Rahmi terlihat tersenyum puas, tidak ada ketakutan di wajahnya dia berjalan dengan santai meraih spatula yang sempat jatuh kemudian membalikkan ayam itu agar tidak gosong.
"Loh Rahmi kenapa malah kamu yang masak?" tegur ART paruh baya itu.
"Tidak masalah bi Imah mungkin Olivine tidak mau mengerjakan pekerjaan ini karena dia itu anak orang kaya."
Olivine yang tengah mendinginkan bekas minyak itu menoleh dan menggeleng tegas, "Mbak kenapa kamu seperti itu, saya terkena minyak panas ini karena kamu loh!"
Rahmi mematikan kompor itu karena sudah selesai memasak ayam, "Lihat tu bi baru sehari jadi pembantu sudah banyak ngawurnya," ujar Rahmi membuat Bi Imah kesal pada Olivine.
Bi Imah mendekat ke arah Olivine dan menarik tangan Olivine yang terkena minyak itu, "Kamu ingin caper iya? agar tuan muda kasihan padamu begitu? heh kamu itu disini jadi pembantu!" teriak Bi Imah membuat Olivine tertunduk.
"Saya gak suka ya kamu itu manja begini, mana sakitnya mana!" ujarnya sambil menekan bekas tangan yang terkena minyak panas itu.
"Akh bi jangan di tekan seperti itu bi, akh sakit bi sakit," rintih Olivine sangking sakitnya.
"Halah manja," Bi Imah mendorong tangan Olivine dengan kasar, "Saya tidak suka dengan wanita manja seperti kamu, dasar anak manja!" teriaknya sambil menunjuk wajah Olivine dan pergi dari sana.
Mata Olivine berkaca-kaca, dia berusaha agar bulir bening itu tidak terjatuh dia mendongakkan wajahnya sambil menarik nafas dalam untuk sekedar menguatkan hatinya.
"Olivine!" teriak seseorang dari ruang makan.
Olivine bergegas mengelap wajahnya dan berjalan cepat menuju ruang makan, saat dia tiba disana ternyata Zavier sudah duduk dengan tatapan tajam dan wajah merah padam.
"Apa maksud kamu ini hah?" teriak Zavier sambil mengangkat udang yang tadi Olivine goreng.
Olivine yang tidak mengerti lantas melirik ke arah Rahmi, namun wanita itu terlihat tersenyum sinis padanya.
"Saya minta ayam bukan udang, kamu ingin membun*h saya dengan makanan ini iya? harusnya kamu tahu saya tidak bisa makan udang," bentak Zavier.
"Tapi tuan saya sudah memasak ayam, sungguh tuan saya tidak bohong."
"Lalu dimana ayamnya Olivine, apa kamu melihat ayam di meja makan ini tidak kan?" ujar Rahmi seperti ingin membuat Olivine semakin buruk di hadapan Zavier.
"Tapi mbak, tadi waktu tangan saya terkena minyak kamu sendiri yang memasak ayam itu dan membawanya harusnya kamu tahu dimana ayam itu."
"Loh kenapa kamu menyalahkan saya? jelas-jelas yang memasak tadi itu kamu kenapa malah menyalahkan saya?" tanya Rahmi santai sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
Olivine berusaha menjelaskan hal itu pada Zavier, dia bahkan menunjukkan tangannya yang masih memerah itu pada Zavier untuk bukti.
"Tuan saya tidak bohong, lihat ini tangan saya terkena minyak panas karena mbak Rahmi menyenggol saya saat menggoreng ikan, setelah itu saya ke wastafel membasuh tangan saya dan mbak Rahmi melanjutkan menggoreng ayam itu dan setelahnya dia membawanya tuan."
Zavier melirik ke arah Rahmi, "Itu tidak benar tuan wanita ini bohong, saya sama sekali tidak masuk ke dapur pagi ini. jahat sekali kamu Olivine," ujar Rahmi dengan wajah tidak suka.
Merasa Rahmi ini adalah pembantu cukup lama yang ada di rumah sang papa, dan saat ini bekerja di rumah Zavier. Zavier merasa wanita itu jujur, dan untuk Olivine sudah jelas wanita itu pembuat onar bukan? jadi tidak heran jika seandainya wanita itu sengaja tidak memasak untuknya.
Zavier bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Olivine, tatapan matanya tajam membuat Olivine panik dan memundurkan tubuhnya.
"Ikut saya sekarang," Zavier menarik bahu Olivine membuat wanita itu terhenyak.
"Tuan saya mau dibawa kemana?" tanya Olivine panik.
"Ikut!" bentak Zavier sambil menarik Olivine menaiki anak tangga.
Rahmi terlihat tersenyum puas sambil menatap kepergian Zavier dan Olivine itu, dia suka jika Zavier membenci Olivine. padahal ayam tadi tidaklah hilang tapi Rahmi membawanya ke kamarnya untuk di makan sendiri, biar saja Olivine yang menanggung akibatnya.
Zavier menarik Olivine menuju kamar kosong yang ada disana, brak! pintu di buka dengan kasar oleh Zavier.
Zavier mendorong tubuh Olivine hingga menempel ke dinding, Zavier mendekat membuat Olivine semakin panik.
"Tuan saya mohon tuan jangan sakiti saya tuan saya mohon," pinta Olivine.
Zavier menekan tangannya ke dinding seraya menatap Olivine dalam, "Apa kau takut?" tanya Zavier.
Olivine mengangguk, "Saya sangat takut tuan sangat takut," lirihnya dengan tubuh bergetar.
"Hahahahahaha, lihatlah kau tampak begitu lemah padahal kau itu pembun*h!" teriak Zavier.
Şrek, brak!
Zavier menarik tubuh Olivine dengan cepat dan kasar, kemudian mendorongnya ke lantai hingga tubuh Olivine terhempas dengan kasar.
"Akhh," rintih Olivine saat merasakan sakit yang teramat sangat di pinggangnya.
Zavier berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Olivine, "Jangan kau kira aku akan melakukan perbuatan nista, karena aku tidak melakukan itu dan aku tidak selera denganmu. sekarang kau bersihkan ruangan ini, kau tidak boleh makan atau minum sama sekali sampai aku pulang nanti, mengerti!"
Olivine mengangguk cepat, "Mengerti tuan mengerti," jawabnya pelan.
Zavier tersenyum puas, "Oh ya kau tidak boleh menggunakan alat kebersihan, kau harus menggunakan sapu manual, mengepel dengan kain dan juga membersihkan jendela tempat tidur dengan tanganmu sendiri tanpa bantuan apapun, kau hanya boleh menggunakan kain lap selain itu tidak boleh, mengerti!"
Olivine mengangguk," Mengerti tuan, mengerti!" ujarnya cepat.
Zavier bangkit dari posisinya dan memasukkan tangannya di sakunya menatap Olivine begitu puas.
"Selamat bekerja dan ingat kau tidak boleh makan atau minum sampai aku kembali."
Zavier berbalik arah dan keluar dari kamar itu, Zavier menutup pintu itu dan terdengar suara pintu yang terkunci dari luar.
Olivine menarik nafas dalam, dia menatap sekelilingnya kamar itu begitu luas dan besar untuk sekelas kamar tamu.
Olivine bangkit dari duduknya, dan mencari kain untuk dia gunakan sebagai alat untuk membersihkan ruangan itu.
Dia membuka lemari yang ada disana, dan mendapati beberapa kain yang lusuh yang bisa dia gunakan sebagai alat bersih-bersih.
Olivine mulai membersihkan ruangan itu di mulai dari tempat tidur, dia melepaskan sprei, kemudian membawanya ke kamar mandi dan merendamnya kemudian membersihkan meja dari debu dan barang-barang di atasnya.
Dilanjutkan dengan membersihkan kaca dan jendela, kemudian menyapu lantai.
Sejauh ini Olivine mulai kelelahan untuk membersihkan ruangan itu, bagaimana tidak ini cukup menguras tenaganya yang sejak tadi belum sarapan.
Olivine yang begitu haus dan lapar itu akhirnya mengambil jalan pintas, untuk minum air keran yang ada di kamar mandi untuk sekedar menghilangkan laparnya.