Dor, Dor, Dor
Tembakan beruntun yang di lepaskan pasukan Zavier yang sedang mengepung rumah Radian, Zavier yang memegang pistol paling berbahaya di dunia itu menatap tajam seisi ruangan yang sudah porak poranda karena pasukannya.
”Cari mereka, hidup atau mati!" teriak Zavier menggema di semua ruangan.
Para pasukan Zavier lantas berpencar mencari semua orang yang menjadi sasaran mereka hari ini.
"Aku akan menemukanmu, brak!" Zavier menendang pintu dan mendapati seorang wanita yang tengah terikat dengan mulut tersumpal.
Zavier tersenyum dan berjalan mendekat ke arah wanita itu, terlihat wanita itu menggeleng panik seakan memohon agar Zavier tidak mendekat ke arahnya.
“Ternyata kita bertemu lagi,kau masih mengingatku nona?" lirih Zavier sambil membuka penutup wajahnya. "Katakan padaku dimana mereka," Zavier mengarahkan pistol itu tepat di kepala wanita itu.
Mata wanita itu seakan ingin keluar dari tempatnya, jantungnya berdebar kencang.
"Eeeee, eeee!" teriaknya tertahan karena mulut yang tersumpal.
Şrek! Zavier melepaskan sumpalan itu dengan kasar, matanya semakin tajam pada wanita itu.
”Katakan padaku dimana mereka!" teriaknya.
"Saya tidak tahu tuan saya tidak tahu," lirihnya dengan tubuh bergetar ketakutan.
Brak! Zavier menendang meja yang ada di sampingnya dengan mata melotot tajam, "Kau ingin membohongiku hah? apa kau tahu aku bisa melakukan apa padamu," geram Zavier.
wanita itu menggeleng dengan mata basah karena menangis, "Saya benar-benar tidak tahu tuan, bahkan saya juga korban disini mereka pergi dan meninggalkan saya."
"Bohong, kau penipu kalian keluarga penipu!" teriak Zavier.
Şrek, Zavier menarik kepala wanita itu dengan kasar hingga kepalanya mendongak ke atas, "Jika kau berbohong maka peluru ini akan menembus otakmu dan kau akan menjadi mayat setelah ini."
”Saya berani bersumpah tuan," lirihnya dan tiba-tiba bruk! wanita itu pingsan.
**
“Akh kemana mereka!" teriak Zavier frustasi dia benar-benar emosi karena tidak bisa menemukan pria yang menjadi incarannya.
“Zavier tenangkan dirimu, aku yakin mereka sengaja meninggalkan tempat itu sebelum kita tiba disana."
Zavier mengepalkan tangannya dengan kuat, "Kau sudah tahu siapa wanita itu?" tanya Zavier dan di angguki oleh kevin.
”Dia adalah anak Radian," jawab Kevin membuat Zavier menyeringai karena rencana licik kini hadir di pikirannya.
Zavier berbalik, "Aku tahu niatmu Zavier dia tidak bersalah," ujar Kevin.
Zavier tersenyum sinis, "Kau membelanya? kau membela seorang pembunuh? di dalam darahnya mengalir darah Radian jika Radian tidak aku temukan maka dia yang harus bertanggung jawab atas semua hal yang telah terjadi."
Kevin menahan tubuh Zavier, "Zavier lihatlah dia tubuhnya begitu kurus dan lemah, bahkan aku melihat di tubuhnya banyak bekas luka bakar, aku tidak yakin dengan rencanamu Zavier."
“Sepertinya kau begitu perduli padanya? apa kau tahu, disini aku kehilangan kedua orang tuaku karena Radian lalu kenapa kau melarangku untuk membalasnya?"
Kevin menunduk dalam, “Aku tahu Zavier, tapi bukankah tidak adil jika kau membalas perbuatan Radian pada anaknya."
Zavier tersenyum sinis, "Bahkan aku juga menjadi korban atas ketidakadilan Radian," ujarnya membuat Kevin terdiam.
**
Byur!
Zavier menyiram wajah wanita yang tertidur itu dengan air dingin, hingga membuatnya tersentak kaget dan terbangun.
“Bangun!" bentak Zavier.
Tubuh wanita itu bergetar hebat, "Tuan saya tidak tahu apapun tuan saya berkata jujur."
Brak! pyar
Zavier melemparkan gelas itu hingga hancur berkeping-keping, “Katakan padaku dimana Radian," tegas Zavier.
“Saya tidak tahu tuan, Tuan Radian dan nyonya Mika meninggalkan saya di rumah mereka mengikat saya."
”Nyonya, tuan? hahahahha," Zavier tertawa sambil menutup wajahnya, “Kau sedang mencoba berbohong padaku? aku tahu kau adalah anak Radian."
Wanita itu menggeleng, ”Saya anak pembantunya tuan, anak tuan Radian adalah Intan sedangkan saya adalah Olivine," ujarnya.
“Oh begitu?" Ulang Zavier, "Lalu dimana mereka sekarang, ayo jujurlah kau akan aman jika jujur padaku."
”Jika saya tahu maka saya pasti akan memberitahunya tuan, saya baru saja keluar dari rumah sakit saya juga mencari ibu saya," lirihnya dengan wajah tertunduk dalam.
Zavier benar-benar kesal dengan wanita yang mengaku sebagai pembantu Radian itu, cih apa dia kira Kevin begitu bodoh hingga salah memberikan informasi.
"Baiklah, aku memberimu kesempatan untuk berubah pikiran, besok aku akan datang kembali jika kau masih belum mau membuka mulut soal keberadaan Radian maka bersiaplah untuk neraka selanjutnya."
Zavier memutar tubuhnya dan berjalan tegap ke arah pintu, "Oh iya satu lagi," ujar Zavier sambil melirik dengan ekor matanya, "Jangan mencoba untuk melarikan diri, kau akan merasakan akibatnya jika berani untuk melakukan itu."
Setelah mengatakan hal itu Zavier benar-benar meninggalkan Olivine di kamar pengap itu, Olivine menangis kuat sambil memanggil nama ibunya.
“Jaga ketat ruangan ini jangan biarkan dia lolos, jangan beri dia makan mengerti?"
"Baik tuan," ujae para anggota Zavier.
Zavier akan terus mencari keberadaan Radian, dengan ataupun tidak dengan pengakuan Olivine dia pasti akan menemukan keluarga pengecut itu dimana pun mereka berada.
**
“Pah bagaimana ini, kenapa tiba-tiba kita kecolongan seperti ini? papa mengatakan jika pria itu sudah mat* lalu siapa dia pah?"
Radian menggeleng, "Papa juga tidak tahu kenapa dia masih hidup, papa yakin putra Liam dan Sonia sudah meninggal."
“Pah sepertinya Olivine sudah di tangkap oleh mereka, mama yakin dia akan menderita disana."
Radian mengangguk, "Biarkan saja, itu semua cara agar Intan tidak menjadi incaran mereka. Biarkan anak itu yang menjadi tameng kita saat ini, papa yakin putra Liam akan menyiksa Olivine."
Kedua pasutri itu mengangguk, mereka cukup bernafas lega kali ini karena bisa lolos dari kejaran pasukan Zavier dan menjadikan Olivine sebagai kambing hitam, mereka tidak akan membiarkan Intan yang menjadi sasaran empuk atas kejahatan yang telah mereka lakukan.
“Lalu bagaimana dengan makam Kasih?"
Radian menunduk, ”Kasih sudah di kremasi, aku tidak mau mengambil resiko apapun biarkan saja abunya juga sudah di larung ke lautan."
Mika tersenyum, "Artinya kita aman sekarang, kita bisa hidup tenang tanpa ada bayang-bayang mereka disini."
Radian mengangguk, "Kamu benar Mika, tapi kita harus tetap waspada aku khawatir jika Olivine justru bisa membuat anak Liam percaya padanya, aku yakin setelah itu pasti dia akan mencari kita."
"Tenang saja, wanita bodoh itu tidak akan mungkin bisa melakukan semua itu. Sudah jangan di pikirkan pasti putra Liam yakin jika itu adalah anak kita, lagipula kamu sudah mengubah data itu kan?"
Radian mengangguk, "Aku sudah memanipulasi semuanya dan aku menjadikan Olivine sebagai anak kita."