Menjadi pembantu

1003 Kata
Zavier sudah memutuskan untuk mengikuti kemauan Kevin, "Beri dia makan obati lukanya, setelah itu berikan dia pekerjaan yang banyak jangan biarkan dia beristirahat sebelum dia benar-benar lelah. jangan ada yang kasihan padanya karena aku tidak membayar kalian untuk itu." Para pembantu itu menunduk, "Baik tuan," jawab mereka. "Ini pakai, jangan manja kamu tuan muda tidak suka jika kamu bermalas -malasan," ujar seorang pembantu yang seumuran Olivine sambil melemparkan pakaian lusuh. Olivine meraih pakaian itu, "Terimakasih," ujarnya. Wanita itu melipat kedua tangannya di depan d**a, "Ingat ya kamu harus menurut pada kami semua, jika tidak kami tidak akan segan melaporkan kamu kepada tuan muda." Ceklek Olivine dan wanita itu melirik ke arah pintu yang terbuka, ternyata itu Kevin dia terlihat mengenakan kaos pendek dengan lengan yang sudah di perban. "Tuan," hormat wanita itu sambil membungkukkan badan. "Keluar kamu Rahmi biar saya yang obati luka Olivine," ujarnya tegas. "Tapi tuan ini perintah tuan muda," jawab wanita bernama Rahmi itu. "Keluar, saya bisa mengobati Olivine silahkan kembali bekerja." Wanita itu tampak cemberut pada Olivine, dia keluar dari kamar itu dengan wajah tidak suka tentunya pada Olivine. Kevin berjalan mendekat ke arah Olivine, tubuh Olivine begitu kotor pakaiannya juga sangat jorok karena sejak pertama dia di tangkap dia sama sekali tidak berganti baju. "Mari aku obati lukamu," ujar Kevin sambil berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Olivine. Kevin membasahi handuk kecil dengan air hangat untuk mengompres luka di bibir dan wajah Olivine, agar kuman dan kotoran yang hinggap disana bersih hingga tidak menimbulkan infeksi. "Tuan," Olivine menahan tangan Kevin yang sedang mengompres wajahnya. "Ada apa? apa sakit?" tanya Kevin karena Olivine menghentikannya. Olivine menggeleng, ”Tuan percaya kan pada saya?" tanya Olivine dengan nada penuh harap dan mata berkaca-kaca. Kevin berusaha tersenyum untuk menghibur hati Olivine, ”Saya percaya padamu, sudah ya kita obati luka ini," ujar Kevin lagi sambil kembali mengompres luka itu. "Saya bukan anak tuan Radian tuan, saya anak ibu saya dan dia bernama Kasih tuan bisa cari ibu saya?" tanya Olivine. Kevin yang merasa kasihan dengan Olivine itu lantas bertanya, "Memang ibumu kemana Olivine? kenapa dia meninggalkanmu?" tanya Kevin dia berharap bisa mengorek informasi dari Olivine agar pencariannya semakin mudah. Olivine menggeleng, "Dia menghilang sehari sebelum saya di tangkap tuan, saya sudah berusaha mencarinya tapi tuan Radian juga nyonya Mika dan juga Nona Intan justru menyekap saya." "Kenapa ibumu menghilang, apa ada sesuatu sebelumnya?" Olivine mengangguk, matanya tampak menerawa jauh ke depan, "Ibu terlihat panik saat turun dari lantai atas, ibu menarikku ke dalam kamar kemudian meminta aku pergi meninggalkan rumah tuan Radian saat malam." "Lalu kamu pergi?" Olivine menggeleng, "Aku tidak mengerti maksud ibu, tapi setelah ibu memberikan uang dan juga mengemasi barangku tuan Radian membawa ibu pergi hingga malam tiba tuan Radian pulang seorang diri tanpa ibu." Kevin tampak terdiam mendengar ucapan Olivine, dia merasa wanita di depannya itu tidak sedang berbohong atau berhalu karena alasan gangguan mental dia memang tampak yakin dengan ucapannya. Olivine melirik Kevin dan menatap mata itu, "Saya sudah tidak punya harapan apapun untuk bertahan tuan, tolong cari ibu saya. saya hanya takut, ketika saya mat* di tempat ini justru ibu datang dan mencari saya, saya tidak mau dia bersedih." Ucapan Olivine itu berhasil menyayat hati Kevin, Olivine hanya memikirkan nasib ibunya tidak dengan nasibnya jika benar apa yang Olivine katakan maka begitu berdosalah Zavier telah melakukan semua ini padanya. Kevin menutup matanya dan menarik nafas dalam dan tersenyum sendu pada Olivine, "Saya berjanji akan mencari dimana ibu kamu, sekarang kamu harus sehat lakukan saja pekerjaan di rumah ini tanpa membantah apapun ya saya yakin semuanya akan terungkap." Olivine tersenyum dia merasa ada semangat baru Untuknya, "Ya tuan terimak sudah menolong saya, jika ibu sudah ditemukan katakan padanya jika saya baik-baik saja." Kevin mengangguk dan mengobati luka Olivine dengan obat merah, "Nanti kamu minum ini ya, ini bagus untuk mempercepat memulihkan luka kamu," ujar Kevin memberikan obat minum pada Olivine. Olivine menerima obat itu dengan senyuman tulus, "Anda adalah satu-satunya pria baik yang pernah saya temui tuan, terimakasih ya," ucapnya tulus. Olivine dan Kevin sama-sama tersenyum bahagia, tanpa mereka sadari sejak tadi ada Zavier yang berdiri di dinding pembatas ruangan. hatinya pilu mendengar harapan Olivine, tapi dia pun sakit ketika menyadari siapa Olivine sebenarnya. "Saya pamit dulu Olivine, jaga diri kamu," ujar Kevin membuat Zavier yang berdiri di dinding pembatas itu pergi dari sana. ** "Heh, kamu itu ngerti masak gak sih hah tuan muda minta sayur bening ayam goreng kenapa kamu malah buat udang goreng sekarang?" bentak Rahmi yang melihat masakan Olivine. "Maaf mbak tidak ada ayam di dalam kulkas." "Kamu itu bod*h atau bagaimana, kulkas itu ada dua kalau disini tidak ada berarti adanya disini," Wanita itu berjalan mendekat ke arah kulkas satunya dan mengeluarkan ayam dari sana. "Dasar gak punya mata lo," kesalnya sambil meletakkan ayam itu dengan kasar di atas meja. Olivine menghembuskan nafas kasar, "Maaf mbak, saya akan masak ayamnya." Olivine membawa ayam itu ke wastafel untuk dibersihkan, dia tidak banyak bicara karena itu hanya akan membuatnya terlibat dalam masalah. "Kenapa belum ada makanan yang tersaji di meja, tuan muda sebentar lagi bangun!" Tiba-tiba seorang ART yang lumayan sepuh datang ke dapur. "Wanita ini sengaja berlama, lihat dia hanya memasak udang dan sayur bening saja padahal tuan muda meminta ayam." ART sepuh itu menggeleng, "Benar- benar tidak bisa di andalkan, cepat kamu masak itu sebelum tuan muda bangun!" Olivine mengangguk, "Iya buk sebentar lagi selesai," ujarnya sambil memarinasi ayam itu. Olivine segera memanaskan minyak untuk menggoreng ayam itu. "Rahmi kamu awasi dia ya saya mau ke atas." Rahmi mengangguk dan tersenyum senang, dia memang kurang suka dengan Olivine entahlah dia menganggap Olivine adalah ancaman besar untuknya dalam hal mendekati tuan muda. Karena apa? tentu karena Olivine lebih cantik darinya, tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih bersih, hidungnya mancung dan bibirnya merah. Saat Olivine sibuk menggoreng ayam itu Rahmi tampak memperhatikan keadaan sekitar, dia berjalan pelan mendekat ke arah Olivine. kemudian dengan sengaja menyenggol tangan Olivine, yang tengah membalikkan ayam itu hingga minyak panas itu tumpah dan mengenai tangannya. "Akhh panas!" teriak Olivine berlari ke wastafel.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN