Stroberi Sialan 1

972 Kata
Kalla POV Aku menggeliat di atas tempat tidur. Stella masih tidur dan ini masih terlalu pagi. Bangun pagi adalah hal yang kubenci sebenarnya. Akan tetapi, diriku sadar kalau sekarang memiliki anak yang harus diberi makan. Aku menuju dapur dengan susah payah, badanku pegal-pegal. Menggendong Stella kemarin sore itu bukan hal yang mudah. Semakin hari tubuh putriku semakin bertambah besar dan akan melelahkan kalau menggendongnya selama beberapa jam. Aku merebus air kaldu sambil memeriksa isi kulkas. Aku memulai pertempuran pagi hari ini dengan membuat omelet dan memanggang beberapa roti sebagai teman sup yang akan kubuat. Stella suka roti panggang yang diberi selai stroberi. Setelah melakukan segala hal, dari memasak, bersih-bersih, memandikan Stella, dan lain sebagainya, rasanya aku ingin pingsan. Aku lelah, lelah sekali. Aku melihat Stella yang sedang menonton tv, meskipun aku tahu anakku tidak benar-benar menontonnya. Stella suka menyendiri sambil memikirkan sesuatu yang tidak kumengerti. Dia pasti tidak tahu kalau yang ia tonton adalah acara gosip untuk orang dewasa. Stella memang seperti itu, tidak terlalu suka menonton tv, yang ia sukai hanya piano dan stroberi. Aku mendekat dengan duduk di sebelahnya yang memeluk remote seperti memeluk barang kesayangannya. Fokus Stella bukan pada layar tv tapi pada remote yang ia peluk. “Siapa yang tidak mengenal Romeo Evans, pemilik jaringan Vans Hotel yang luar biasa tampan. Tidak hanya tampan, pemirsa. Dia juga memiliki bakat bermusik yang layak diacungi jempol.” Aku menatap layar tv, karena mendengar ada orang yang begitu kubenci dengan sepenuh hati disebut-sebut. Pasti itu Romeo yang kukenal. “Benarkah, Linda? Aku jadi makin penasaran, seberapa hebatnya Romeo dalam memainkan pianonya.” “Abel kau akan terpesona jika mendengar permainannya.” “Benarkah? Lebih baik kita lihat saja video berikut ini.” Aku ingin mengganti saluran ke acara yang lebih manusiawi menurutku. Aku lebih baik menonton ulat animasi yang memiliki mata besar daripada harus melihat Romeo Evans dan Vans Hotelnya. Apa tadi katanya, Romeo bisa memainkan piano? Apa tadi katanya, Romeo tampan? Diberi gratis pun aku tidak sudi menerimanya. Sedetik kemudian aku pergi dan memilih merangkai bunga untuk dipajang di ruang tamuku. Aku agak jengkel dengan lelaki itu, ditambah dengan ketiga temannya yang sama bejatnya. Pagiku sudah begitu melelahkan dan sekarang tv sedang bekerjasama memperkeruh keadaan hatiku. Stella menghampiriku, masih membawa remote nya dan menatapku lekat-lekat dengan mata milik lelaki yang sudah sukses menghancurkan masa depanku. Aku jadi semakin mengingat Romeo Evans. Sialan, apa tidak cukup dengan rasa sakit hati yang kualami? Aku memasukkan tangkai bunga dengan kasar ke dalam vas berleher panjang. “Mom, Stroberi. Stella ingin stroberi.” Aku lupa belum memberi jatah buah kesukaan putriku hari ini. “Ayo kita ambil stroberimu.” Stella melonjak-lonjak gembira. *** Di hari Sabtu dan Minggu, aku biasanya menyempatkan untuk berolahraga di dalam rumah, ditemani oleh Stella. Sekarang dia sedang tidur siang memeluk beruangnya. Selama aku berolahraga, Stella berada di dekatku. Aku senang bisa mengawasinya sambil melakukan kegiatan harianku. Aku merindukan Paman Louis dan Bibi Kelly. Aku menunggu kabar Samantha melahirkan. Setidaknya Samantha memiliki suami yang menyayanginya dan kedua orang tua yang masih lengkap, tidak seperti diriku. Aku memang lelah, tapi aku harus berolahraga. Setelah melahirkan, bokongku agak membesar, sudah sejak lama aku berdiet untuk menurunkan berat badan, berharap ukuran bokongku akan menyusut dengan sendirinya. Aku agak risi dengan model b****g yang terlihat wow ini. Kata Bibi Kelly ini terlihat seksi, tapi menurutku ini tidak seksi sama sekali. Setelah melahirkan memang tubuh wanita akan berubah menjadi mengerikan jika tidak dirawat dengan baik. Butuh waktu setahun untuk menghilangkan lemak di perutku. Bentuk payudaraku juga berubah sejak menyusui Stella selama dua tahun. Aku tahu ini wajar terjadi. Hanya saja aku masih tidak terima dengan perubahan yang menurutku terlalu cepat. Hanya wanita ajaib yang bisa langsung langsing setelah melahirkan. Tentu saja aku tidak termasuk di dalamnya. Perlu kerja keras untuk menjadi cantik lagi setelah melahirkan. Tekanan batin tidak cukup membuatku kurus. Aku melahirkan Stella dengan jalur normal tanpa operasi, bobot Stella waktu itu tidak lebih dari 5 pounds. Sangat kecil dan rapuh. Aku baru merasakan kalau proses melahirkan itu sangat menyakitkan. Rasanya aku mau mati waktu itu, tapi aku harus melahirkan anakku ke dunia. Durhakalah mereka bagi anak-anak yang suka membantah ibunya. Aku termasuk salah satu diantaranya, dosaku kepada ibuku sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Sampai kapanpun tidak akan termaafkan, ibuku belum mengatakan apa-apa soal kesalahan yang kuperbuat. Jantungnya terlalu lemah hingga membuatnya tidak bisa berkata apa-apa. Aku sudah meminta maaf berulang kali, tapi ibuku hanya diam, masih syok dengan keadaanku. Aku ingat waktu itu diriku menangis tersedu-sedu memohon ampun. Ibuku berekspresi sedih yang sulit kugambarkan. Ibuku memegangi dadanya, sambil menangis, lalu kemudian ibuku roboh ke lantai dengan mata yang memancarkan kesedihan yang diarahkan kepadaku. Aku tahu ibuku tidak akan memaafkan anak yang sudah membuatnya malu juga tertekan. Selama ini aku hanya bisa menyusahkan orang tua yang begitu menyayangiku. Saat itu, duniaku berubah menjadi tambah suram. Aku kehilangan orang tuaku lagi. Aku menelepon rumah sakit dan waktu berlalu dengan lambat sekali. Aku memeluk ibuku yang masih mengerang kesakitan. Aku tahu ibuku tidak akan bisa bertahan lama, napasnya putus-putus, dan aku semakin menangis dibuatnya. Aku tidak mau kehilangan ibuku. Aku sudah tidak punya orang tua lagi kecuali ibuku. Lamat-lamat aku melihat mata ibuku terpejam. Aku pikir setelah sepasukan orang berseragam putih membawanya, ibuku akan kembali membuka matanya untukku. Tapi untuk selamanya mata itu akan terus terpejam. Aku merindukan ibuku, sangat merindukan. Aku rindu berada di pelukan hangatnya. Aku rindu segalanya tentang ibuku. Mengingatnya membuatku meneteskan air mata. Apa kalian akan merasakan hal yang sama ketika kalian sedang merindukan seorang ibu? Peluklah ibumu, selagi ibu masih ada di sekitar kalian. Jangan jadi anak durhaka seperti diriku. Cinta ibu itu sepanjang masa kepada anak-anaknya, tapi cinta anak kepada ibunya hanya Tuhan yang tahu. Kalian pasti tahu seberapa aku membenci diriku sendiri. Gara-gara kesalahanku, ibuku meninggal. Kembali aku akan mengutuk Romeo Evans yang sudah membuat segalanya menjadi sangat rumit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN