Dia Berubah

1700 Kata
Romeo POV Di parkiran aku sedang menunggu driver yang katanya ingin ke toilet. Aku memainkan smartphone, kegiatanku memang itu-itu saja, dan kegiatan rutin itu sungguh menyita waktu sekaligus semua pikiranku. Aku menghela napas kemudian meletakkan benda yang kupegang sedari tadi di sebelahku. Aku mencari-cari driver yang tidak kunjung kembali, padahal dia harus mengantarkanku ke kantor lagi. Aku melihat dari balik kaca mobil yang gelap, ada seorang wanita yang sedang menggendong anaknya yang tertidur pulas. Dia begitu kerepotan membawa sekantong besar belanjaannya sambil tangan yang satunya memeluk anaknya. Tiba-tiba tubuhnya oleng, aku memperhatikan kalau hak tingginya patah sebelah. Tanpa menunduk, ia melepas sepatunya dengan bantuan kaki yang lain, manurutku ia takut membangunkan anak di gendongannya. Lampu mobil berkedip, wanita itu menidurkan anaknya di jok depan. Melempar barang belanjaannya ke jok belakang dan wanita itu kembali memungut sepatu yang ia tinggalkan tadi. Ketika kulihat lebih seksama, aku seperti mengenalinya. Butuh waktu beberapa detik untuk mengingat kembali wajah Kalla Rei. Benar, dia Kalla, wanita yang membuatku bangkrut. Aku mengamati mobilnya yang menghilang. Aku menemukan Kalla Rei dalam keadaan yang sudah berkeluarga. Aku yakin itu anaknya. Bodoh sekali suaminya yang membiarkan istrinya melakukan pekerjaan yang bisa membahayakan anaknya. Untung tadi dia tidak kehilangan keseimbangannya. Dan mengapa aku mempedulikannya? Dia sudah menjadi masa lalu. “Maaf Tuan.” Driver-ku sudah kembali. “Hmn.” Aku kembali menenangkan pikiranku. Mobil berjalan dan aku kembali melihat Kalla yang sedang masuk ke toko buah-buahan pinggir jalan dengan senyum ceria. Setelah sekian tahun, aku berharap kalau Kalla menjadi buruk rupa sehingga diriku tidak akan menyesal telah mencampakkannya. Akan tetapi, ketika melihatnya hari ini, dia malah terlihat lebih baik dari beberapa tahun yang lalu. Hei, kenapa aku harus peduli dengan orang yang sudah membuatku malu? Ini adalah suatu kesalahan. Ini tidak seharusnya terjadi. Flashback on “Kamu senang?” “Aku lebih senang lagi kalau kita bisa bersama-sama selamanya.” Kalla memelukku erat. Aku mencium aroma rambutnya yang wangi sekali. Aku mengajak Kalla singgah di villa-ku untuk waktu dua hari. Selama dua hari itu kami melakukan berbagai macam hal yang menyenangkan. Kami berenang, memasak bersama, menonton tv, jalan-jalan, memancing, dan bercinta. “Aku mencintaimu, Kalla.” “Aku juga. Aku sangat mencintaimu, Romeo.” “Seharusnya namamu Juliet agar kita menjadi pasangan serasi.” Kalla terkikik geli dan mencubit lenganku. “Aku tidak mau mati sebelum kita memiliki anak dan cucu.” “Kadang kau ini pintar.” “Aku memang pintar, buktinya sebentar lagi aku akan diwisuda, kamu kapan?” “Jangan menanyakan hal itu, aku sangat menikmati masa-masa remajaku.” “Ah, sayang sekali, padahal aku ingin lulus di waktu yang sama denganmu. Ternyata kau itu bodoh, ya?” Kalla mengejekku dengan kerlingan jahilnya. “Aku tidak bodoh, Kalla. Sungguh aku tidak bodoh.” “Mau sampai kapan kau menyelesaikan pendidikanmu? Lima tahun lagi?” “Kau melukai harga diriku.” Aku mendengus kesal. Hampir semua orang yang dekat denganku akan mencemoohku mengenai tingkat kebodohanku dalam mata pelajaran. “Hentikan, Rom. Geli.” Kalla memukuli punggungku gara-gara aku menggigit lehernya hingga menimbulkan bercak merah di sana. “Siapa suruh menyindirku terus.” Aku kembali mencumbu Kalla hingga dari mulutnya hanya terdengar desahan yang membuatku semakin bersemangat bercinta dengannya. Ini sangat menyenangkan. Flashback Off Kenapa juga harus bayangan masa lalu yang tiba-tiba muncul ke dalam pikiranku yang kusut ini? Sadarlah kalau Kalla sudah memiliki hidup yang lebih baik sekarang. Aku rasa Kalla akan menghajarku kalau tidak sengaja muncul di depannya. Aku masih ingat bagaimana wajahnya ketika memutuskanku. Kalla Rei seperti macan yang sedang ingin menyantap sarapannya. Jangan katakan kalau aku menyesal? Aku tidak menyesal sama sekali. Kalla Rei itu tidak penting bagi hidupmu, Rom. Sadarlah masih banyak wanita yang lebih dari segalanya daripada Kalla Rei yang hanya gadis dari kasta rendahan dan mudah dibohongi. Masih banyak wanita yang lebih menarik daripada Kalla Rei. Sebuah bisikan datang. Akan tetapi, aku masih menginginkannya lagi untuk diriku sendiri. Tidak. apa yang sedang kualami? Sebenarnya apa yang sedang kupikirkan? “Apa Tuan baik-baik saja?” driver-ku menyadarkanku kalau diriku masih berada di dalam mobil dengan pikiran kusut kemana-mana. “Hanya memikirkan sesuatu.” Jawabku tanpa sadar. “Oh begitu, sepertinya sangat berat?” “TUTUP MULUTMU ATAU KAU KUPECAT?” Driver-ku kembali bungkam dengan ketakutan yang tercetak jelas di wajahnya. Aku tidak suka kalau ada yang menggangu apalagi mengusik diriku. Siapa dia, berani-beraninya berkomentar atas hidupku. Baiklah, aku sedang butuh ketenangan. Sepertinya pikiranku kacau karena kurang tidur. Mungkin setelah tidur beberapa jam aku akan kembali seperti semula. Aku mungkin perlu mengkonsumsi vitamin dan mineral agar keseimbangan pikiranku terjaga. *** “Gisel, kau mau apa lagi?” Aku jengah melihat Gisel yang melenggang dengan pakaian kurang bahannya. Dengan anggun yang dibuat-buat dia berjalan memasuki ruangan kerjaku. “Sayang, aku sangat merindukanmu.” Seperti biasa dia akan menyerukan kebohongannya. Sejak kapan dia merindukanku? “Apa tidak jelas kalau kita sudah sepakat untuk mengakhiri semuanya. Hiduplah dengan layak bersama pria lainnya.” “Aku tidak pernah menyetujuinya.” Gisella mendekatiku dan meraba-raba wajahku sambil duduk di pangkuanku. Benar-benar menggangu. “Aku sibuk, bisa tidak kau pergi dan tidak menggangguku.” Aku berdiri dan mencari tempat duduk yang lain. Berusaha menyingkirkannya agar tidak terlalu dekat dengan tubuhku. Aku berjalan ke arah sofa dan dia dengan tidak tahu malu mengikuti pergerakanku. “Ayolah, jangan terlalu sibuk. Kau perlu beristirahat. Aku tidak mau kau cepat tua gara-gara terus-menerus bekerja. Meskipun mulutmu mengusirku, aku tahu kalau hatimu hanya untukku. Kau tidak melupakan kita yang dulu, kan?” “Kita sudah putus, Gisel.” Aku mengingatkan kembali kalau aku sudah putus dengannya sejak dua bulan yang lalu. “Jangan berada di sekitarku terus, aku ingin kita menjadi saudara atau teman. Kau paham kalau kita memiliki jalan sendiri-sendiri sekarang.” Aku menyandarkan kepalaku yang pening, dan semakin pening ketika Gisel masuk ke ruanganku. “Kenapa harus aku yang menangis? Kenapa harus aku yang merasa sedih? Apa aku salah jika menginginkanmu untuk mencintaiku? Bukannya kau mengatakan sendiri kalau aku adalah cinta pertamamu? Kenapa kau melupakan semuanya disaat aku membutuhkanmu?” Gisel mengeluarkan air matanya. Drama pun dimulai dan diriku langsung terpojokkan. Aku menghela napas, kenapa jadi sesulit ini. Wanita dengan air matanya merupakan hal yang sangat aku benci. Lama-lama aku bisa gila. “Bisa kalau kita tidak usah membahas masa lalu? Apa kurangnya diriku? Bukannya selama ini segala keinginanmu sudah kuturuti? Dulu aku memang mencintaimu tapi cinta macam apa yang ingin kau berikan kepadaku? Aku anggap lunas. Aku sudah sangat membantumu dalam banyak hal. Kau tidak melupakannya, kan? Apa segala materi yang kuberikan tidak cukup membuatmu puas?” Kali ini aku benar-benar muak. “Aku membencimu, Rom! Aku tulus mencintaimu, tapi malah kau patahkan hatiku.” Gisel meninggalkan ruanganku dengan air matanya yang aku rasa akan jatuh dan berpotensi membanjiri lantai kantorku. Brak. Pintu ruanganku dibanting cukup keras. Apa dia tidak tahu betapa susahnya memilih kayu terbaik dan betapa rumitnya memproses kayu menjadi pintu yang kokoh? Apa dia tidak mengerti berapa lama diriku bekerja hanya untuk memenuhi keinginannya? Sejak kapan Gisel tulus mencintaiku? Dulu mungkin. Dua bulan yang lalu aku melihatnya b******u dengan pria lain. Katanya dia menjadikanku satu-satunya dalam hidupnya, tapi dia mendua di belakangku. Aku diam dan memilih mengakhiri hubungan. Misal aku masih baik kepadanya, itu karena ingin membalas semua kebaikannya dulu. Gisella yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Aku tahu kalau waktu bisa merubah siapa saja. Aku hanya tidak menyangka waktu yang kami lalui bersama malah membuatnya makin jauh dari jangkauanku. Aku tidak mencintai kecantikannya, aku mencintai ketulusannya. Cantik itu bisa hilang ketika kulit terluka atau menua, tapi ketulusan tidak akan berubah sampai ajal di depan mata. Ini yang kusayangkan. Disaat aku mantap untuk berumah tangga, Gisel makin tidak kukenali. Aku ingin Gisellaku kembali lagi, tapi itu tidak mungkin. Bagi seorang Romeo Evans, mudah mendapatkan wanita manapun. Stok wanita di dunia bahkan lebih banyak daripada jumlah prianya. Tidak mungkin aku tidak kebagian. Apa perlu diriku keluar dari Benua Hijau untuk menemukan wanita yang mencintaiku dengan sepenuh hati? Aku bisa saja menjelajahi Benua Amerika bahkan Asia. Aku memiliki uang yang cukup. Akan tetapi, aku masih merasakan kesakitan ini. Aku tidak bisa membayangkan rumah tanggaku bersama dengan Gisella. Kehidupan bahagia selamanya seperti sebuah mimpi bagi kami. Impossible, mimpiku menjadi kenyataan. Sebejat-bejatnya seorang lelaki pasti ingin hidup bahagia dengan wanita yang dicintainya. Jangan ditanya kadar cintaku kepada Gisel, aku sangat mencintainya. Kalau aku tidak mencintainya, selama dua bulan ini tidak mungkin aku masih mengiriminya uang bulanan dan mencukupi kebutuhannya. Gisella tidak mengerti perasaanku. Kalau aku tidak mencintainya, aku yakin sudah membunuh lelaki-lelaki itu bersama dengan Gisel sekaligus. Selama ini aku menahannya sendiri. Aku berhutang nyawa kepadanya. Nyawaku itu mahal dan Gisel mampu menjaganya. Karena aku menghargai nyawaku, aku mencoba bersikap baik dan tidak melukai Gisella. Akan tetapi, dia tidak mengerti tentang semua itu. Aku bisa kasar kepada siapa saja, tapi tidak pernah bisa menentukan sikapku di depan Gisel dan kedua orang tuaku. Aku merasa tidak pernah bisa menjadi diriku sendiri. Aku kehilangan identitas sebagai orang yang berkuasa dan berpengaruh. Wanita itu racun, cinta itu racun, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku mendadak buntu jika mengingat genggaman erat Gisel saat berlari bersamaku. Dulu sekali, aku pernah merasa aman bersamanya. Masih teringat jelas ketika kami berlari dan bersembunyi. Mencoba menyelamatkan diri dari kejaran orang-orang jahat yang ingin menculikku. Saat aku disekap selama dua hari, Gisel yang menyuruhku untuk memakan makanan yang disediakan oleh para penculik itu. Dia mengendap-endap dan mengatakan kalau dia akan membebaskanku. Dia tidak melepaskan ikatan di kakiku, karena dia tidak mau kami ketahuan. Setiap menjelang malam, Gisella akan menghapus air mataku yang jatuh karena ingin segera pulang. Aku merindukan keluargaku yang tidak kunjung menemukanku. Gisel akan mengecup bibirku agar aku diam. Aku ingat kala itu usiaku masih tujuh tahun. Saat hari kebebasanku tiba, kami berlari sekuat tenaga keluar dari gudang kosong yang jauh dari keramaian. Aku ketakutan, tapi Gisel terus berteriak kalau aku harus kuat dan terus berlari. Hingga aku mendapatkan taksi yang akan mengantarkanku pulang, dia terus bersamaku. Dia mengatakan kalau dia tidak memiliki uang untuk membayar taksi, ia menyerahkan kalungnya sebagai pengganti uang. Aku meninggalkannya, aku memberi tahu di mana aku tinggal dan dia berjanji akan main ke tempatku. Sejak itu aku merasa nyaman berada di dekat Gisel, dia dewi penolongku yang pernah kucintai, dulu sekali, sebelum Gisel berubah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN