Ucapkan selamat tinggal untuk high heels butut milikku. Setelah patah lagi di parkiran pusat perbelanjaan, aku malas membenahinya lagi. Aku juga sudah memiliki yang baru. Andai masih memiliki tempat yang luas, mungkin aku masih menyimpan sepatu itu sebagai kenang-kenangan. Sayangnya, aku harus rela membuangnya ke tempat sampah.
Berita bahagia datang dari telepon Bibi Kelly tadi pagi. Cucu pertama Paman Louis bernama Lux, dia seorang bayi yang tampan. Aku dan Stella sempat melihatnya melalu video yang dikirimkan oleh Bibi Kelly. Stella terlihat senang memiliki saudara baru. Stella sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan Lux. Akan tetapi, Stella harus mencari sekolah terlebih dahulu, karena Stella ingin sekolah dan bermain bersama dengan teman-teman seusianya. Jarang ada anak yang sebaya dengan Stella sehingga putriku lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah daripada bermain bersama dengan teman seusianya.
Aku sulit menjelaskan bagaimana hubunganku dengan keluarga Paman Louis, mereka tidak memiliki hubungan darah denganku, tapi mereka adalah orang-orang yang melebihi saudara bagiku. Ada banyak orang yang lebih nyaman bersama mereka yang bukan saudara daripada dengan yang memiliki ikatan persaudaraan. Mungkin aku salah satunya. Hey, bukannya nenek moyang kita itu sama, Adam dan Hawa?
Begitulah kedekatan dan keakraban kami. Sangat sulit dijabarkan bagaimana pasnya hubungan kami, dan aku sudah menganggap mereka seperti ayah dan ibu. Samantha juga hampir sebaya denganku. Walaupun pada awalnya Bibi Kelly adalah orang yang sering membantu ibuku membereskan kekacauan di rumah mungil kami. Karena rasa cintaku yang begitu besar, aku tetap berada di rumah kami yang lama. Aku merasa aman di sini. Rumah ini penuh dengan kenangan, hingga sayang jika kutinggalkan begitu saja.
Stella akan lebih lama bersamaku bekerja, karena aku tidak mempermasalahkan kalau Bibi dan Paman berlama-lama di tempat anaknya, Samantha. Aku harus tahu diri, aku hanya orang yang mereka anggap anak. Aku tidak iri, aku beruntung karena memiliki mereka. Aku yakin Stella akan terbiasa dengan kebiasaan barunya. Aku tidak mampu menggaji asisten rumah tangga lagi. Bibi Kelly hanya kuberi uang yang sama ketika bekerja dengan ibuku, padahal upah buruh sudah naik setiap tahunnya. Akibat pengeluaran yang terlalu besar dan penghasilan yang kurang mencukupi.
Tahun ini, di usianya yang sudah empat tahun, aku mulai sibuk mencari sekolah yang cocok untuk putriku. Stella merengek ingin pergi sekolah. Sekolah sambil bermain, Stella pasti sangat senang bertemu dengan guru dan teman-teman barunya.
Stella sudah lama ingin sekolah. Ia bersemangat sekali ketika menggendong tas merahnya. Ada banyak tempat pendidikan usia dini yang bisa kupilih. Padahal aku ingin setahun lagi menitipkan anakku di sekolah. Aku khawatir Stella akan bosan di sekolah dan kelelahan. Tapi aku tidak bisa egois, anakku sudah memintanya sendiri.
Memilih sekolah mungkin bisa menjadi alternatif yang masuk akal. Kegiatanku cukup padat di kantor dan di siang hari aku masih harus mengajak Stella untuk mencari nasabah baru. Belum dengan urusan-urusanku yang lain. Ini akan menjadi keputusan tersulit bagiku, karena aku tidak tega melihat Stella tertekan, tapi kalau dia di rumah sendirian bisa saja Stella menjadi sedih karena kesepian.
Aku ingatkan kembali, jangan mau jadi diriku dan hidup seperti diriku. Hamil di luar nikah itu menyusahkan. Hidup yang kujalani berat sekali. Disaat gadis seusiaku merasakan gaji pertama mereka untuk membeli baju dan make up, aku yang murahan ini harus mengalokasikan semuanya untuk kepentingan kelahiran anakku.
Ketika memeriksakan kandungan, pasti aku akan ditanya mengenai suami, aku yakin bagi kalian ini sangat memalukan. Aku hanya bisa tersenyum. Aku tersenyum karena aku memang tidak memilikinya. Tidak mungkin aku berkata kalau anakku ini adalah anak dari pria bernama Romeo Evans. Aku bisa dituduh mencemarkan nama baiknya, dan aku tidak mau ambil resiko dengan kebodohanku. Jadi aku diam dan tersenyum, karena hanya itu yang bisa kulakukan ketika sudah tidak mempunyai pilihan.
Soal Romeo, aku sangat kecewa. Dia tidak sesuai dengan ekspektasiku selama ini. Seorang bad boy memang selamanya tetap akan menjadi seperti itu. Aku terlalu naif dan bodoh, yang mengharapkan Lucifer berubah menjadi angel. Aku tidak menyesuaikan kemampuanku. Aku pikir api bisa padam dengan menyelimutinya dengan selimut basah, ternyata pada akhirnya akulah yang terbakar oleh api itu.
Setiap harinya aku hanya dihantui rasa menyesal dan bersalah, tanpa bisa melakukan apa-apa. Aku tidak bisa memutar waktu kembali ke masa lalu dimana belum mengenal Romeo. Sekarang aku merenungi atas semua kesalahan yang telah kuperbuat, dan berpikir untuk hidup lebih baik lagi.
Aku sudah tidak sendiri lagi, ada Stella yang secara tidak langsung menggantikan ibuku. Meskipun pada kenyataannya, Ibu tidak akan pernah tergantikan. Lewat anakku, kini kumengerti kalau cinta tidak harus memiliki. Ini sudah cukup dan kegilaan ini harus diputus sampai pada diriku saja. Selebihnya aku tidak mau anakku mengalami kepedihan yang kurasakan.
Aku berusaha jujur dengan diriku sendiri. Semakin aku jujur, diriku semakin terluka, karena dalam posisi ini akulah yang bersalah. Mau dibawa kemana pun aku tetap orang yang bersalah. Romeo tidak mungkin melewati batasannya kalau aku bisa menjaga diriku dan juga menjaga hatiku. Di sini aku yang lemah. Di sini aku yang teledor. Aku tahu menyesal tidak akan membuat semuanya kembali seperti semula. Akan tetapi, dengan menyesal aku tahu kalau diriku bersalah dan ujungnya aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama.
Permainan Stella sudah selesai, denting piano sudah berhenti beberapa detik yang lalu. Stella pintar. Dia tidak bisa membaca, tapi ia paham buku penuh not yang sering kubelikan untuknya. Stella yang meminta, aku hanya menuruti selama itu membuatnya bahagia dan tidak membahayakan hidupnya. Aku sadar, karena aku tidak bisa memberikan keluarga untuk anakku.
Kadang ditengah malam, aku akan menangis. Aku sedih, suatu hari nanti anakku pasti akan bertanya siapa ayahnya dan di mana ayahnya. Aku belum siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Cepat atau lambat hal itu pasti akan terjadi. Aku tidak tahu harus mengatakan apa kepada Stella. Kebenaran ini perlahan membuatku takut. Aku tidak ingin menyebutkan perihal Romeo Evans kepada Stella.
Aku belum siap membuka hatiku untuk laki-laki lain. Bukan karena cintaku yang besar kepada Romeo. Ini lebih kepada rasa takut disakiti. Rasa sakit ini lebih menyakitkan daripada tidak makan seminggu atau dipukul sampai lebam-lebam oleh ayahku. Bila hatimu sudah patah, hanya waktu yang bisa mengurangi rasanya dan mengobati lukanya.
Bisa setahun atau belasan tahun untuk menyembuhkan rasa yang menyesakkan d**a. Dari situ aku tidak mau menyakiti hati orang lain. Tidak semua orang kuat menjalani kehidupannya. Banyak orang yang lebih memilih mati daripada hidup dalam rasa sakit. Akan tetapi tidak untukku. Aku tidak ingin mati, aku memiliki Stella. Stella adalah alasanku bertahan.
Dari jauh Stella menyeret boneka beruangnya dan memasang senyum dengan gigi seri yang berjajar rapi. Aku tahu kalau dia menginginkan makan buah kesukaannya. Aku juga sudah berjanji kepadanya akan memberikan buah stroberi yang banyak jika dia sudah menyelesaikan permainannya.
“Mom, stroberi.” Stella mengendus-ngendus celana piyamaku. Menggosokkan mukanya di sana dan memeluk kakiku.
“Sekali-kali cobalah buah yang lainnya.” Aku memberi tawaran, tapi Stella menggelengkan kepalanya.
“Rasanya tidak seperti stroberi, Mom.”
Aku menggendongnya dan meninggalkan bonekanya di lantai. Aku menuju dapur dan membuka kulkas. Aku mengambil mangkok dan mengisinya dengan buah kesayangan Stella hingga penuh.
Stroberi sialan, bagaimana aku bisa melupakan Romeo kalau setiap hari harus menyediakan buah yang sangat disukai mantanku itu kepada anakku. Kadang aku merasa hidupku tidak pernah memihak kepada hatiku.
Andai Stella tahu apa yang ada di hatiku sekarang, pasti anakku akan mengutukku. Aku sangat-sangat-sangat ingin melempar mangkuk yang kupegang ke luar rumah. Bila perlu aku akan membuat mesin pelenyap stroberi dari muka bumi ini.