Olivine menarik nafas sembari melanjutkan pekerjaannya, dia mengepel lantai itu menggunakan tangannya dengan di lapisi lap.
Ruangan itu cukup luas membuatnya cukup lelah untuk bisa menyelesaikan pekerjaannya itu dengan cepat.
Bi Imah yang melintas di depan kamar itu sempat melihat Olivine yang tengah sibuk mengepel lantai, disanalah sebuah seringai licik muncul di wajahnya. Dia berbalik arah kembali ke dapur untuk mengambil sesuatu, dan kembali naik ke atas.
Zavier yang sudah menyelesaikan urusannya di bawah lantas naik ke atas, dia akan melihat bagaimana pekerjaan Olivine, jika sakit bukan artinya bisa bersantai.
Langkah Zavier tampak santai saja, saat dia baru saja akan sampai di depan pintu mata tajam Zavier melihat ada genangan benda cair mirip sabun di depan pintu kamarnya.
"Benda apa itu?" gumam Zavier.
Niat yang awalnya ingin mengecek pekerjaan Olivine akhirnya beralih untuk melihat benda yang ada di depan pintu kamarnya.
Zavier berjongkok untuk memastikan benda itu, dan saat dia menyentuh benda itu disanalah dia tahu jika itu adalah sabun cair.
"Olivine!" teriaknya keras membuat para karyawan yang ada di bawah juga kaget.
Olivine yang mendengar dirinya di panggil langsung bangkit dan berjalan keluar, untuk melihat ada apa.
"Sini kau!" teriak Zavier saat Olivine berdiri di ambang pintu kamar tamu itu.
Olivine berjalan mendekat dengan jantung berdebar kencang, "Iya tuan," lirihnya.
"Kau ingin mencelakaiku iya?" bentak Zavier dengan wajah merah padam.
Olivine langsung menggeleng, "Tidak tuan kenapa anda tiba-tiba menuduh saya seperti ini?" lirih Olivine.
"Kau tidak mengaku?" Zavier bangkit dari posisinya dan menarik rambut Olivine dengan keras sambil menekannya mengarah ke lantai "Lihat ini lihat, apa kau buta ini sabun!" teriak Zavier.
"Akhh sakit tuan lepas," Rintih Olivine berusaha melepaskan cengkraman tangan Zavier.
"Kau benar-benar tidak bisa di kasih hati Olivine, kau ingin mencelakaiku bukan? licik sekali kau!" teriak Zavier.
Bentakan keras dan teriakan itu membuat para pembantu di rumah itu berbondong-bondong naik ke atas, untuk melihat apa yang sedang terjadi. Disanalah mereka terkejut saat melihat Zavier sedang menyiks* Olivine.
"Saya benar-benar tidak tahu tuan, akh lepaskan!"
"Tidak aku tidak akan melepaskanmu, ikut aku sekarang!" Zavier menyeret tubuh Olivine mengarah ke gudang.
Brak!
Zavier menendang pintu gudang itu dengan keras hingga terbuka lebar, Zavier membawa wanita itu masuk ke dalam gudang dan kembali menyi*sanya.
"Hah kau kira Radian akan datang menyelamatkanmu? dan kau berbuat seenaknya untuk bisa mencelakaiku?"
"Dasar wanita ibl*s, plak!" Teriak Zavier di iringi tamparan keras pada wajah Olivine.
"Kau yang ibl*s!" teriak Olivine keras membuat wajah Zavier semakin mengeras.
"Kau berani melawanku hah!" Zavier menarik rambut Olivine hingga kepala wanita itu mendongak ke atas.
"Akhh lepaskan aku," rintih Olivine karena Kepalanya benar-benar sakit.
Zavier benar-benar seperti manusia yang tengah di rasuk oleh set*n dia tidak hentinya memukuli Olivine, hingga tubuh wanita itu lebam.
"Bun*h aku!" teriak Olivine keras tepat di depan wajah Zavier, saat Zavier bersiap hendak memukul Olivine lagi.
"Kau ingin puku* aku lagi kan? ayo puk*l aku sekarang! Bun*h aku sekarang agar kau puas, kau mengatakan aku penjahat tapi kau lah penjahat sebenarnya Zavier, kau hanya tahu cara menghukum orang lain tapi kau buta dengan dosamu sendiri!"
Olivine tersenyum sinis, "Aku tidak akan menyesal jika harus mat* di tangan Ibl*s sepertimu tapi aku akan pastikan jika nanti kau lah manusia paling menyesal di muka bumi ini karena telah menyiks* seorang wanita yang merupakan seorang korban."
"kenapa kau diam Zavier? apa mulutmu sudah kehabisan kata untuk melawan wanita lemah ini? ckk," Olivine tersenyum sinis, "Kau pria lemah yang paling bod*h di dunia ini," ejek Olivine yang berhasil membuat emosi Zavier memuncak.
Zavier mencekik leher Olivine hingga bibir Olivine membiru, "Dengarkan aku wahai wanita ibl*s, pria yang kau sebut jahat ini adalah pria yang kehilangan keluarganya karena keserakahan keluargamu, pria yang kau bilang ibl*s ini adalah pria yang tidak bisa bahagia hidup bersama orang tuanya karena keserakahan orang tuamu!" teriak Zavier.
"Kauu salah Zavier," lirih Olivine dengan suara yang hampir habis, "Wanita yang kau tuduh ini juga kehilangan orang tuanya dan menjadi kambing hitam atas perbuatan orang yang kau sebut serakah itu."
Mata Olivine langsung terpejam setelah mengatakan hal itu, Zavier yang masih mencek*k leher Olivine sontak langsung melepaskan Olivine membuat tubuh wanita itu terbaring di lantai.
"Pengawal!" teriak Zavier memanggil beberapa anak buahnya.
Para pria bertubuh tegap itu langsung masuk ke dalam gudang, dan mendapati Olivine yang sudah terbaring lemah dengan wajah dan tubuh penuh luka dan bibir membiru.
"Bawa dia ke kamar, dan cepat hubungi dokter keluarga untuk mengecek keadaannya," ujar Zavier.
Zavier langsung meninggalkan para anak buahnya itu untuk mengurus Olivine, dia masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu dengan keras membuat orang-orang yang ada disana kaget.
"Brak! pyar!"
Zavier melempar cermin kamarnya dengan vas bunga yang ada di atas nakas, pecahan kaca berhamburan di lantai.
Zavier menatap tubuhnya di pantulan cermin yang sudah pecah itu, dia mengepalkan tangannya dengan keras hingga urat-urat tangan Zavier seolah ingin keluar dari tempatnya.
"Akhhhhh," Zavier menarik selimut dari ranjangnya dan melemparnya ke lantai, dia mengacak-acak isi kamarnya itu untuk bisa melampiaskan emosinya.
Tubuh Zavier terduduk lemas dengan wajah memerah di atas lantai, Zavier menatap tangannya yang bergetar hebat dengan wajah penuh rasa bersalah.
"Aku pun enggan melakukan ini, aku pun lelah menghadapi hal ini sungguh ini begitu berat bagiku."
Zavier mengacak-acak rambutnya dan mendongakkan wajahnya ke atas, "Papa, apa yang harus aku lakukan untuk bisa menyelesaikan semua ini? aku kini telah menjadi pria jahat karena orang lain, aku tidak bisa merelakan apa yang sudah terjadi, salahkah aku jika membalas mereka dengan putrinya ini? aku pun kehilangan, apa salah jika aku juga ingin jika wanita itu mengalami hal yang sama seperti diriku?"
Zavier menundukkan wajahnya, dia tahu apa yang sudah dia lakukan pada Olivine bukanlah hal yang baik. jika saja Opa masih bersamanya, dia yakin pria itu akan memukulinya jauh lebih ganas daripada apa yang dia lakukan pada Olivine.
Dia merasa dunia ini tidak adil baginya, kenapa dia harus tetap baik pada wanita yang sudah jelas adalah pembun*h keluarganya, kenapa hanya karena dia seorang wanita maka Zavier tidak boleh membalas perbuatannya.
"Akhhh, kau tidak adil aku benci semua ini aku benci! aku akan membalasmu Radian aku akan membalasmu!" teriak Zavier sambil mendongak dengan tatapan tajam.