktu-waktu menculik anakku. Di dekat rumah Samantha ada yang menyewakan sebuah rumah. Aku dan Stella akan tinggal di sana. Paman dan Bibi juga menetap si sana.
Kaki yang diperban bukan alasan untuk tidak membereskan semuanya. Paman Louis membantuku mengemasi barang-barang yang memang diperlukan. Stella tampak sedih, karena dia tidak bisa mengucapkan selamat tinggal kepada teman-temannya di sekolah. Aku meminta Paman Louis untuk berpamitan kepada guru-guru di sekolah anakku.
***
Jasa pindahan baru saja datang, mereka sedang membantu kami memasukkan barang-barang ke dalam mobil. Aku meminta Paman Louis untuk mengantar barangku ke kantor ekspedisi. Paman Louis sebenarnya bisa mengantarkan kardus itu ke tempat Romeo, tapi aku tidak mengizinkannya.
Kami menempuh perjalanan di waktu sore hari, Stella tidur di kursinya dan aku mengendarai mobilku dengan kaki yang masih sedikit sakit. Paman Louis marah-marah tadi, tapi ia harus ke rumah sakit karena saudaranya kecelakaan. Akhirnya Paman mengalah dan aku mengendarai mobil sekarang. Aku akan berhenti ketika kakiku lelah. Lebih cepat pindah lebih baik.
Aku melirik Stella yang lelah karena dia tidak tidur siang hari ini. Stella sangat lelap memeluk beruang kesayangannya. Satu-satunya barang yang tidak aku kembalikan kepada Romeo adalah beruang yang dipeluk oleh anakku. Romeo akan melupakannya, aku dan segala pemberiannya adalah sesuatu yang tidak akan ia ingat. Kalau bukan karena anakku yang tidak bisa tidur tanpa boneka terkutuk itu, aku pasti sudah menaruh beruang itu ke kardus dan mengirimnya ke rumah pemilik sesungguhnya.
Aku ingin lepas dari bayang-bayang Romeo Evans, tapi selalu gagal. Stella Rei adalah replika dirinya dan diriku. Mustahil kalau aku bisa melupakan ayah dari anakku sendiri. Aku tidak sadar kalau dari tadi menangis. Tidak ada gunanya menangisi kenyataan pahit yang harus kutelan bulat-bulat. Jalani saja, suatu hari nanti aku pasti bisa melupakan Romeo.
Aku membatalkan wawancara dengan sebuah stasiun televisi. Apa yang harus kulakukan? aku tidak mungkin menyembunyikan bakat putriku. Ayahku itu sangat mengerikan. Aku sudah pergi sejauh ini, tapi aku masih saja ketakutan kalau ayahku akan kembali dan menyiksa kami. Aku terpaksa tidak mendaftarkan Stella ke taman bermain terlebih dahulu. Menunggu dan memastikan kalau ayahku tidak menemukan kami. Bisa gila diriku kalau tahu anakku diculik.
Aku keluar dari pekerjaanku dan diterima kerja menjadi seorang pelayan di restoran. Gajinya tidak besar seperti pekerjaanku yang dulu. Aku bisa menjual rumahku nanti. Begini lebih baik, daripada nyawa anakku yang dipertaruhkan. Stella sudah lebih baik dari pada hari pertama di tempatnya yang baru. Selama ada piano dan stroberi anakku akan melupakan segalanya. Aku tahu kalau Stella ingin berangkat sekolah dan bermain. Anakku selalu meminta kembali ke sekolah lamanya, ia ingin bermain bersama David.