bc

I HEAR YOU!

book_age16+
313
IKUTI
1.3K
BACA
student
bxg
mystery
campus
supernatural
lonely
like
intro-logo
Uraian

Aku bisa mendengar suaramu, meski lidahmu tidak mengatakannya. Aku bisa membaca isi hati dan pikiranmu, meski kau tidak mengungkapkannya. -Rindania Ashika, gadis yang bisa membaca hati dan pikiran setiap orang yang ada di hadapannya-

Namanya Rinda, gadis cantik yang pernah kukerjai saat ospek! Seingatku waktu pertama kali melihatnya, ia seorang gadis yang ceria. Belakangan, kenapa wajahnya tidak pernah tersenyum? Dia juga aneh, aku sering melihatnya berbicara sendiri di tempat sepi. –Arga Aliftian, satu-satunya orang yang tidak bisa dibaca pikirannya oleh Rinda-

chap-preview
Pratinjau gratis
Ospek yang Menjengkelkan
Senin pagi di pertengahan bulan, matahari bersinar cerah. Seorang gadis melangkahkan kaki dengan terburu, nafasnya tersengal. Pernak-pernik dan atribut yang dikenakannya begitu membuatnya repot. Sampai di gerbang sebuah universitas, terlihat sudah berjejer barisan para calon mahasiswa-mahasiswi baru dengan kelompoknya masing-masing. Belum sampai melewati gerbang, langkahnya dihadang seorang laki-laki dengan setelan celana hitam dan jas almamater biru. "Kenapa terlambat?" tanyanya seraya melirik arloji. Gadis tersebut hanya cengengesan, nampak khawatir raut wajahnya saat laki-laki di hadapannya memandangnya dari atas sampai ke bawah. Terlebih saat ia melihat deretan para calon mahasiswa-mahasiswi baru yang sedang berbaris. 'Ah, mati aku!' bisiknya dalam hati. Dua kesalahan sekaligus. Setidaknya itulah yang ada di pikirannya saat ini. Lalu jantungnya semakin berdegub kencang saat ia digiring untuk berdiri di depan bersama para jajaran mahasiswa tingkat atas. Sontak dalam sekejap ia menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak, jelas apa yang dikenakan dan melekat di tubuhnya itu semua tidak sama dengan yang seharusnya. Terlihat banyak mata yang memandangnya dengan sorot jenaka. Apalagi ia berdiri tepat di samping seorang ketua BEM yang sedang memberikan arahan dengan toa di tangannya untuk mengeraskan suara. "Dan kamuuu!" Panggil Sang Ketua BEM dengan keras. "Ya?" Ia membeo saat orang di sampingnya bertanya ke arahnya. "KENAPA SALAH KOSTUUUUMMMMM???????" Gadis dengan kuncir dua itu meringis saat toa yang dipakai sang ketua BEM di arahkan tepat di kupingnya. Satu jarinya ia gunakan untuk menutup telinga. Gemuruh tawa dari peserta ospek terdengar membahana di telinganya yang sudah ditutup. "Ah anuu..." Gadis itu menunjuk kertas dalam genggaman. *Kebaya kondangan untuk perempuan dan kemeja batik untuk laki-laki *Ikat rambut sejumlah bulan kelahiran, hias dengan tali sepatu *Papan nama, jangan tulis nama asli. Tulislah kata-kata yang menyentuh hati. Misal: Hati yang pernah kau sakiti *Gunakan sandal jepit dengan kaos kaki bola. Dan sederet aturan lainnya. Rindania Ashika namanya, gadis berkuncir dua dengan hiasan tali sepatu berwarna biru itu nampak cantik walau dandanannya aneh, berhubung ia lahir di bulan Februari jadilah rambutnya diikat dua. Sandal jepit dengan kaos kaki bola melekat di kakinya yang jenjang. Tapi, sepanjang matanya melihat para peserta ospek perempuan tidak ada yang diikat rambutnya sebagaimana arahan yang berada di kertas. Sedangkan seragam yang dikenakan seluruhnya memakai hitam putih dengan sepatu hitam semuanya. Papan nama pun sesuai dengan nama masing-masing. Pokoknya yang ia tau, semua yang melekat di tubuhnya 100% berbanding tebalik dengan para peserta ospek lain. "Kamu gadis berkuncir dua, kenapa gak buka link yang ada di tulisan paling bawah?? Tulisan yang atas jebakan tauuu!!" Rinda terdiam sesaat sambil membulatkan mata. Sedikit kaget dan merutuki kebodohannya sendiri. Tapi, kenapa yang salah hanya dia sendirian? Apa itu artinya hanya dia yang bodoh di sini? “Ko-kok bisa?” gumamnya lirih. "Siapa nama kamu?" "Ri-Rinda." "Nama lengkap!" "Rindania Ashika Savalas." “Yang keras!” "Rindania Ashika Savalas!!!" "Lebih keras!!!!!" "RINDANIA ASHIKA SAVALAS!!!" Rinda mengerucutkan bibir seraya melirik laki-laki tersebut dengan ketus. Iya, dia kesal karena merasa sedang menjawab pertanyaan Dora. Tanpa disadari, banyak pasang mata yang melihat ekspresinya itu hingga menjadi gemas karenanya. Sedangkan Ketua BEM terdiam sejenak, tatapannya lurus mengarah pada papan nama yang menggantung di lehernya. "Kenapa jadi Rindu yang Tidak Terbalas, Munah!!!" Lagi, riuh tawa kembali terdengar. Bahkan mahasiswa tingkat atas ada yang tertawa sampai terpingkal-pingkal. Rinda hanya cengengesan dengan wajah merah padam menahan malu. 'Sial banget, udah salah kostum datangnya telat pula! Jadi bahan tertawaan orang-orang, huh!' gerutunya dalam hati. "Kamu, kembali ke kelompokmu. Tapi kesalahan ada hukumannya. Datang ke saya nanti saat jam istirahat!" titah sang ketua BEM dengan tegas. Rinda mengangguk mengerti lalu menunduk dalam-dalam, malu sekali rasanya sampai ingin memakai helm. Andaikan bisa, pasti dia lebih memilih opsi itu daripada terus dipandangi oleh orang-orang yang berada di lapangan tersebut, terutama para pria. *** Sebagaimana perintah, Rinda kembali menemui ketua BEM untuk menebus kesalahannya di ospek pertamanya. Sebenarnya waktu istirahat masih 15 menit lagi, tapi karena Rinda mampu menjawab pertanyaan dari dosen pemateri dengan sesi perkenalan almamater jadilah ia keluar lebih dulu dibanding teman-temannya yang lain. "Mau kondangan ke mana, Neng?" goda salah satu kating sambil cekikikan saat melihat Rinda berjalan. Sebenarnya ia kesal, tapi sebagai mahasiswi baru ia tidak berani bertingkah, takut jadi sasaran 'dikerjain' kating-kating rese, pikirnya. Jadilah ia hanya tersenyum manis menanggapi godaan tersebut, walaupun sebenarnya hatinya amat dongkol. "Kak Ketua." Sapa Rinda pada laki-laki di hadapannya. Laki-laki dengan potongan rambut cepak itu terlihat tampan sebenarnya, tadi ia mendengar teman-temannya banyak yang bisik-bisik setiap kali ketua BEM itu tampil memberi arahan. Gantenglah, kaya oppalah, hidungnya mancunglah, bla ... bla ... bla .... Tapi tidak menurut Rinda. 'Gak ganteng, soalnya kuping gue diteriakin pake toa tadi.' keluhnya dalam hati. "Hukuman buat kamu yang salah kostum, silakan kamu minta tanda tangan kating yang namanya Arga Aliftian. Minta sebanyak-banyaknya. Awas kalo gak dapet!" ancamnya. "Orangnya yang mana, Kak?" "Mana saya tau! Cari sendiri, enak aja kamu nanya saya." 'Ih, ini orang ternyata nyebelin banget ya.' Sayangnya kalimat tersebut hanya bisa diucapkan dalam hati. "Saya tunggu sampai waktu istirahat selesai!" Rinda hanya berdecak kesal. Hari pertama ospek yang sangat buruk, pikirnya. Perutnya lapar, tenggorokannya haus. Harusnya istirahat ini Rinda bisa melepas rasa lapar dan hausnya. "Kak maaf, apa Kakak yang bernama Arga Aliftian?" tanyanya pada salah satu kating cowok yang sedang duduk. "Ah bukan, kenalin nama saya Denis. Kamu yang namanya Rinda, ya?" orang itu tersenyum sok akrab sambil mengulurkan tangan. 'Dih, malah ngajak kenalan.' "Iya, Kak. Maaf saya buru-buru. Permisi ...." Rinda berlalu. Masih ada hal yang jauh lebih penting baginya. Akhirnya sepanjang istirahat Rinda hanya mencari seseorang yang bernama Arga Aliftian. Tapi tak kunjung ditemukan. Seingatnya seluruh kating dengan jas almamater biru itu sudah ia tanya satu-persatu. Tapi tidak ada yang mengaku bernama Arga Aliftian. Seperti sudah persekongkolan antar anggota BEM, setiap Rinda tanya yang mana Arga, mereka selalu menjawab agar Rinda mencarinya sendiri. Sedangkan ketua BEM sepertinya terus mengawasinya dari jauh. "Jangan-jangan yang namanya Arga Aliftian itu cewek lagi." gumamnya pelan sambil mengelap peluh di dahi. Rinda berjalan menghampiri kating perempuan yang sedang berkumpul. Saat ia bertanya adakah salah satu dari mereka yang bernama Arga, mereka malah tertawa terbahak-bahak. Sungguh, mahasiswa tingkat atas benar-benar menjengkelkan! Saat ada kesempatan, akhirnya ia beranikan diri bertanya pada dosen yang kebetulan sedang lewat. "Arga Aliftian? Oh dia itu ketua BEM, memangnya belum perkenalan BEM, ya?" sahut sang dosen. "Serius, Pak? Yang itu bukan orangnya?" Rinda menunjuk pada ketua BEM yang sedari tadi terus mengerjainya. "Iya itu Arga." Astagaaaa! Jadi dia sendiri yang namanya Arga Aliftian? Sungguh Rinda rasanya ingin tenggelam saja. Tapi setelah dipikir-pikir, memang hanya dia satu-satunya orang yang belum ditanya Rinda. Bodohnya gadis itu, kenapa sampai tidak terpikirkan bahwa ketua BEM itu juga bisa jadi bernama Arga. Dan memang dia lah Arga yang harus Rinda dapatkan tanda tangannya sebanyak mungkin. "Kak tanda tangan, Kak." pintanya pada Arga seraya menyodorkan kertas dan pulpen. Nampak memerah wajahnya, bibirnya sampai bersungut-sungut menahan kesal. Sedangkan sang ketua BEM yang bernama Arga itu terlihat menahan tawa. "Apa? 'Tolong'nya kok gak kedengeran, ya?" Ish! Sambil mengusap d**a agar tetap sabar, Rinda menarik napas dalam-dalam. "Kak. Tolong. Minta. Tanda tangan. Kak." ucapnya penuh penekanan. "Boleh, berapa?" "Yang banyak." "Kalo satu saya kasih cuma-cuma, tapi kalo banyak ada syaratnya." "Apa syaratnya?" Tidak menjawab, Arga malah mengeluarkan uang berwarna merah dari kantongnya. "Kamu ke kantin yang ada di belakang kampus, terus bilang sama penjaga kantinnya, beli minuman buat Arga. Gitu." Menghembuskan nafas kesal, Rinda menyentak kaki. Kenapa seolah laki-laki di hadapannya itu sengaja sekali mengerjainya habis-habisan? Akhirnya mau tak mau, gadis itu pun melengang pergi ke kantin. Menyerahkan uang dan menyampaikan pesanan sang ketua BEM, terlihat sang penjaga kantin langsung mengerti, lantas mengambil minuman s**u kotak rasa coklat di lemari pendingin. "Ini minumannya, Bu?" Tanya Rinda ragu. "Iya, Den Arga yang ganteng dan ketua BEM itu, 'kan? Dia emang langganan beli itu, Neng." Sesaat gadis dengan kulit putih itu terdiam dengan bibir terangkat sebelah. 'Demi apa laki-laki dewasa minum s**u bocah?’ Dan Rinda tak habis pikir. Waktu istirahat sudah hampir habis. Hari pertama yang melelahkan. Sayangnya Nathan, pacarnya yang juga berkuliah di sana bukan termasuk anggota Badan Eksekutif Mahasiswa. Mungkin jika Nathan termasuk dalam bagian dari mereka, Rinda tidak akan dikerjai sampai separah ini. Karena ada Nathan yang bisa melindunginya. "Nih Kak, s**u rasa cok-latnya." Sengaja Rinda menekan kata coklat yang langsung diambil oleh laki-laki tampan tersebut, tidak lupa ia menyerahkan kertas berikut tanda tangannya. "Apa liat-liat? Mau?" Tanya Arga saat Rinda mengamatinya yang sedang menyedot s**u dengan santai. Mendecih sesaat, ia bergumam lirih: "Kok bisa-bisanya laki-laki kaya gitu jadi ketua BEM." "Hey ngomong apa kamu? Saya dengar!!!" Sontak perempuan dengan rambut yang dikuncir dua itu langsung mengambil langkah seribu.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

DIHAMILI PAKSA Duda Mafia Anak 1

read
43.3K
bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook