Gadis Cilik Dengan Stroberi 2

1056 Kata
“Sepertinya aku tidak akan ikut taruhan lagi, aku lelah.” Gabriel mengambil kentang goreng dan mencelupkannya ke saus tomat yang ada di nampan milik Gabriel. “Thomas yang memiliki ide gila itu. Vincent marah-marah sejak kemarin.” “Vincent dan aku sepakat mundur. Kasihan, dia tidak memiliki sekutu.” “Kenapa?” Aku penasaran karena tidak biasanya Gabriel terlihat tidak bersemangat dan seperti banyak pikiran. “Tidak kenapa-kenapa.” Gabriel berkata datar dan kembali memakan kentang goreng. “Tapi kau terlihat, aneh.” Aku masih tidak percaya begitu saja. “Aku hanya berpendapat kalau kegiatan taruhan kita itu sudah tidak cocok lagi dilakukan. Oh, ya, aku mendapat pesan dari Gisella. Katanya kau sulit dihubungi padahal dia sepertinya mengharapkanmu.” Sebuah pengalihan yang secara tidak langsung mengingatkanku kembali dengan Gisel. “Wanita akan seperti itu kalau ada maunya.” Aku merasa jengah kalau mendengar nama Gisella dikumandangkan. Apa tidak cukup dengan semua yang telah kuperjuangkan untuknya? “Kau masih dengan Gisel?” “Tidak.” Aku melahap burger-ku yang terakhir. “Aku rasa Gisel baik, meskipun agak … matre.” “Aku tidak ada feeling dengannya. Dia hanya ingin memperalatku untuk kepentingannya. Setiap wanita cantik pasti baik dimatamu. Ck, diam-diam kau teman yang cukup menyebalkan.” “Sudah aku katakan sejak awal, kalau kau lebih cocok bersama Kalla daripada wanita-wanita random-mu itu. Menurutku Kalla masih menjadi satu-satunya wanita yang levelnya diatas wanita-wanitamu itu. Persetan dengan cinta pertamamu itu.” Gabriel meminum soft drink yang masih tersisa setengahnya. “Kau masih merasa bersalah, kan?” Gabriel menyeringai, dan dia terlihat dua kali lebih menyebalkan dari sebelumnya. “Jangan jadi sok pintar.” Aku mendengus karena apa yang dikatakan Gabriel ada benarnya juga mengenai rasa bersalah itu. Sampai kapanpun tidak akan mau kuungkapkan kepada siapapun. “Kalla, Kalla Rei, itu namanya, kan? Aku rupanya masih menghapalnya dengan sangat jelas.” Gabriel meminum lagi soft drink nya hingga tandas. “Dia itu cantik.” Kekehan Gabriel membuatku ingin meninjunya, andai dia bukan temanku. “Ambil saja.” “Kalau dia tidak menghilang, mungkin aku akan memacarinya, meskipun aku tahu wanita itu bekasmu, tapi selama dia layak untukku, kenapa tidak?” “Kau menyukai Kalla?” Tanyaku ingin tahu. Perkataan Gabriel agak mengusikku. “Dia sudah pergi, aku sudah tidak bertemu bertahun-tahun dengannya sejak peristiwa di kantin kampus itu, selain itu dia adalah mahasiswi yang tidak begitu terkenal. Aku tahu pasti dia sangat sakit hati denganmu, Rom.” “Apa peduliku? Gara-gara dia juga aku harus membayar mahal kepada kalian. Kau tidak lupa, kan?” Aku mengingatkan kepada Gabriel kalau dia ikut ambil bagian juga. “Aku sedang tidak sadar waktu itu.” Gabriel terbahak-bahak seolah ini adalah sesuatu yang lucu. “Tapi aku salut kepadanya, dengan penuh percaya dirinya Kalla menyirammu dengan air. Untung saja itu hanya air mineral bukan air comberan.” Gabriel sedang bernostalgia dengan masa lalu. “Jangan bahas itu lagi. Aku rasa sekarang pujaan hatimu itu sudah menikah dan memiliki banyak anak. Dia tampak bulat dan gendut karena memiliki banyak anak, kau belum tahu, kan?” Aku mengarang cerita. “Memangnya kau pernah bertemu dengannya?” Gabriel terlihat penasaran. “Apa harus kuberi tahu?” “Dia bukan pujaan hatiku, dia lebih cocok dengan dirimu, karena kalian sama-sama keras kepala … aku rasa.” “Kenapa kita malah membahas sesuatu yang tidak penting?” “Aku hanya mengikuti alurnya. Apa benar Kalla sekarang sudah berubah? Tidak seseksi dulu waktu jaman kuliah?” Gabriel tampak tidak percaya. “Kau tidak percaya kepadaku?” “Percaya. Tapi aku yakin meskipun sekarang dia gendut pasti dia masih terlihat cantik. Aku tahu kalau banyak perempuan yang sulit menurunkan berat badannya ketika sudah memiliki anak.” “Terserah kau saja, Briel. Aku harus kembali lagi ke kantor untuk mengurusi beberapa hal.” “Aku mengganggumu, ya?” “Tidak, aku bisa makan bersamamu, sejak siang aku belum memakan apapun.” “Terlalu sibuk, huh?” “Begitulah.” “Menambah destinasi baru di Losa Harapan memang keputusan yang cerdas. Aku tidak menyangka kalau kau juga peduli dengan populasi lamun yang semakin lama semakin berkurang.” “Hotelku di Losa Harapan berdekatan dengan pantai yang memiliki kehidupan. Kalau bukan kita yang melindungi kekayaan laut, siapa lagi yang akan peduli? Pemerintah sudah sibuk dengan kerumitan negaranya. Selain menghasilkan uang, melakukan konservasi padang lamun dan terumbu karang memang suatu keharusan bagiku.” “Kau benar, Rom. Sudah menjadi kewajiban untuk melindungi ekosistem agar tercipta keseimbangan. Tidak rugi aku selalu mengerjakan tugas-tugas kuliahmu, kalau pada akhirnya kau lebih cerdas daripada diriku.” “Sialan, kau menyindirku?” Aku berdecak kesal. “Aku hanya mengatakan fakta.” Gabriel tertawa bahagia. “Ingat, kalau bukan karena diriku kau bisa saja di DO pihak kampus karena terlalu bodoh dan tidak lulus-lulus.” Dan tawanya semakin menyebalkan di mataku. *** Aku sudah kembali ke kantorku. Kantorku berada di dalam hotel. Kalau aku lelah aku bisa langsung tidur di hotelku sendiri. Ibuku akan marah-marah ketika berbulan-bulan aku tidak pulang ke rumah. Ibuku masih sangat arogan, ibuku akan menyeretku pulang ke rumah tidak peduli aku akan malu atau tidak ketika ditarik-tarik oleh ibuku sendiri. Bagaimana ini, sudah seminggu aku tidak pulang ke rumah. Mungkin besok aku akan tidur di rumah ibuku, tapi besok jadwalku penuh sekali hingga malam. menjadi terkenal ternyata tidak mengenakkan. Aku bosan masuk ke dunia kerja, aku ingin kembali ke jaman kuliah. Ketika kuliah aku bisa merasakan kebebasan dan hidup tanpa menanggung apa-apa. Sejak aku lulus, semuanya berubah. Menjadi dewasa itu tidak menyenangkan. Kalau bisa aku ingin kembali ke masa di mana aku masih bermain dengan sepeda roda tigaku, di mana Vincent dan Gabriel akan mendorong sepeda itu . Gara-gara anak yang kutemui di salah satu sudut mall, aku jadi ingin memainkan piano. Setelah menyelesaikan pekerjaanku, aku menuju ke aula besar di mana terletak sebuah grand piano. Hari ini tidak ada yang memainkannya. Ini sudah sangat malam untuk memulai makan malam. Grand piano itu berdiri dengan angkuh di tengah-tengah panggung yang membuat orang-orang yang sedang makan akan dengan leluasa melihat permainan orang-orang yang bermain musik. Ada beberapa orang yang sedang menikmati hidangan tengah malamnya. Aku biasa saja masuk ke tempatku sendiri. Ini milikku. Aku akan memainkan Fur Elise dan Moonlight Sonata. Aku jadi teringat dengan bocah kecil yang tidak berkedip memandangku sambil bermain piano. Aku jadi teringat dengan mata birunya yang mempesona. Permainan pianonya juga sangat mempesona.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN