Rahmi berjalan pelan dengan tubuh gembrotnya sambil membawa nampan di tangannya.
"Silahkan tuan, minumnya," ujar Rahmi sambil menghidangkan minuman di atas meja.
Zavier dan Kevin mengangguk tanpa menoleh pada wanita itu, tapi Kevin teringat oleh Olivine.
"Dimana Olivine?" tanya Kevin membuat Zavier teringat jika dia sudah mengunci Olivine di dalam kamar.
Tanpa berkata apapun Zavier langsung bangkit dan berjalan cepat menaiki anak tangga, Kevin yang ikut heran lantas mengekor di belakang Zavier.
ceklek, kunci terbuka.
Zavier berusaha mendorong pintu itu namun tidak berhasil, seakan ada yang menahan di dalam sana.
"Ada apa?" tanya Kevin yang melihat Zavier kesulitan.
"Olivine ada di dalam aku menghukumnya," ujar Zavier membuat mata Kevin membelalak.
"Minggir tuan biar saya saja," Kevin segera maju dan mendorong pintu itu.
Bruk!
Pintu itu terbuka lebar saat suara benda jatuh dengan keras di dalam, Kevin langsung meringsek masuk ke dalam dan mendapati Olivine sudah terbaring lemah di atas lantai.
"Olivine," panik Kevin sambil menepuk wajah Olivine untuk menyadarkannya.
Zavier tidak tahu harus apa, dia berdiam diri sambil menatap tubuh lemah Olivine itu.
"Tuan apa yang sudah anda lakukan padanya? dia dehidrasi tuan, lihat wajahnya pucat dan tubuhnya lemah, kenapa anda begitu kejam sampai tega melakukan hal ini pada Olivine, jika dia mat* dan terbukti bukan dia pelaku itu, tuan harus bertanggungjawab untuk itu."
"Tapi aku," Zavier tidak melanjutkan kalimatnya saat melihat Kevin langsung membopong tubuh Olivine itu dan melewati tubuh Zavier keluar dari kamar itu.
"Akhhh," Zavier mengacak rambutnya dengan kasar dan ikut mengekor di belakang Kevin.
"Ambilkan air," ujar Zavier pada Rahmi yang berada di bawah tangga.
Rahmi mengangguk dan lekas ke dapur untuk mengambil air, dan lekas menuju ruang tamu untuk memberikan air itu.
"Ini tuan," ujarnya sambil meletakkan air itu.
Kevin menepuk wajah Olivine lembut untuk sekedar menyadarkannya, mata Olivine terbuka namun karena keadaannya yang begitu lemah Olivine tampak belum kuat untuk berbicara.
"Ini minumlah dulu," Kevin mengangkat kepala Olivine dengan tumpuan lengannya, agar Olivine tidak tersedak saat minum air itu.
"Kamu lemah sekali, kamu dehidrasi," ujar Kevin prihatin.
Kevin melirik ke arah Rahmi yang tertunduk itu, "Kenapa tidak ada satupun di antara kalian yang memiliki rasa kemanusiaan, lihat dia dehidrasi apa kalian tidak khawatir jika dia kehabisan nafas dan kalian di laporkan?" ujar Kevin.
"Kevin kenapa kamu malah marah seperti itu? apa kamu tahu aku menghukum Olivine karena dia sudah berulah pagi ini, aku meminta ayam tapi justru dia memasak udang bahkan dia justru menuduh Rahmi telah menghilangkan ayam itu," ujar Zavier tidak mau kalah.
"Hanya karena persoalan sepele seperti itu tuan bertingkah seperti anak-anak? selama saya hidup bersama anda di luar negeri rasanya sikap seperti ini belum pernah anda tunjukkan, kenapa anda jadi keras seperti ini?" ujar Kevin tidak habis pikir.
"Kau menyalahkanku? kau membela pemb*nuh ini, iya?" teriak Zavier tidak terima sampai menunjuk Olivine.
Olivine dengan tubuh lemahnya itu berusaha bangkit, "Saya tidak papa tuan, saya baik-baik saja."
Kevin menggeleng, "Kamu tidak baik-baik saja Olivine, beristirahatlah dulu," ujar Kevin namun Olivine menjawab dengan gelengan.
"Saya sudah kuat tuan, saya akan melanjutkan membersihkan kamar," Olivine berusaha untuk bangkit, namun karena tubuhnya yang masih begitu lemah penglihatan Olivine tampak berputar membuatnya hampir saja terjatuh namun Kevin berusaha memeganginya.
Kevin menatap tajam Rahmi, "Kenapa diam saja? ambilkan dia makan!" geramnya.
Rahmi langsung tergagap dan berjalan cepat menuju dapur.
Zavier menghempaskan tubuhnya di atas sofa, "Pulanglah Kevin biarkan dia," ujar Zavier yang tidak suka melihat Kevin begitu perduli pada Olivine.
Kevin menggeleng, "Tidak tuan saya akan tetap menunggunya sampai dia makan dan keadaannya pulih, terserah jika anda tidak suka."
Zavier menarik nafas dalam, dia begitu benci pada Olivine sekarang wanita itu begitu berani mencari perhatian Kevin. Benar-benar wanita jahat pikirnya.
Rahmi datang tergopoh-gopoh sambil membawa piring berisi makanan, dengan lauk ayam goreng.
Kevin menerima piring itu dengan cepat, "Ayam? darimana kamu dapat ayam ini?" tanya Kevin membuat Rahmi menunduk.
Zavier yang melihat ayam itu pun kaget, ”Kamu bilang tadi ayam tidak ada lalu ini darimana?" tanya Zavier namun Rahmi sama sekali tidak membuka suara.
Di titik ini Rahmi benar-benar ketakutan, bagaimana tidak udang yang tadi di goreng ternyata sudah habis menyisakan sayur dan nasi saja. tidak mungkin Rahmi memasak untuk Olivine, itu pasti akan membutuhkan waktu.
Mau tidak mau Rahmi mengambil ayam yang tadi pagi di goreng dan memberikannya pada Olivine.
Kevin melirik ke arah Zavier, "Sekarang tuan tahu kan siapa yang berbohong? saya rasa anda perlu mengontrol emosi, karena sejak masalah ini anda menjadi pribadi yang berbeda anda selalu emosi dan mengaitkan semua masalah dengan Olivine," ujar Kevin.
Zavier terdiam, tapi tatapannya mengarah tidak suka pada Rahmi.
Kevin memberikan piring itu pada Olivine," Makanlah jangan khawatir saya akan menunggu kamu disini," ujar Kevin.
Olivine mengangguk dan lekas makan, tapi dia sama sekali tidak menyentuh daging ayam itu dia hanya memakan nasi dan juga sayur.
Melihat hal itu hati Zavier sedikit tercubit, dia yakin wanita itu takut menyentuh ayam itu karena Zavier tapi ego di dalam diri Zavier enggan meminta maaf atas peristiwa itu.
"Sudah tuan," Olivine meletakkan piring itu di atas meja dengan hanya menyisakan ayam yang sama sekali tidak di sentuhnya.
"Kenapa kamu tidak makan ayam itu?" ujar Zavier.
Olivine menatap mata tajam Zavier itu, "Itu bukan hak saya, saya lebih suka makan dengan sayur bening daripada ayam yang sudah membuat saya di hukum padahal bukan kesalahan saya."
Zavier tertohok dengan ucapan Olivine itu, tidak ada rasa takut di dalam ucapannya hanya ada rasa tidak terima atas perlakuan buruk itu.
Olivine terlihat tersenyum manis pada Kevin, "Terimakasih ya tuan, setidaknya saya tahu tidak semua orang di dunia ini jahat. saya sudah pulih tuan, saya kembali ke atas dulu untuk kembali membersihkan kamar."
"Kamu yakin?" tanya Kevin dan di jawab anggukan pasti dengan senyuman manis di bibir Olivine.
Olivine segera pergi dari sana melewati tubuh Rahmi juga Zavier, tidak ada ucapan permisi atau sekedar hormat pada Zavier dari Olivine dia melengos begitu saja membuat Zavier geram.
"Sekarang sudah jelas kan tuan? yasudah saya pamit dulu," ujar Kevin yang sudah buruk moodnya.
Zavier tidak menjawab ucapan Kevin, sampai pria bule itu keluar dari dalam rumah.
"Saya ke belakang dulu tuan."
"Berhenti!"