11. You Did It Again

1009 Kata
"Lanjutkan saja apa yang membuatmu bahagia! Sekarang mandi, makan dan beristirahatlah!" perintah Erland. "Siap, Pak Bos," sahut Shantika seraya memasang sikap hormat bendera dan memamerkan senyum terbaiknya. "Aku sudah mentransfer uang bulananmu. Bisa kau periksa sekarang," kata Erland. "Nanti saja, Kak. Terima kasih ya!" seru Shantika seraya berjalan cepat meninggalkan kamar Erlando. "Beli tas baru untukmu! Tasmu sudah jelek sekali!" teriak Erlando kemudian tertawa kecil melihat tingkah Shantika yang terkadang kelewat dewasa di usianya yang menginjak dua puluh satu tahun, tapi kadang juga manja sekali seperti anak balita. Selepas kepergian Shantika, Erland berjalan menuju ke sebuah meja kecil yang terletak di samping tempat tidurnya. Di tempat itu ia meletakkan ponsel yang sejak tadi ia biarkan terhubung pada kabel pengisi daya. Delapan puluh lima persen, daya baterai yang tertulis pada benda pintar tersebut. Erland mencabut stop kontaknya dan ia bawa ponsel itu bersama dengannya. Erlando kembali duduk di sofa keramat kesayangannya. Di tempat inilah ia kerap bercinta dengan Jenni mantan kekasihnya yang sangat dia cintai. Jemari tangan Erland menjamah layar sentuh handphone miliknya. Dicarilah nama sang asisten pribadi dari dalam kontak teleponnya. Tentu saja ada hal serius yang akan dibicarakan bila sudah berhubungan dengan Yoga. "Hallo, Ga," sapa Erland setelah Yoga menjawab panggilan suara darinya. "Malam, Pak," sapa balik Yoga. "Malam juga. Bagaimana apa kau sudah mendapatkan informasi yang saya mau?" tanya Erland langsung pada pokok permasalahan yang akan dia bahas. "Sudah, Pak ....... " Yoga menjelaskan sedetail mungkin semua informasi yang sudah dia dapatkan. Dengan serius Erlando menyimak dengan seksama tanpa menyela dan membiarkan Yoga menyelesaikan laporannya. ** Suasana ternyata sangat dingin malam ini. Tiya sudah memakai jaket yang lumayan tebal menurutnya, tapi tetap saja hawa dingin berhasil menembus kulitnya dengan mudah. Jecki tahu bahwa wanita yang ia cintai sedang kedinginan saat ini. Lelaki itu melihat dari kaca spion dan menyaksikan Tiya beberapa kali menggesek-gesekkan telapak tangannya untuk mencari kehangatan. Tanpa permisi dan terkesan lancang, Jecki meraih kedua tangan Tiya. Kebetulan sekali lampu lalu lintas tengah menyala merah. Tentu Tiya kaget bukan kepalang, apalagi saat lelaki itu memasukkan ke dua tangan Tiya ke dalam saku jaketnya. "Kau kedinginan, aku takut kau sakit," kata Jecki penuh perhatian. Tiya tidak tega untuk menarik tangannya dari jaket Jecki. Meski sejujurnya ia merasa tidak nyaman, tapi bukan hal yang buruk jika menghargai perhatian orang lain kan? Begitu pikir Tiya. "Terima kasih ya, Jeck," kata Tiya yang mau tidak mau kini posisi duduknya menjadi lebih dekat dengan Jeck, bisa dibilang menempel malahan. "Sama-sama, Tiy," sahut Jecki singkat. Dan lampu lalu lintas kembali menyala hijau. Kendaraan roda dua yang Jecki tungganggi pun berjalan dengan kecepatan sedang. Tiya tak banyak bicara, karena ia bingung akan membahas apa. Dia memilih sibuk memikirkan tentang perdebatannya dengan Zeesha beberapa menit sebelum ini. Apa sikapku kelewatan pada Zeesha? Aku hanya tidak ingin temanku terjebak pada jalan yang salah. Itu saja. Pikir Tiya sedih. Tak hanya Tiya, Zeesha pun memikirkan perselisihannya dengan Tiya. Perkataan rekannya tersebut membuat ia terus berpikir ulang. "Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa hidup tanpa uang, dengan menjadi simpanan Ivan, aku bisa mendapatkan semuanya yang aku inginkan," gumam Zeesha merasa bimbang dan terombang-ambing dengan perasaannya. ** Roda dua yang Jecki tunggangi berhenti pada sebuah cafe yang tidak terlalu mewah, tapi tak juga sederhana. Sebuah tempat untuk kongkow dengan design minimalis dan kekinian. Tepat di sudut cafe tersebut, terdapat band pengisi yang siap menyanyikan semua lagu permintaan para pengunjung. "Ohhh You did it again ... You did hurt my heart ... I don't know how many times ... Ohh.. You I don't know what to say ... You've made me so desperately in love ... And now you let me down ... You said you'd never lie again ... You said this time would be so right ... But then I found you were lying there by her side ... " Penyanyi wanita dengan diiringi oleh kawan-kawannya dalam sebuah grup musik, tengah menyanyikan lagu berjudul "You" milik band tanah air yang populer pada masanya yaitu Ten 2 Five. Lagu ini adalah lagu kesukaan Tiya. Dengan mendengar suara merdu sang vocalis menyanyikan senandung patah hati tersebut membuat mood Tiya sedikit membaik. "Ohh You.. You turn my whole life so blue. Drowning me so deep, I just can reach myself again. Ohh You.. Successfully tore my heart ... Now its only pieces, Ohhh Nothing left but pieces of you .... " Tiya ikut bernyanyi mengikuti alunan musik seraya berjalan (tanpa sadar) ia menggandeng tangan Jecki. Jecki menuntun Tiya berjalan mengikuti dirinya, wanita itu terlalu fokus pada musik hingga tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya. Meleng, itulah Tiya saat ini. Saking antusiasnya ia menikmati alunan musik hingga ia tanpa sengaja menabrak seseorang yang tengah melintas di hadapannya. "Maaf-maaf saya tidak sengaja," ucap Tiya kaget plus takut bersamaan. Ponsel lelaki yang Tiya tabrak sampai terjatuh dan berputarputar di atas lantai. Tiya, Jecki dan lelaki itu sama-sama memperhatikan benda pipih yang berwarna cokelat gold tersebut menggesek lantai keramik. "Ya Tuhan, itu ponsel mahal!" seru Tiya seraya menepuk keningnya. Tiya semakin shock. Bagaimana jika handphone itu rusak dan pemiliknya meminta ia untuk mengganti dengan yang baru. Bisa-bisa gajinya sebulan habis tanpa sisa. "Mas, Pak, tolong maafkan saya! Saya benar-benar tidak sengaja," ujar Tiya seraya berjongkok dan mengambil ponsel tersebut. Wanita itu mengelus-elus ponsel mahal yang harganya bisa mencapai sekali gajinya masih ditambah dengan jam lemburnya pula. Bagaimana Tiya tidak pusing kepala? Bahkan lagu Ten 2 Five yang ia dengar berganti seperti nyanyian lingsir wengi yang mengundang setan. "Aduh ... Ba .... " Tiya tertegun. Ditatapnya lelaki pemilik handphone sultan itu lekat-lekat. Dan lelaki itu justru memandang Tiya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. "P~Pak ... Pak Erland .... " Tiya terbata-bata menyebut nama lelaki itu. Erland tersenyum seraya mengibaskan jaket jeansnya yang bermerk ternama itu dengan gayanya yang cool. "Iya, kita bertemu di sini. Dan kau melakukan kesalahan lagi," sahut Erland kemudian melipat kedua tangannya di depan d**a. Siapa dia? Tanya Jecki dalam hati. Sebagai lelaki yang menaruh hati pada Tiya, Jecki merasa terancam dengan kehadiran Erlando. Apalagi dia bisa menilai jika Erlando bukan orang sembarangan. Tentu pamor Erlando tidak sebanding dengan dirinya yang hanya pegawai officer biasa di perusahaan pialang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN