[Gimana ospek pertamanya? Seru?]
Sebuah pesan di aplikasi berwarna hijau diterima Rinda saat gadis itu sedang berjalan pulang. Itu dari Nathan, pacarnya. Sudah satu tahun mereka menjalin hubungan. Dan dialah salah satu alasan Rinda kuliah di kampus yang sama dengannya.
[Nyebelin banget kak, aku dikerjain, huhu!] balasnya cepat. Ia menyelipkan emot menangis di akhir kalimatnya.
[Siapa yang berani ngerjain Rinda, nanti kakak hajar.] Tak luput, Nathan pun mengirimkan emot marah berwarna merah. Rinda tersenyum, lesung pipi terlihat di pipinya yang merona. Detik kemudian melihat sekitar, baru sadar.
'Sampe lupa gue lagi di jalan, nanti disangka orang gila lagi, senyum-senyum sendiri.' batinnya.
[Ketua BEM kak. Tapi aku juga salah sih, karena salah kostum terus datangnya telat, hehe :)]
[Nah besok jangan gitu lagi ya ....]
[Iya :)]
[Sekarang lagi di mana?]
[Lagi di jalan nih, mau ke halte.]
Rinda berjalan sambil mengetik. Begitu semangat membalas pesan dari orang yang disayanginya, tanpa sadar gadis itu sudah sampai di pinggir jalan raya.
[Maaf ya kakak gak bisa jemput.]
[Gapapa. Nanti kalo dah mulai kuliah, pulang perginya bisa bareng kan?]
[Pasti. Hati-hati nyebrangnya ya, Sweety ....]
[Oke boss.]
Lagi-lagi ia tersenyum senang. Meski sudah tidak memiliki orangtua, tapi Rinda tetap bersyukur karena ada Satria, kakak kandung yang teramat menyayanginya. Juga Nathan, pacar yang selalu ada untuknya. Keduanya teramat berharga bagi hidupnya.
Kepalanya celingukan sebentar, saat sudah cukup lengang baginya, ia menyeberang. Kurang memperhatikan dari arah kiri, sebuah mobil box besar tengah melaju kencang,
'Tiiiiiiiiiinnnnnnnnnnnnnnnnnnn'
Suara klaksonnya terdengar nyaring memekakkan telinga membuat orang-orang menoleh ke sumber suara. Rinda menatap nanar hendak berlari, tapi seakan tak memiliki waktu banyak tubuh gadis itu sudah keburu disambar mobil box hingga menyebabkan suara tabrakan yang keras hingga membuat tulang ngilu. Tubuhnya mental jauh hingga beberapa meter, orang-orang yang melihatnya langsung memekik dan berteriak histeris. Pekikan kalimat istighfar dan suara jeritan orang-orang semakin membuat suasana di jalan itu terasa menakutkan. Seorang gadis yang terlempar jauh itu seketika mengeluarkan darah segar yang langsung banjir mengelilingi tubuhnya. Tak menunggu lama, aspal dengan warna hitam itu seketika berubah menjadi merah. Orang-orang berlarian ke tempat kejadian perkara, penasaran.
"Ya Tuhan, perempuan korbannya."
"Masih hidup enggak?"
"Coba cek nadinya, dari hidung dan telinganya keluar darah terus."
"Panggil ambulance, cepet. Jagain yang nabraknya, supaya gak kabur."
"Saya liat kejadiannya, ceweknya nyebrang sembarangan. Jangan hakimi supirnya."
Demikian desas-desus yang terdengar dari mulut orang-orang yang berkerumun.
"Mentalnya jauh banget, kayaknya langsung meninggal di tempat."
"Iya, pendarahannya parah. Kecil harapan hidupnya."
"Innalillahi kasihan keluarganya."
"Hubungi keluarganya, mungkin ada alamatnya di dompet."
Dan masih banyak argumen yang terdengar. Seketika jalanan ramai dengan kerumunan orang-orang. Bagi mereka yang benar-benar peduli, ada yang memanggil ambulance, ada juga yang mencoba mengorek informasi identitas gadis tersebut dari tas yang ikut terlempar tidak jauh dari tubuhnya, ada juga yang mencarikan handphonenya yang entah terlempar ke mana. Sebab saat tabrakan terjadi, gadis itu tengah memegang handphonenya.
Jalanan macet, laju kendaraan terganggu karena tubuh korban belum dipindahkan. Gadis yang masih memakai baju kebaya dan berkuncir dua itu terluka parah. Sungguh, mungkin orang-orang tidak akan menyangka bahwa korban kecelakaan itu adalah peserta ospek di kampus yang tidak jauh dari tempat kejadian. Orang-orang bilang ia tidak akan selamat. Bantuan belum juga datang. Gadis cantik yang belum lama jadi bahan tertawaan satu kampus itu berada di antara hidup dan mati.
Detik selanjutnya terdengar suara ambulance, masih sama suaranya terdengar nyaring memekakkan telinga. Sungguh, siapapun pasti tidak ada yang ingin berada dalam mobil tersebut dalam keadaan terluka parah. Tubuh ringkihnya diangkat, lalu dimasukkan ke dalamnya. Supirnya bergerak cepat, masih dengan sirine yang menandakan keadaan darurat, mobil ambulance itu melaju kencang. Membelah jalan raya, yang lengang sampai yang padat akan kendaraan. Hanya dengan suaranya saja, semua pengemudi yang melajukan kendaraannya langsung menepi, memberi akses jalan agar kendaraan tersebut bisa mendahului. Siapapun supirnya, mungkin kriteria yang utama adalah harus sangat lihai dan ahli dalam mengemudi. Karena nyawa seseorang sedang dipertaruhkan dengan keahliannya.
"Nadinya sudah tidak bergerak, dia meninggal, Pak." ujar seorang tim medis yang ikut serta saat menjemput korban kecelakaan tersebut. Ia memegang nadi di pergelangan tangan dan leher gadis tersebut, tidak ada denyutnya. Lalu mengulurkan tangan tepat di hidung si gadis, tidak ada hembusan nafasnya.
Gadis dengan kulit putih itu nampak pucat. Bibirnya biru. Goresan luka terseret aspal terlihat di sana-sini. Dari hidung dan telinga, darah segar tidak berhenti mengalir. Mungkin pembuluh darahnya pecah.
"Ya sudah kita langsung ke ruang jenazah." ucap sang sopir.
Mobil masih melaju kencang. Sedikit oleng saat ada belokan dengan sisi kiri jurang dengan pagar pembatas jalan sebagai pengaman. Detik selanjutnya, entah apa yang terjadi, mobil kehilangan kendali.
"Hati-hati, Pak Sopir. Pelan-pelan." Tim medis yang ada di belakang kemudi berteriak karena takut. Baginya di jalan ini harus hati-hati, sebab sisi kiri adalah jurang.
Mobil ambulance yang melaju kencang itu bergerak tidak beraturan, mungkin ban mobilnya mengalami masalah. Lalu hal yang paling ditakutkan terjadi, mobil ambulance yang seharusnya membawa korban kecelakaan tersebut ke rumah sakit malah menabrak pagar pembatas di sisi kiri. Tidak bisa dihindari, kecelakaan pun kembali terjadi. Mobil itu meluncur bebas dan terjatuh ke jurang sedalam 15 meter. Semua orang terpaku, kejadiannya terjadi begitu cepat. Seorang ibu yang berjualan di pinggir jalan sampai pingsan saat melihat kejadiannya. Kerumunan orang kembali terjadi. Dari atas bisa dilihat, mobil yang terjatuh itu ringsek seketika dengan posisi mobil terbalik. Setiap orang yang melihatnya jadi tidak bisa membayangkan, jika kondisi mobilnya saja sedemikian parahnya, bagaimana dengan kondisi para penumpang di dalamnya? Wartawan mulai berdatangan satu-persatu, seketika kecelakaan ini diliput di berbagai berita Indonesia di beberapa channel televisi. Polisi dan Tim-SAR berdatangan untuk mengevakuasi. Dalam sekali lihat, setiap orang sudah menduga tidak akan ada yang selamat dalam kecelakaan ini.
Meskipun medannya sulit, tapi dalam waktu beberapa jam saja seluruh korban dan mobil ambulance tersebut bisa dievakuasi. Kata mereka yang turun ke medan untuk evakuasi langsung, semuanya dalam keadaan tidak bernyawa. Bahkan sang sopir kondisinya begitu mengenaskan karena terjepit badan mobil.
Satria datang ke lokasi kejadian setelah mendengar laporan bahwa adiknya mengalami kecelakaan, lalu semakin terpukul saat ambulance yang seharusnya membawa adiknya ke rumah sakit itu justru ikut mengalami kecelakaan. Laki-laki dewasa dengan tubuh tegap itu menangis sejadi-jadinya. Bagaimana tidak, anggota keluarga satu-satunya itu turut serta menyusul ayah dan ibunya.
"Rindaaa, jangan tinggalin kakak, Dek!" terisak-isak ia di tepi tebing yang sudah rusak pagar pembatasnya, lalu tersungkur ke tanah. Seseorang menghampirinya dan menawarkan bantuan untuk mengantarnya ke rumah sakit. Sebab para korban sudah dibawa ke rumah sakit semuanya.
Sesampainya di sana, Satria langsung ke ruang jenazah. Lalu kaget, saat petugas berkata bahwa jenazah yang datang karena kecelakaan tersebut hanya dua. Keduanya berjenis kelamin laki-laki, kemungkinan mereka adalah sopir dan tim medisnya. Lalu semakin kaget saat seorang laki-laki lain berkata:
"Pak, korban kecelakaan yang jatuh ke jurang tadi ada satu yang selamat, wanita masih muda. Sekarang sedang di ruang ICU."