Flashback on

1101 Kata
Drt Drt Suara handphone berdering dengan keras di atas nakas membuat Zavier terbangun dari tidurnya. Zavier meraih handphone itu dan melihat Siapakah gerangan yang sudah mengganggunya di pagi hari itu? Benar-benar tidak sopan. “Papa?” Gumam Zavier karena sudah lama sekali dia tidak berkomunikasi dengan papanya itu. Dengan jantung berdebar Zavier lantas menjawab panggilan itu, “Halo,” Lirihnya dengan suara nyaris bergetar. Liam yang ada di seberang sana tampak tersenyum senang, suara yang dia rindukan kini kembali terdengar. “Apa ini kamu nak?” ujar Liam yang ekspresinya benar-benar bahagia. ”Tentu ini adalah aku,” jawab Zavier sambil menunduk dalam. “Nak, apa kamu masih marah pada papa?” ujar Liam. Zavier menghembuskan nafasnya kasar, “Jangan bahas itu aku tidak ingin mengingatnya.” Liam mengangguk dia paham bagaimana perasaan putranya itu. Hancur, sama sepertinya begitu hancur karena kehilangan istri anak dan juga keluarganya. ”Ada apa?” ujar Zavier membuat Liam tersadar dari lamunannya. “Papa ingin kamu pulang, papa sudah tua pulanglah nak semua ini milikmu,” ujar Liam dengan maksud bahwa semua harta tahta yang dia miliki kini adalah hak Zavier. Zavier terdiam, bukan dia tidak ingin pulang tapi sudah terlalu lama dirinya jauh dari sang ayah. Apakah tidak akan ada hal yang berbeda? Sedangkan mereka sudah berpisah puluhan tahun lamanya. “Aku akan pikirkan,” jawab Zavier berusaha tidak menyakiti hati sang papa. “Papa yakin kamu masih begitu marah, tidak masalah nak jika kamu tidak ingin bertemu papa tapi tolong jaga amanah papa ini. Papa sudah memperjuangkannya untukmu, semua milikmu nak biarkan papa pergi dengan tenang untuk bertemu mamamu.” Mendengar kata terakhir yang diucapkan Liam hati Zavier tiba-tiba berdegub kencang, nafasnya tampak tersenggal – senggal membuatnya sedikit sesak. “Papa tutup ya Zavier, salam pada opamu katakan bahwa putranya ini rindu, katakan padanya papa ingin bertemu dengannya meski untuk terakhir kalinya.” Setelah mengatakan hal itu sambungan telepon terputus begitu saja, tapi berhasil membuat perasaan Zavier tidak baik-baik saja. Zavier bangkit dari posisinya dan berlari keluar dari kamarnya, dia harus menemui opanya. Ucapan Liam tadi terlalu ambigu untuknya membuat hatinya tidak aman. “Opa, dimana dirimu?” panggil Zavier pada Gading yang kini tengah berada di kolam ikannya. Gading yang mendengar teriakan cucu kesayangannya itu lantas berbalik dan melambaikan tangan ke arah rumah, memberi kode pada Zavier bahwa dia ada disana. Zavier yang melihat sang kakek berada di dekat kolam lekas saja berlari kesana, “Opa apa papa menghubungimu?” Mendengar pertanyaan itu Gading langsung melirik ke arah Zavier “Liam menghubungimu?” tanya Gading dan di sambut anggukan oleh Zavier. “Entah apa yang dia mau, dia meminta aku untuk pulang dan menginginkan dirimu untuk bertemu dengannya untuk terakhir kalinya.” Wajah Gading tampak tegang keterkejutan jelas terpampang di wajahnya. “Apa dia sedang sakit?” Zavier menggeleng, “Entahlah aku tidak sempat bertanya, aku terlalu syok saat dia menghubungiku aku mengira selama ini dia sudah melupakanku.” Zavier duduk di atas rerumputan sambil menekuk kakinya, “Apa dia sudah menyadari kesalahannya?” lirihnya saat mengingat bagaimana dia bisa berpisah dengan sang papa karena kematian sang ibu. Gading meletakkan pancingnya di atas tanah, “Sudah sakit hatimu Zavier, sampai saat ini tidak ada yang tahu soal kematian mamamu, opa paham bagaimana perasaanmu.” “Tapi mama tertembak opa, dan pistol itu berada di tangan Liam, kurang bukti apa lagi?” Gading menatap hamparan tanaman di depannya, “Dunia bisnis itu keji, apapun bisa terjadi bahkan yang tidak masuk di akal juga bisa saja menembus akal. Pulanglah Zavier mungkin ini saatnya kamu bertemu dengannya.” Mendengar hal itu Zavier terdiam, dia pun ingin bertemu dengan Liam, dia pun merindukan pria yang bergelar papa itu. Tapi sisi keegoisan dalam dirinya seakan menolak untuk mengakui semua itu. ** Dua hari sudah sejak Liam menghubungi Zavier namun tidak ada tanda-tanda Zavier akan pulang seperti keinginan papanya. Namun pagi ini ada hal menggemparkan yang tiba-tiba saja membuat mereka terkejut luar biasa. “Berita duka datang dari negara tetangga, seorang pengusaha sukses yang sudah cukup terkenal di dunia bisnis harus menghembuskan nafas terakhirnya di kursi kekuasaannya sendiri. Dari hasil otopsi tidak ditemukan apapun, dan dipastikan kematian sang raja bisnis ini murni karena usia.” Foto-foto kenangan tiba-tiba dimunculkan, dimana sang raja bisnis itu berhasil mengepak sayapnya di kancah nasional dan internasional. Banyak penghargaan yang diterima olehnya bahkan menjadi pebisnis nomor 2 tersukses di dunia. “Zavier, Zavier kemarilah lihatlah ini!” teriak Gading memanggil cucunya itu. Mendengar teriakan sang opa Zavier yang berada di dapur lantas berlari dengan tergopoh-gopoh untuk melihat apa yang terjadi. “opa kenapa berteriak seperti itu, ada apa?” ujar Zavier. “Lihat itu,” Gading menunjuk ke arah televisi yang menyala dengan siaran seorang reporter yang tengah sibuk menyiarkan bagaimana kondisi kediâman Liam. Jantung Zavier berdegub kencang, “papa,”Lirihnya bahkan hampir tidak terdengar. “Zavier, papa mu sudah tiada dia sudah meninggal dunia.” Mendengar ucapan sang kakek tubuh Zavier langsung luruh ke lantai, tatapan matanya tampak sayu ke arah TV, ketegasan yang terlihat seakan hilang saat itu. Bahkan wajah dan tubuh Zavier terlihat begitu lemas. “Pulanglah Zavier, kau harus pulang pâpamu sudah tiada dan kita terlambat untuk menuruti keinginannya.” Tatapan Zavier beralih pada sang opa, “Ini tidak benar kan? Ini hanya berita bohong kan?” Gading memeluk tubuh tegap itu dengan air mata, “Tidak nak, ini nyata ayahmu putraku sudah pergi meninggalkan kita.” Mendengar hal itu luruh sudah air mata Zavier, penyesalan langsung menelusup di dalam dadanya. Seakan menyalahkan dirinya yang tidak ada disaat detik terakhir hidupnya. “Aku harus pulang opa,” Zavier langsung bangkit dan berlari ke arah kamarnya dia akan pulang dengan jet pribadinya, dia harus melihat papanya meski untuk terakhir kalinya. ** Gading dan Zavier tiba di Indonesia pada malam hari, tidak ada pemberitaan khusus tentang kepulangan mereka karena Gading khawatir cucunya tidak nyaman. Saat jet pribadi itu mendarat Gading menatap cucunya itu dengan dalam, “Nak, kita belum tahu apa yang sebenarnya terjadi opa ingin kamu hanya melihat ayahmu dari kejauhan tidak perlu dari dekat.” Mendengar hal itu Zavier tidak setuju, “Tidak opa, aku ingin melihatnya secara dekat dan memeluknya jangan halangi aku!” tegas Zavier. Gading menahan tubuh cucunya itu, “Opa mohon, tidak ada yang kebetulan di dunia ini dengarkan opa. Opa tidak bisa bila kamu terlibat masalah setelah ini jika nekat melihat ayahmu.” Bukan tanpa alasan Gading mengatakan semua itu, sebelum mereka mendarat Gading sudah mendapatkan informasi penting soal kematian Liam yaitu tidak ada otopsi yang dilakukan seperti di dalam pemberitaan, dan juga jenazah Liam sudah di urus oleh seorang temannya bernama Radian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN