Romeo POV
Hari sudah menjelang sore, akhirnya aku bisa bernapas lega. Gabriel mengajakku makan di salah satu restoran cepat saji di sekitar sini, dan kami memilih Meyer Mall, karena letaknya yang dekat. Aku berjalan seperti biasa, sambil melihat-lihat pemandangan Meyer Mall yang lumayan ramai di sore hari. Aku ingat kalau pemilik dari Mall ini lebih suka menghabiskan waktunya di luar benua Hijau. Menurut gosip yang beredar orang tua Mark Meyer berasal dari Belanda, salah satu negara di benua Eropa. Sudah lama aku tidak berlibur ke luar benua Hijau. Aku jadi ingin melihat kebun tulip dan kincir angin di negara Belanda itu.
Diam-diam aku melihat mereka yang memandangku penuh kagum. Aku tahu kalau aku cukup menarik, karena para gadis akan melihatku lebih dari satu kali untuk memastikan kalau aku manusia atau bukan. Aku memiliki harta melimpah dan bisnis yang menjanjikan. Selain itu aku terlihat tampan dan berasal dari keluarga terpandang di Modern City.
Aku sudah tahu sejak awal kalau seorang Romeo Evans selalu memiliki pesona di atas rata-rata, meskipun dalam keadaan terburuk sekalipun. Aku pernah ditawari menjadi bintang iklan, tapi aku menolaknya. Hanya menjadi diriku sendiri, aku yakin sudah membuat banyak wanita rela mengantri untuk mendapatkanku. Jadi aku tidak perlu mendongkrak popularitasku lagi dengan menerima tawaran menjadi model apalagi aktor. Dengan wajahku ini aku percaya bisa mendapatkan istri yang baik hati dan yang pasti itu bukan cinta pertamaku. Mengingatnya membuatku mendadak sedih.
Aku melihat anak kecil yang menatapku sambil memainkan piano. Tanpa melihat ke arah tuts piano, ia mampu memainkan irama dengan sangat sempurna untuk anak seusianya. Mau tidak mau aku berhenti untuk melihatnya. Suaranya sampai ke luar menembus kaca yang membatasiku dengan dirinya. Aku mematung, terhipnotis dengan alunan irama yang begitu luar biasa. Aku seperti pernah melihatnya, tapi aku tidak ingat pernah bertemu di mana.
Moonlight Sonata terdengar begitu syahdu di telingaku. Bukannya ini salah satu karya milik Beethoven?
Anak kecil jaman sekarang cepat sekali belajar. Aku tidak bisa memainkannya dengan benar sampai usia belasan tahun. Aku yakin kalau dia masih dibawah umur untuk mengerti hal-hal seperti itu.
Aku mengingat dulu ibuku membawa guru musik untuk membuatku tidak nakal dan keluyuran di luar. Aku butuh waktu berbulan-bulan untuk bisa memainkan Moonlight Sonata hingga lancar. Ibuku bilang kalau aku tidak boleh bermain bersama Vincent kalau tidak bisa memainkan satu lagupun. Aku ingat, setiap sore Vincent dan Gabriel akan menungguiku selesai les piano, karena Thomas akan pulang duluan karena jenuh menungguku.
Aku malas sekali kalau jam bermain pianoku tiba, guruku sangat menyebalkan dan agak galak. Aku tidak pernah becus memainkan apa-apa hingga berbulan-bulan. Meskipun begitu, ibuku terus menyuruhku bermain piano. Bermain alat musik itu menurutku tidak berguna, karena aku tidak suka dengan musik sejak awal. Tapi lama-kelamaan aku menyukai apa yang kumainkan. Aku lebih suka lagu-lagu pop daripada klasik. Memang benar, lewat musik banyak orang bisa mengatakan apa saja yang dirasakan, tanpa harus mengucapkan dengan kata-kata.
Ada banyak rasa yang belum tentu bisa dikatakan lewat kata-kata. Kadang rasa cinta yang terlalu besar, rasa kecewa yang teramat dalam, atau kemarahan yang luar biasa membutuhkan lebih dari sebuah kalimat untuk memunculkannya ke permukaan.
Terlalu mudah kalau manusia mengatakan ‘Aku cinta kamu’, karena pada kenyataannya hal itu sulit digambarkan dengan benar. Apa kalian tahu cinta itu apa? Rasanya seperti apa? Aku sendiripun tidak tahu cinta itu seperti apa setelah mengalami kekecawaan.
Mungkin cinta itu seperti reaksi kimia di dalam tubuh yang akan pudar setelah empat tahun atau lima tahun. Misalnya ada yang bertahan lebih dari itu, bisa jadi karena rasa cinta itu telah berubah bentuk dalam wujud lain. Cinta itu energi yang bisa berpindah dalam bentuk lain seperti berubah menjadi sebuah pernikahan dan kemudian tercipta anak-anak. Ini hanya sekedar teoriku.
Anak itu masih menghipnotisku. Aku dapat merasakan ruh dari komposisi ini. Anak di depanku sedang bercerita betapa lembutnya sebuah ratapan dari seorang Ludwig Van Beethoven ketika dia mencintai muridnya, Countess Giulietta Guicciardi. Betapa cerianya irama yang terjalin berikutnya, itulah rasa ketika sedang jatuh cinta, tapi di akhir komposisi, penciptanya membuat penekanan di mana-mana, dan ini menyakitkan.
Penuh emosi, penuh luapan amarah, karena sampai kapanpun perasaan cintanya kepada murid yang berasal dari kelas bangsawan tidak akan pernah ia dapatkan. Semuanya terangkai dalam nada-nada yang menurutku menakjubkan dan megah, serta ada kesedihan di sana. Aku sangat mengerti rasa sedih itu, mencintai tanpa pernah terbalaskan. Aku menunduk sedih sekaligus kehilangan, teringat cinta pertama yang tidak bisa terlupakan begitu saja. Semua itu seperti merobek jantungku, perih, dan membekukan hatiku.
Anak perempuan dengan jepitan stroberi di rambutnya pasti bisa memainkan nada-nada sulit dengan mata tertutup. Dia masih memandangku lewat jendela besar dengan tatapan yang sulit kuartikan. Aku merasakan sesuatu yang tidak kumengerti. Apa karena aku masih membawa perasaan lamaku hingga saat ini? Perasaan kehilangan saat kau berhasil menggenggamnya.
Berkediplah sebentar, Nak. Aku khawatir ada debu yang akan masuk ke matamu jika melihatku seperti itu. Manusiawi jika aku agak salah tingkah ditatap seperti itu. Apa dia terpesona dengan ketampananku? Itu tidak mungkin, dia masih sangat kecil dan tidak mengerti apa-apa. Aku menyunggingkan senyuman terbaikku, yang belum tentu bisa orang lain lihat. Dia memandangku datar tanpa emosi. Andai kaca bening diantara kami tidak pernah ada, mungkin aku sudah menyapa dan ikut bermain bersama. Memainkan nada-nada menyedihkan tentang sakit ketika cinta yang tulus dibalas dengan pengabaian.
Biru.
Warna matanya seperti samudra yang bisa menenggelamkan siapa saja. Diriku secara tidak sadar terpesona dengan raut wajah datar dengan mata yang luar biasa indah itu. Kalau aku memiliki seorang putri aku ingin secantik anak yang sedang memandangiku saat ini.
Kenapa aku jadi menginginkan anak? Kalau aku menikah dalam waktu dekat, aku bisa jadi bulan-bulanan, dan rugi banyak. Aku tidak tahu apa taruhan itu masih berlaku setelah Vincent dengan percaya diri membatalkan perjanjian yang sudah kami buat bersama. Lagipula aku sedang tidak tertarik untuk menikah dengan seorang wanita.
Gisella mematahkan cinta pertamaku, dan ini menyakiti hatiku. Aku hanya merasa kalau dia tidak tulus kepadaku. Perasaanku yang mengatakannya dan aku merasa kurang nyaman dengan itu.
Aku tidak tahu apakah keputusan yang kupilih benar atau salah untuk mengakhiri semuanya. Aku memang membutuhkan waktu untuk diriku sendiri. Akan tetapi, begini lebih baik supaya aku tidak terus menyalahkan keadaan.