Mengintai Gadis Aneh

1891 Kata
Mata Rinda membulat, ia membekap mulutnya karena kaget sekaligus tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. "Kenapa, Dek?" tanya Satria yang melihat perubahan ekspresi adiknya. "I-ini ... Kak Melinda kan, kak?" tanyanya sambil menyodorkan handphone-nya yang langsung diraih Satria. Sama seperti Rinda, mata laki-laki 28 tahun itu pun langsung membulat karena kaget. "Ya Tuhan, kenapa dia?" "I-itu, dia ... kakak baca aja caption-nya." Satria menuruti pesan adiknya, kini ia dibuat lebih kaget lagi saat membaca kalimat di atas unggahan tersebut. 'Kasihan banget, wanita ini diperkosa dan digilir oleh empat orang laki-laki yang biasa mabuk di kedai kosong ini.' Deg! Satria menurunkan handphone-nya, masih teringat jelas dalam ingatannya di mana perempuan itu berteriak penuh kepura-puraan, "Tolong!!! Saya mau diperkosa!" Lalu Tuhan benar-benar menunjukkan kuasa-Nya pada perempuan itu. Mengabulkan ucapan perempuan itu, sekarang ia benar-benar telah di perkosa, bahkan digilir oleh empat orang laki-laki biadab yang dikuasai setan. Apa yang terjadi pada Melinda kini benar-benar membuatnya tersadar akan sesuatu, Tuhan itu tidak tidur, setiap kejahatan yang ditanam akan dituai sendiri nantinya. Teringat pada kisah Geri dan keluarganya, mungkin inilah kuasa yang ingin Ia tunjukkan pada orang-orang yang sudah disakiti Melinda. "Tuhan sedang menunjukkan kuasa-Nya, Dek." ucap Satria masih cukup kaget. "Ya. Aku rasa dia sudah mendapatkan balasan perbuatannya, Kak." balas Rinda. "Meskipun begitu, kakak udah maafin dia. Kakak akan mencoba datang ke TKP sebelum ke toko, kasihan Melinda gak punya keluarga. Pasti dia butuh dukungan dan support." Rinda mengangguk setuju. "Iya, Kak. Tolong bantu dia sebisa kakak." "Pasti, Dek. Pasti." Rinda tersenyum. "Aku senang banget kakak bisa bersikap legowo. Hati kakak juga luas. Bahkan kakak udah maafin dia sebelum dia minta maaf." "Udah kewajiban kita sebagai sesama manusia bersikap seperti itu, Dek." Rinda manggut-manggut, lalu kembali tersenyum. *** Rinda berjalan cepat menuju taman belakang perpustakaan yang sepi, seperti biasa ia butuh ketenangan dan ingin sendirian. Ini adalah istirahat kuliah, gadis itu sedang menghindar dari Miska yang sedari tadi terus memanggil-manggil namanya. Sebab dari mata kuliah pertama, Miska sudah berpesan bahwa istirahat nanti mereka harus bersama. Rinda tak nyaman dengan gadis itu, jadilah ia menghindar. Tanpa disadari, Arga yang berada di depan perpustakaan tidak sengaja melihat gadis itu lewat. Hatinya tergerak untuk mengikuti Rinda, mengingat dua kali gadis itu terpergok dirinya sedang bicara sendiri, maka ia ingin tahu apa kali ini Rinda akan bicara sendirian lagi? Langkahnya perlahan tanpa suara berjalan ke belakang perpustakaan. Sedangkan Rinda, kali ini pandangan gadis itu langsung tertuju pada pohon rambutan yang teduh. Ia menghampiri pohon tersebut, memastikan apa ada orang di sana. Takut sekali ada kejadian seperti waktu itu, dimana kating rese yang selalu menjahilinya tiba-tiba muncul dan melompat dari atas pohon. Tambahan, bahkan laki-laki itu sempat menimpuknya dengan kulit rambutan. Jika mengingat hal itu, dia kesal sekali. Memang Rinda tidak mendapati ada orang di pohon teduh tersebut, tapi ia dibuat kaget saat melihat sosok hitam berbulu dengan mata merah tengah menatapnya dari dahan di atas sana. "Ma-maaf, kukira ada orang di pohon ini." ujar Rinda berbicara sesopan mungkin. Terdengar geraman dari sosok tersebut, entah apa tapi ia anggap itu sebagai jawaban dari sosok tersebut. "Aku ingin duduk di sana, kita masing-masing, ya?" ucapnya lagi kali ini sambil tersenyum. Arga yang bersembunyi di balik tembok perpustakaan melihat itu semua, hal ini membuatnya tertegun. Kali ini dia berasumsi, Rinda yang suka berbicara sendiri, bukan karena sedang latihan drama. Tapi ... mungkinkah gadis itu tengah berbicara dengan makhluk lain yang orang biasa katakan makhluk halus? Selama ini ia selalu berpikir logis, segala hal yang terjadi di dunia ini baginya pasti ada penjelasan ilmiahnya. Tapi tingkah gadis ini membuatnya tak habis pikir, atau mungkinkah gadis itu gila? Dalam keheranannya, Arga melihat Rinda kini berjalan menuju ayunan besi. Sambil berjalan gadis itu menggumam, "Aman, gak ada siapa-siapa di tempat ini. Huh, baguslah kating rese itu gak ada lagi di sini. Kalau ada dia, mungkin darahku bisa-bisa tinggi karena dijahilin terus. Dasar kating rese!" gerutunya sendirian. Arga yang mendengarnya langsung membulatkan mata, tanpa sadar dia juga menggerutu sendiri. "Dasar cewe jadi-jadian. Aneh banget jadi cewek!" ucapnya sambil menggelengkan kepala. Rinda melihat sosok wanita yang kemarin tengah duduk di ayunan tersebut, seperti biasa wanita itu duduk di sana. Memang di sana tempatnya. "Hai!" sapa Rinda sambil tersenyum lebar. "Halo." "Aku datang lagi ke sini." "Kau gak punya teman, ya?" "Ada, tapi ... aku punya kesulitan sendiri berteman dengan mereka." jawabnya sambil menggigit bibirnya. "Karena kau bisa membaca pikiran?" "Iya. Kau tahu?" "Ya." "Gara-gara kemampuanku itu, aku jadi tahu isi hati mereka. Mereka yang diam-diam ternyata iri padaku, mereka yang diam-diam membenciku dan mengumpat tentang diriku di hatinya, bahkan mereka yang pura-pura baik di hadapanku tapi hanya untuk tujuan tertentu." "Atas alasan itu kau lebih suka berteman dengan kami?" "Iya, kau juga benar." Mata Arga memicing, mendengar ucapan Rinda yang kali ini seperti tengah berbicara pada seseorang tapi entah pada siapa. Kalimat yang diucapkan Rinda pun tidak bisa ia simak apa maksudnya. "Contohnya Miska, setiap kali istirahat dia selalu memanggil-manggil namaku. Aku sering sekali bersembunyi darinya. Aku tidak bisa berteman dengan dia yang mendekatiku karena niatnya hanya ingin numpang tenar. Sungguh, aku gak ngerti lagi. Padahal siapa juga yang tenar? Sebisa mungkin aku gak mau menonjol. Aku di sini untuk belajar, bukan untuk jadi orang populer. Aku ...." Kali ini Rinda seperti tak mampu meneruskan kalimatnya setelah mengeluarkan semua isi hatinya. "Ya aku mengerti, tentu tidak mudah jika kita terus bersama dengan orang yang pura-pura baik tapi hanya untuk mengambil keuntungan darimu." Rinda mengangguk. Sesak hatinya terasa sedikit berkurang saat ada seseorang yang bisa mengerti kesulitannya. Meski seseorang itu hanyalah .... Ahhh makanya, untuk saat ini Rinda lebih senang berteman dan bercerita dengan 'mereka'. Ketimbang berteman dengan mereka yang nyata, tapi hatinya dipenuhi dengan iri dengki. "Terima kasih kau sudah mengerti. Ngomong-ngomong namamu siapa?" tanya Rinda mengalihkan topik. "Aku Susan." "Aku Rinda. Aku juga punya teman yang lainnya yang sama sepertimu, namanya Susi." "Susan dan Susi." "Hahaha, nama kalian mirip. Lain kali aku akan mengajaknya ke sini, mungkin kalian bisa berteman dekat." "Iya. Ngomong-ngomong, apa kau sadar sesuatu?" "Apa?" "Di belakangmu." "Kenapa?" tanya Rinda tidak mengerti. "Tengoklah sendiri." Rinda menoleh ke belakang, Arga langsung berjongkok di balik tembok. Dalam hatinya ia berbicara, mengapa tiba-tiba Rinda menoleh ke arahnya? Padahal ia melihat gadis itu tengah asyik-asyiknya berbicara sendirian. "Tidak ada apa-apa." ujar Rinda yang terdengar di telinganya. Sedangkan Rinda menatap Susan dengan aneh, sosok tersebut seperti gemas dengan Rinda. "Coba kau lihat di balik tembok itu. Ada yang bersembunyi di sana." ujarnya memberi tahu. "Masa, sih?" Rinda langsung berjalan ke arah tembok yang disebutkan Susan, setelah sampai ia dibuat terkejut saat melihat Arga tengah berjongkok di sana lalu tersenyum lebar. "Kating rese?" ujarnya kaget. "Ohh hai cewek jadi-jadian!" sapanya sambil melambaikan tangan. Laki-laki itu berdiri sambil menepuk-nepuk pundaknya yang kotor karena bersentuhan dengan tembok yang kotor. "Namaku Rinda, bukan cewek jadi-jadian!" protes Rinda sambil cemberut. "Namaku Arga, bukan kating rese." balas Arga tak mau kalah. Berhadapan kembali dengan laki-laki di hadapannya, membuat Rinda mengamati Arga lekat-lekat. Memang benar, mau dilihat dari sisi manapun, Rinda tetap tidak melihat warna itu ada pada Arga. Warna yang bisa ia lihat pada setiap orang, warna yang bisa menggambarkan perasaan mereka. Tidak ada pada diri Arga. Tetapi mengapa? Hal ini membuat Rinda bingung, sebab ia tidak bisa membaca pikiran Arga. Apa yang laki-laki itu pikirkan tentangnya? Jujur, Rinda penasaran. Tapi sedikit banyak hal itu justru membuatnya merasa nyaman. Jika ada Arga di hadapannya, ia bisa berinteraksi seperti dulu lagi, yang normal. Tanpa mendengar suara hatinya. "Budu amat. Mau Arga kek, mau olahraga kek, mau daun saga kek, pokoknya yang aku tahu kakak kating rese." kukuh Rinda mempertahankan pendapatnya. "Heh bocil! Enak aja kalau ngomong!" "Kakak juga seenaknya kalau ngomong sama aku." "Astaga, bocil yang satu ini ngejawab terus kalau gue ngomong." kini Arga menggerutu. "Kakak ngapain di sini? Mata-matain aku, ya?" "Kamu sendiri ngapain di sini?" "Ish, balik nanya!" "Aku ini kan Ketua BEM di kampus ini. Setiap hari aku memang selalu berkeliling kemana-mana. Aku punya misi tersendiri, di sini kan banyak tempat-tempat yang bisa dibilang sepi, nah aku sering patroli ke tempat-tempat ini. Tujuannya apa? Untuk menertibkan para mahasiswa dan mahasiswinya. Kalau lagi untung, aku bisa menciduk mereka yang lagi berbuat nakal." panjang lebar Arga menjelaskan, Rinda mendengarkan dengan seksama. "Berbuat nakal?" "Iya. Misalnya ngisep, atau bahkan berbuat mesum." Rinda terdiam, teringat kejadian saat ia memergoki mantan pacarnya yang sedang m***m dengan wanita lain, hatinya mendadak panas jika mengingat itu. "Kalau aku lihat yang seperti itu, ya gak tanggung-tanggung aku berani melaporkan mereka ke pihak kampus. Supaya mereka dapat teguran. Nakal kok di lingkungan kampus, bikin malu dunia pendidikan aja." Rinda menatap Arga yang kini mulai terlihat serius, jarang sekali ia melihat laki-laki itu bersikap seperti itu. Biasanya laki-laki itu selalu terlihat santai, bahkan seringnya menyebalkan. Tapi di satu sisi ia tidak menyangka bahwa sosok Arga begitu peduli dengan kampus sebagai wadah pendidikan, pantas saja ia menjadi Ketua BEM. Pasti karena sifat kritis dan berani dalam bertindak itulah yang menjadikan ia mampu memimpin mahasiswa di kampus besar ini. "Baru belum lama ini aku juga lihat seseorang lagi berbuat mesum." kini wajah Rinda terlihat sendu. "Wah, aku kelewatan nih. Siapa orangnya? Kamu kenal?" Rinda terdiam sesaat. Apa ia harus memberitahukan hal itu? "Dia ... dia ...." "Siapa?" "Dia ...." "Siapa?" "Hmmmm, dia ...." Sepertinya Rinda sangat ragu, menyebutkan Nathan lah orangnya. "Dia, dia, dia ... cinta yang kutunggu tunggu tungguu ...." Eh kok malah nyanyi? Rinda langsung menoleh ke Arga. Ekspresi Rinda kini malah terlihat kebingungan. "Hahahaha ...." Arga tertawa saat melihat ekspresi Rinda yang baginya lucu. "Ish, kok ketawa?" "Muka kamu kaya orang mau pup!" "Ihhh kakak!!!!" "Hahahahaaa ...." "Kakak aneh, kenapa malah nyanyi? Sekarang juga malah ketawa gak jelas! Kating aneh, kating rese. Aku gak bisa berkata-kata lagi." ketusnya sambil mengerucutkan bibir. Sedangkan Arga masih tertawa-tawa, entah kenapa gadis aneh di hadapannya ini sangat menghibur baginya. "Ya abis kamu dia dia terus. Dia siapa? Kan jadi pengen nyanyi." ucap Arga saat tawanya sudah berhenti berderai. Rinda yang sempat memasang wajah cemberut tadi kini mulai terlihat sendu kembali. "Gak usah takut, bilang aja siapa orangnya? Kakak gak akan bawa-bawa nama kamu, kok." Kali ini suara Arga melunak. Bahkan ia membahasakan dirinya dengan sebutan 'kakak'. Sebab melihat ekspresi Rinda yang terlihat sendu, membuat hatinya langsung melunak seketika. "Dia ... Nathan, kak." jujur Rinda pada akhirnya. "Ohhh laki-laki itu lagi. Emang gak ada kapok-kapoknya dia itu!" Rinda mengerutkan keningnya heran, "Maksudnya, Kak?" "Kakak juga udah sering mergokin dia lagi m***m, bahkan ngisep juga sering." Kali ini Rinda kembali dibuat kaget, ia membekap mulutnya dengan tangan. "Ja-jadi dia itu ...." "Iya, dia memang mahasiswa yang udah langganan kena DO. Sudah sering dapat teguran, tapi ya ... gak ada kapoknya. Untung kamu udah putusin. Udah putus kan kalian?" Pertanyaan Arga malah membuat Rinda mengerutkan kening. "Heh, dasar kating kepo!" ketusnya lagi yang membuat Arga tersenyum. "Udah, semenjak aku melihat ternyata Nathan laki-laki gak bener, aku langsung putusin dia. Aku ... gak tau ternyata seburuk itu kepribadian dia. Aku pikir dia laki-laki baik dan setia. Tapi ternyata ...." "Heh, ngatain orang kepo, tapi kok akhirnya cerita juga?" ejek Arga yang membuat Rinda bersemu merah. "Oh iya, lupa. Habis aku pengen banget menyuarakan kekesalan aku sama orang lain mengenai laki-laki gak bener itu. Jadi kelepasan deh, maaf." Arga tersenyum lalu menggelengkan kepala. Pertemuan kemarin- kemarin seringnya mereka berdebat. Pertemuan kali ini selain perdebatan, gadis di hadapannya juga sempat curhat. Bagaimana dengan pertemuan mereka yang selanjutnya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN