Bruk!
Olivine menjatuhkan tubuhnya di samping ranjang, tenaganya yang telah habis membuatnya sulit untuk bergerak sekarang.
Olivine menatap sekelilingnya, sudah mulai bersih namun dia belum mengepel lantai dan membersihkan kamar mandi.
Olivine berusaha untuk bangkit dengan cara berpegangan pada dinding dan juga ranjang, kepalanya mulai pusing dan perutnya mulai tidak nyaman.
"Akh kenapa semuanya berputar," rintihnya sambil memegang kepalanya yang begitu sakit.
Tidak mau dirinya terkena masalah baru jika dia pingsan, Olivine berjalan mendekat ke arah pintu untuk menggedor pintu itu.
"Tolong siapapun di luar saya mohon buka pintunya," teriak Olivine dengan sisa tenaganya.
Para pembantu yang ada disana mendengar teriakan itu, namun tidak satu pun di antara mereka tergerak hatinya untuk sekedar mengecek keadaan Olivine.
"Tok tok tok, tolong siapapun bantu saya, saya butuh air tubuh saya sudah lemah."
Merasa sia-sia dan hanya menghabiskan tenaganya, tubuh Olivine akhirnya luruh ke lantai dia meyenderkan tubuhnya di pintu sambil berusaha memulihkan keadaannya sementara waktu.
Di sisi lain kini Zavier sudah tiba di perusahaan milik papanya Liam, para karyawan menyambutnya dengan suka cita dan hati gembira terlebih para wanita yang langsung terpesona dengan ketampanan Zavier.
Zavier berjalan tegap masuk ke dalam perusahaan, dia sama sekali tidak perduli dengan yang namanya sambutan atau apalah itu, tujuannya adalah melihat bagaimana kemajuan perusahaan saat itu.
Saat Zavier masuk ke dalam ruangan sang papa, Zavier seakan bernostalgia dengan isi dari ruangan itu. tidak ada yang berubah, semuanya masih sama seperti saat dia tinggalkan dulu. foto dirinya beserta kedua orang tuanya masih terletak di atas meja Liam.
Zavier berusaha mengontrol emosinya agar tidak kembali meneteskan air mata.
Ceklek
"selamat siang tuan," ujar seseorang yang masuk ke dalam ruangan Zavier.
Sambil melirik dengan ekor matanya, "Ada apa?" tanya Zavier.
"Ini laporan yang Anda minta tuan," ujarnya seraya menunduk.
"Letakkan di meja dan silahkan keluar," ujar Zavier.
pria itu mengangguk dan lekas meletakkan dokumen itu di atas meja dan bersiap untuk keluar.
"Apa kau sudah lama bekerja disini?" ujar Zavier tiba-tiba.
Pria itu tampak enggan menatap Zavier, "Ya tuan sudah 8 tahun," jawabnya.
Zavier mengangguk, "Artinya kau cukup tahu seluk beluk perusahaan ini bukan?"
Pria itu mengangguk, "Iya tuan apa anda membutuhkan sesuatu?" ujarnya.
Zavier berjalan ke arah mejanya dan duduk disana, Zavier memainkan jarinya di atas meja sambil menatap pria itu dari atas hingga ke bawah.
"Tidak, saya hanya bertanya yasudah silahkan keluar," ujar Zavier membuat pria itu bernafas lega.
Zavier mulai memeriksa dokumen itu, tidak ada yang mencurigakan sampai Zavier melihat ada sebuah map berisi data diri seorang wanita yang sudah diterima di bagian pemasaran.
"Siapa wanita ini, kenapa tiba-tiba dia bisa masuk dan langsung menjadi kepala bagian pemasaran?" heran Zavier karena dia merasa perusahaan belum membutuhkan karyawan baru.
Zavier segera menekan tombol merah di atas mejanya, yaitu tombol untuk panggilan ke meja sekretaris.
Ceklek
"Permisi tuan," ujar pria tadi.
"Kemarilah, tolong jelaskan apa maksudnya ini," ujar Zavier sambil menunjuk dokumen itu.
Wajah pria itu tampak menegang dan hal itu terlihat oleh Zavier, "Kau bisa jelaskan?" tanya Zavier.
"Ah maaf tuan mungkin anda belum tahu, jika wanita ini di angkat langsung oleh tuan Liam karena kinerja wanita ini bagus selama magang."
Mendengar hal itu Zavier merasa bahwa itu tidak benar, bukankah biasanya akan ada pembukaan lowongan pekerjaan bagi umum bukan malah langsung di angkat seperti ini.
"Kau yakin bahwa papaku yang mengangkat wanita ini?" tanya Zavier kembali memastikan.
Pria itu mengangguk cepat, "Benar tuan, mengingat masalah kemarin dokumen ini baru sampai disini di meja anda."
Mendengar hal itu Zavier terdiam, dia masih belum puas namun tidak ada artinya untuk berdebat.
"Yasudah besok suruh wanita ini masuk untuk bekerja,"Zavier membubuhkan tanda tangannya dalam kontrak itu dan menyerahkannya pada Sekretaris itu.
" Oh iya siapa namamu?" ujar Zavier.
"Saya Bakri sekretaris tuan Liam tuan."
Zavier mengangguk dan memberi kode pada pria itu untuk lekas keluar dari ruangannya.
Tanpa Bakri sadari Zavier sudah menyimpan foto wanita itu di laci mejanya, dia kembali mengeluarkan foto itu dan menatapnya lama.
Tanpa ragu dia menghubungi Kevin dan mengirimkan foto itu untuk di cari infomasinya.
Bakri melirik ke arah pintu Zavier dengan senyuman puas, dia lantas mengeluarkan handphonenya kemudian menghubungi seseorang.
"Halo Intan, kamu besok sudah bisa mulai bekerja bersikaplah baik karena pria ini lebih mengerikan dari yang kita duga."
"Benarkah?" Intan tersenyum mendengar ucapan Bakri itu, "Tapi bagaimanapun dia tidak akan bisa menolak pesona seorang Intan, baiklah aku akan bersiap untuk besok."
Bakri dan Intan sama-sama tersenyum lebar, mereka senang akhirnya satu rencana berikutnya telah berhasil.
**
"Bagaimana Kevin kau sudah menemukan data mengenai wanita itu?" tanya Zavier pada Kevin saat mereka baru saja tiba di rumah Zavier.
Zavier dan Kevin memang sudah merencanakan akan bertemu di rumah, mereka menggunakan mobil masing-masing karena berangkat dari tempat yang berbeda.
Kevin mengangguk, "Sepertinya saya harus menyelidiki lebih banyak soal wanita ini, karena aneh sekali dia sama sekali tidak memiliki data orang tua."
Kening Zavier mengerut, "Cukup aneh, harusnya jika orang tuanya sudah tiada harusnya ada data yang bisa di peroleh."
Zavier dan Kevin duduk di ruang tamu, " Dan sepertinya ada perubahan identitas yang baru saja wanita ini lakukan, saran saya sebaiknya anda berhati-hati dengannya tuan."
Zavier mengangguk, "Jadi kecurigaanku tidak meleset Kevin entah kenapa melihat Sekretaris itu aku langsung menaruh curiga padanya, terlebih saat wanita ini masuk dengan mudah dan langsung menjadi kepala bagian tanpa ada tes sama sekali dan hanya mengandalkan kinerja yang baik selama magang."
"Saya rasa memang kita harus menyelidiki orang-orang ini tuan, karena setelah saya cari tahu ternyata Sekretaris itu adalah pria yang direkomendasikan oleh Radian pada tuan Liam."
Mendengar hal itu wajah Zavier terkejut bukan main, "İni tidak bisa di biarkan Kevin kita harus segera mendapatkan informasi valid mengenai pria ini aku yakin jika dia mau buka suara, dia pasti tahu dimana keberadaan Radian saat ini."
"Tidak perlu khawatir tuan, karena ada titik baru soal Radian saya mendengar jika Radian sudah melarikan diri ke luar negeri bersama dua orang wanita."
********************************************
"Tuan apa yang sudah anda lakukan padanya? dia dehidrasi tuan, lihat wajahnya pucat dan tubuhnya lemah, kenapa anda begitu kejam sampai tega melakukan hal ini pada Olivine, jika dia mat* dan terbukti bukan dia pelaku itu, tuan harus bertanggungjawab untuk itu."