Flashback 2

1042 Kata
Mendengar hal itu akhirnya Zavier mengalah, tapi dia tidak akan menjauh seperti apa yang opanya katakan. Zavier akan tetap melihat jenazah papanya itu meski harus membahayakan dirinya. Gading dan Zavier memutuskan berpisah disana, Gading akan menuju kediaman Liam. Sedangkan Zavier? Dia di minta oleh Gading untuk beristirahat di apartemen yang sudah dipersiapkan oleh sang opa untuknya. Tapi bukan Zavier namanya jika menurut begitu saja, dia sudah mempersiapkan suatu rencana. Gading tiba di kediaman Liam di jam 1 pagi, ternyata disana masih begitu ramai awak media yang ingin melihat jenazah putranya itu. Para awak media langsung menggerubungi mobil Gading dan memberikan pertanyaan untuknya. “Tuan apakah benar putra anda meninggal dunia karena serangan jantung tiba-tiba?” Ujar mereka namun sama sekali tidak di jawab oleh Gading. Tentu itu semua tidak benar, putranya itu adalah pria sehat yang selalu menjaga tubuhnya. Gading di bantu oleh para bodyguardnya langsung masuk ke rumah Liam yang megah itu. Ternyata disana sudah terparkir mobil mewah entah milik siapa, sepertinya mobil itu keluaran terbaru. Saat Gading masuk tatapannya langsung terpusat pada Peti mati yang berada di ruang tengah, bersama seorang wanita muda yang sibuk mengaji di sampingnya. Melihat hal itu Gading lantas mendekat sudah lama dia tidak mendengarkan lantunan ayat suci itu, saat dia melihat wanita itu tampak begitu cantik tampilannya begitu sederhana dan berhasil memikat hati. “Permisi maaf mengganggumu,” Ujar Gading pada wanita muda itu. Mendengar ada yang menyapanya, wanita itu lekas menghentikan bacaannya dan melirik ke asal suara dan mendapati seorang pria berusia lanjut namun begitu gagah berdiri di sampingnya. “Ah maaf tuan, saya lancang sudah membaca alquran disini.” Gading tersenyum dan menggeleng, “Terimakasih sudah membacanya untuk putraku, siapa namamu? Ujar Gading. Wanita itu tersenyum, “Nama saya adalah Olivine saya adalah pembantu tuan Radian. Saya diminta disini untuk menjaga jenazah tuan Liam,” Ujarnya. Mendengar hal itu Gading lantas duduk di samping keranda Liam dan berhadapan dengan Olivine. “Apa kamu hanya seorang diri disini, dimana tuanmu?” Olivine tersenyum dan menutup kitab suci itu, “Mereka ada di atas beristirahat, saya disini bersama ibu saya. Tapi ibu saya sedang ada di belakang menyiapkan air untuk pemandian jenazah tuan Liam besok.” Mendengar hal itu Gading terlihat tersenyum, ternyata ada yang perduli pada putranya itu. “Apa kamu mengenal baik putraku Olivine?” tanya Gading sambil menatap kaca bening yang memisahkan dirinya dengan sang anak. Olivine mengangguk dan ikut menatap ke arah Liam, “Tuan Liam pria baik, dia laki-laki ramah dan juga tidak pelit ilmu dia selalu mau berbicara denganku begitu lembut berbeda dengan tuan Radian” lirihnya di akhir kalimat. Mendengar hal itu Gading menatap Olivine “Apa kamu tidak diperlukan dengan baik Olivine?” tanya Gading. ”Ah maaf tuan, tidak seperti itu, “ Jawab Olivine sambil tersenyum kecut. “Olivine, kamu bersama siapa?” Tiba-tiba saja Kasih datang dan menghampiri mereka. Gading tersenyum, “Kenalkan saya Gading ayah dari Liam,” Gading mengulurkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan Kasih dan hal itu membuatnya terkejut. “ah tuan tangan saya kotor,” Ujarnya tidak enak meskipun tangannya tampak bersih, dia hanya takut Gading tidak biasa bersalaman dengan rakyat kecil sepertinya. “Apa masalahnya,” Ujar Gading membuat Kasih terharu dan mengelap tangannya ke baju lusuhnya, kemudian menjabat tangan Gading itu. “Jadi tuan adalah pria yang sering diceritakan oleh tuan Liam,” Ujar Kasih dan di angguki oleh Olivine. “Benarkah, apa yang dia ceritakan?” tanya Gading tampak haru. “Dia mengatakan anda adalah pria terbaik yang pernah dia miliki, anda lebih dari seorang pahlawan di dalam hidupnya dia selalu mengatakan jika ada kehidupan lain dia ingin hidup bersama istri anak, ibu dan juga ayahnya.” Mendengar hal itu Gading meneteskan air mata, tentu saja Liam menginginkan hal itu karena dia begitu kesepian sejak kepergian istri, ibu dan juga dirinya bersama Zavier. Gading menatap ke arah peti itu dan memeluknya, “Maafkan aku Liam, maafkan aku, sungguh pahlawanmu ini gagal menjadi sosok yang engkau mau. Sungguh bukan ini inginku, bangunlah nak,” isak Gading. Melihat itu Olivine mengelus pundak gagah itu, “Tuan, ikhlaskan tuan Liam, dia pasti bahagia melihat anda sudah datang,” ujarnya. “aku adalah pria jahat aku tidak bisa menjadi pahlawan bagi putraku.” Mendengar hal itu Olivine menggeleng, “Dari semua cerita yang tuan Liam katakan, tidak ada sedikitpun terbersit bahwa anda pria yang gagal justru anda begitu sukses karena membuat tuan Liam menjadi pria yang begitu baik dan sukses.” “Benarkah?” ujar Gading membuat Olivine mengangguk mantap, “Jangan bersedih tuan, tuan Liam tidak suka itu jadilah kuat untuknya.” Mendengar hal itu Gading mengusap wajahnya dengan kasar, “Bolehkah kita membacanya lagi Olivine? Tuntun aku untuk ikut bersamamu, aku mungkin sudah tidak bisa membacanya lagi,”Ujarnya pada Olivine bermaksud untuk membaca Alquran. Olivine mengangguk dan menyerahkan sebuah Alquran pada Gading, “Ini tuan mari kita membacanya bersama.” Gading, Olivine serta Kasih lantas membaca alquran di samping peti mati Liam, disana tumpahan air mata Gading terus mengalir deras karena kini dia tahu betapa jauhnya dirinya dengan sang Pencipta. ** Zavier menatap bangunan menjulang tinggi di depannya dengan tampan tajam, kemudian dia menatap benda yang ada di tangannya, “Aku harus melakukan ini.” Kondisi rumah yang kini telah sepi membuat Zavier nekat melakukan aksinya, dia berfikir tidak mungkin ada orang yang menjaga mayat sang papa di saat malam seperti ini. Zavier menutup wajahnya dengan benda yang berbentuk topeng itu, kemudian Zavier langsung memanjat tembok rumah Liam untuk bisa masuk ke halaman. Bruk! Tubuh Zavier mendarat sempurna di atas rerumputan hijau, saat dia melihat konstruksi bangunan itu ternyata sama sekali tidak ada yang berubah bahkan catnya masih berwarna sama seperti dulu saat dia tinggalkan. Zavier langsung mengendap masuk dan berjalan tanpa suara menuju ruang tengah, dia yakin disana mayat sang papa berada. Saat sudah berada di dinding pembatas ruangan Zavier melihat Olivine yang sedang tertidur tepat di samping keranda itu, sedangkan Gading tidak ada disana. “Siapa dia, apa yang dia lakukan disitu?” Zavier lantas berjalan cepat kesana karena waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi. Saat dia mendekat tatapannya langsung melirik kearah Olivine yang tertidur pulas meski hanya di atas karpet sederhana. Tidak mau menyia-nyiakan waktu Zavier lantas membuka peti itu untuk bisa memeluk tubuh sang papa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN