Kevin membawa Olivine

1006 Kata
Kabar tentang Olivine yang kembali mendapatkan penyiksaa* dari Zavier terdengar oleh Kevin, yang tengah sibuk menyelidiki Radian yang ternyata benar sedang berada di luar negeri. "Akh kenapa tuan Zavier jadi seperti ini, kematian orang tuanya benar-benar membuatnya jadi sosok yang berbeda." Kevin mendapatkan kabar bahwa kini Olivine di rawat oleh dokter keluar Zavier di rumah, dan Kevin juga mendapatkan informasi apa masalah yang menyebabkan Zavier bisa kembali mengamuk dengan Olivine. "Sepertinya seisi rumah itu tidak menyukai Olivine, mereka sengaja memanfaatkan keadaan untuk menjahati Olivine agar tuan Zavier terus marah padanya." Kevin bangkit dari duduknya dan berjalan ke jendela apartemen, dia memang tinggal di apartemen yang Zavier punya. hal itu dilakukan agar, sewaktu-waktu jika ada orang-orang yang menyerang Zavier tiba-tiba, Kevin bisa selamat dan menolongnya. Kevin mengamati foto yang sudah dia cetak, foto dimana Radian bersama dua orang wanita yang tampak begitu bahagia di luar sana. senyumannya begitu lepas seolah tidak ada hal buruk yang pernah dia lakukan. "Sepertinya aku harus membawa Olivine kesini, tuan Zavier sedang tidak stabil emosinya dan hal itu bisa saja memicu konflik yang berkepanjangan dan itu tentu berbahaya bagi Olivine." Kevin meraih kunci mobilnya, dia akan datang ke kediaman Zavier untuk menjemput Olivine. Di dalam rumah megah itu kini Zavier tengah terdiam, pikirannya menerawang jauh mengingat semua kejadian yang telah terjadi. Hidupnya seakan berubah dengan sekejab mata, bahkan seakan dia hanya memiliki separuh nafas untuk bertahan hidup sekarang. Zavier menyenderkan kepalanya ke sisi kursi, dia sudah berfikir untuk mencari sendiri dimana Radian dengan begitu dia bisa melampiaskan emosinya pada sasaran yang tepat. Tok tok! Zavier menoleh saat pintu di ketuk, namun dia sama sekali tidak berminat untuk membuka pintu itu. "Sepertinya tuan Zavier tidak mau di ganggu tuan Kevin, sejak keributan semalam dia sama sekali tidak mau keluar dari kamarnya." Kevin menatap pintu itu dan setelahnya beralih pada Bi Imah, "Apa benar Olivine ingin mencelakai tuan Zavier?" tanya Kevin sambil menatap wanita yang usianya sudah tidak muda itu. Dari gestur tubuh wanita itu yang seakan tidak nyaman Kevin tersenyum tipis, "Sudahlah tidak perlu di jawab, saya akan membawa Olivine sekarang untuk tinggal bersama saya. Kalian tidak perlu khawatir dengan keberadaannya." Mendengar hal itu Bi Imah mendongak , " tapi bukannya tuan Zavier ingin dia tetap disini tuan? untuk mengurus rumah." "Mengurus rumah atau untuk kalian jahati?" tanya Kevin yang berhasil membukam mulut wanita itu. Kevin tidak lagi berbicara banyak, dia langsung masuk ke kamar Olivine yang begitu sempit pengap dan benar-benar tidak nyaman. Ceklek Olivine langsung melirik ke arah pintu saat pintu itu di buka dari luar. "Tuan Kevin," lirihnya dengan tersenyum. Dokter yang tengah mengobati kaki Olivine yang tampak memar itu mengangguk hormat. "Bagaimana dokter, dia baik-baik saja?" tanya Kevin. Dokter itu mengangguk, "Saya sudah cek ini hanya memar tidak perlu ada yang di khawatirkan, nanti setelah minum obat kondisinya akan berangsur-angsur pulih. Kevin tersenyum mendengar hal itu, " Jika saya membawa Olivine pergi apakah tidak masalah dok? tidak jauh hanya ke apartemen." Dokter itu mengangguk, "Tidak masalah tapi pastikan obatnya di minum dan istirahat yang cukup agar kondisinya cepat pulih." Kevin mengangguk, "Olivine kamu segera berkemas ya, kamu akan ikut bersama saya ke apartemen." Dokter yang sudah selesai dengan pekerjaannya itu lantas pamit, "Saya pamit dulu tuan, mbak Olivine semoga cepat sembuh." ujarnya dan berjalan keluar dari kamar. Olivine menatap wajah Kevin, "Kenapa pindah tuan? saya tidak memiliki barang apapun kecuali baju yang sempat saya pakai, pakaian saya tertinggal di rumah tuan Radian." Mendengar hal itu Kevin teringat akan sesuatu. "Kalau begitu mari kita ke rumah Radian, ambil semua pakaian kamu." "Benarkah tuan?" tanya Olivine tampak sumringah. Kevin mengangguk, "Kamu bisa berdiri? jika tidak mari aku bantu." Olivine menggeleng, "Saya bisa tuan tenang saja," Olivine berusaha bangkit sambil bersender ke dinding, "Nah saya bisa kan tuan," ujarnya meskipun dengan kaki yang masih berjinjit. "Kalau begitu ayo kita pergi, agar tidak terlalu lama diperjalanan," ujar Kevin di jawab anggukan oleh Olivine. Kevin dan Olivine berjalan bersama-sama untuk keluar dari kamar, ternyata di luar sudah menunggu beberapa orang yang tampak sedang menunggu mereka. "Ada apa kalian disini? bukannya bekerja," ujar Kevin tidak suka pada Bi Imah dan Rahmi. Rahmi dan Bi Imah saling sikut, hingga akhirnya Rahmi mengatakan sesuatu, "Tuan sebaiknya jangan bawa Olivine pergi, dia hendak mencelakai tuan Zavier kemarin untungnya tuan Zavier menyadari hal itu. kami khawatir tuan malah menjadi sasaran selanjutnya." Zavier melirik ke arah Olivine, "Apa benar itu Olivine?" Olivine menggeleng dengan lemah, "Saya lelah untuk berdebat tuan, saya tidak tahu siapa yang meletakkan sabun itu disana. Tapi sudahlah tidak perlu di perpanjang." "Kalian sudah dengar? saya lebih tahu cara menjaga diri, malah saya lebih khawatir jika meninggalkan Olivine disini. sudahlah urus saja urusan kalian jangan campuri urusan kami." Setelah mengatakan hal itu Kevin mengajak Olivine untuk pergi dari sana, Olivine sempat tersenyum tipis pada kedua wanita itu. Olivine tahu merekalah yang sudah menjahati Olivine. ** Kevin benar-benar membawa Olivine ke rumah Radian yang sudah di tinggalkan sejak malam penangkapan Olivine itu, rumah itu di jaga ketat oleh anggota Zavier dan tidak siapapun bisa masuk kesana kecuali Zavier dan Kevin. "Selamat siang tuan," sapa mereka sembari membungkuk hormat. Kevin mengangguk kemudian mengajak Olivine untuk masuk ke dalam. "Dimana kamar kamu? ayo kita kesana," ujar Kevin yang penasaran benarkah jika Olivine ini memang seorang pembantu disana. Olivine segera berjalan masuk, bukannya segera masuk ke kamarnya justru Olivine berteriak memanggil ibunya. "Ibu, ibu Olivine pulang bu ibu ada di rumah kan!" Kevin tampak heran melihat Olivine namun dia enggan untk bicara dia biarkan wanita itu melakukan hal yang dia mau. Olivine berjalan tertatih-tatih, "Ibu Olivine pulang bu ibu dimana?" teriaknya lagi membuat seisi ruangan menggema. "Olivine disini tidak ada siapapun kecuali para penjaga yang ada di depan, rumah ini sudah di jaga ketat oleh mereka." Olivine tertunduk lesu, "Itu berarti ibu saya tidak kembali ke rumah ini ya tuan," lirihnya dengan suara sedih sembari melirik ke arah satu ruangan. Olivine melangkahkan kakinya mendekat ke arah pintu di balik tangga itu, Kevin yang mengira jika itu adalah toilet tidak mengikuti langkah Olivine. "Tuan, ini kamar saya mari," ujarnya membuat Kevin heran.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN