Dengan hati-hati, Yoga mengajak bossnya berkomuniksi. Dia tidak mau membuat tuannya marah karena ia telah mengganggu waktu Erlando yang tengah sibuk melamun dengan pikirannya sendiri.
"Selamat pagi, Pak," sapa Yoga dengan sopan.
Meski suara Yoga sudah pelan, tapi ternyata itu tetap saja masih membuat Erlando terhenyak. Namun, lelaki itu tidak merasa marah. Dia masih menyunggingkan senyumnya dan menyambut kedatangan Yoga dengan ramah.
"Pagi, Yoga," sapa balik Erlando seraya membenarkan posisi duduknya dan membetulkan jasnya yang sedikit berantakan.
Selama Yoga mengutarakan maksudnya menemui Erland. Tiya justru sibuk melamun sambil memainkan pulpen yang ia bawa.
"Tuk ... tuk ... tuk ...." Suara meja yang dipukul-pukul menggunakan benda tumpul mengiringi lamunan Tiya.
"Ba ...." Joanna mengagetkan Tiya. Wanita itu berseru sambil menepuk pundak Tiya.
"Astaga! Kampret!" umpat Tiya lalu membalas Joanna dengan memukul bahu rekannya itu dengan cukup kuat.
"Hahahaha, habis ngelamun sich kaunya." Joanna terkekeh geli melihat ekspresi Tiya yang menggemaskan saat sedang marah.
Tiya dan Joanna malah sibuk berdebat, sedang sambungan suara yang kini sudah terhubung dengan Erlando sedang menunggu Tiya. Berkali-kali Erlando menyapa dan mengucapkan kata 'Hallo', tapi tidak mendapat jawaban dari Tiya.
Erlando terpekur, dia menyimak ocehan Tiya yang ngalur ngidul tidak tahu arah karena beradu argumen dengan Joanna. Rekan kerja Tiya itu memang tidak tahu aturan karena suka mengajak Tiya bergosip pada saat jam kerja. Siapa lagi yang Joanna bahas jika bukan tentang keluarnya Pak Surya manager personalia idaman hatinya.
Sekretaris yang super cerewet. Batin Erlando. Senyum tipis tersungging dari sudut bibirnya.
"Sudah aku bilang, aku bukan ibunya. Jadi jangan tanyakan aku!" sentak Tiya. Lagi-lagi wanita itu harus beberapa kali menengok ke dalam ruangan Pak Alex karena takut bos galaknya itu memergoki mereka.
"Lalu anda ibunya siapa, Nona?" tanya Erlando. Senyum itu masih terkembang sempurna. Yoga yang masih berdiri di dekat Erlando pun dibuat kebingungan kenapa hal yang ditanyakan bosnya tidak ada kaitannya sama sekali dengan pekerjaan.
"Aku belum punya anak, kau ini masih juga bertanya! Jangan ganggu aku kerja! Dasar cerewet!" jawab Tiya dengan nada tinggi.
"Hei, kenapa kau mengatakan aku cerewet? Aku tanya apa memangnya? Aku tidak tanya apa-apa. Aku tau kau ini masih perawan ting-ting yang tidak laku-laku jadi dengan siapa kau akan berkembang biak?" sahut Joanna meledek Tiya kemudian tertawa terpingkal-pingkal.
"Kalau bukan kau, lalu siapa yang tanya?" Tiya memutar bola matanya. Benar-benar dia tidak sadar jika saat ini tangan kanannya masih memegang ponsel yang masih menempel pada telinganya.
"Siapa yang kau telpon, Tiy?" tanya Joanna dengan suara pelan sambil menunjuk Tiya dengan dagunya dan mengerutkan keningnya.
"Mungkin orang itu yang bertanya," lanjutnya.
"Te .. telpon?" Tiya seperti orang linglung. Dijauhkannya telepon seluler miliknya dari telinga dan dia amati layarnya.
"Ya, Tuhan!" seru Tiya dengan cukup kencang.
"Pergi kau, Jo! Jangan ganggu aku!" kata Tiya mengusir Joanna dengan suara pelan.
"Ya Tuhan, matilah aku! Kenapa aku bisa seceroboh ini?" gerutu Tiya sembari menutup speaker ponselnya. Meski begitu Erlando masih bisa mendengar perkataan Tiya. Lelaki ini tertawa.
"Yoga, bilang pada Alda untuk memeriksa kembali semua berkas untuk kita meeting oke! Biar si nakal ini aku yang mengurusnya," kata Erlando memerintah assistennya.
Si nakal? Tanya Yoga dalam batin.
"Siap, Pak" sahut Yoga yang langsung melaksanakan perintah atasannya. Lelaki itu pergi keluar dari ruangan bosnya untuk menemui wanita bernama Alda yang tidak lain adalah sekretaris pribadi Erlando.
Kembali pada Tiya, wanita itu sedang mengatur napas. Keringat dingin mendadak berselunjur di keningnya karena mengingat kebodohan yang ia lakukan gara-gara Joanna. Jika Pak Alex tahu, bisa saja dia kena pecat. Yang sedang dia hubungi saat ini bukan orang sembarangan melainkan Erlando Rajeshwari, seorang pengusaha hebat di kota ini.
"Pa~ Pagi, Pak ... " Tiya ketakutan sekali. Bibirnya bergetar saat ia menyapa.
"Anda masih hidup?" tanya Erlando.
"Sa~saya?" tanya balik Tiya dengan terbata-bata.
"Iya anda, lalu siapa lagi? Tidak ada orang yang berani mengajak saya bergosip saat jam kerja," jawab Erlando. Lelaki itu menyindir Tiya.
Mati aku! Tiya merasa dalam masalah besar pagi ini.
"Sa~saya ... Saya ma~masih hidup, Pak," jawab Tiya masih juga terbata-bata.
"Kenapa saat bicara dengan saya, anda menjadi Aziz Gagap seperti itu? Tidak sama saat anda memarahi Si Jo .... "
"Joana, Pak," sambung Tiya.
"Iya, Joanna teman anda yang tukang gosip itu," kata Erlando membuat Tiya semakin mati kutu dan susah bicara.
"Ma~maafkan saya, Pak," ucap Tiya merasa tidak enak hati.
Dalam hati wanita cantik itu tak henti merutuki kecerobohannya. Bisa-bisanya dia lupa jika ada tugas penting yang harus dia selesaikan, tapi dia malah sibuk mengurusi bualan Joanna yang sama sekali tidak ada pentingnya.
"Beraninya anda mengatakan saya cerewet," tegur Erlando. Lelaki itu sedang memberi Tiya pelajaran.
Tiya memejamkan matanya serasa dia tengah berhadapan langsung dengan lawan bicaranya hingga ia tidak mau berkontak mata dan memilih untuk menutup pandangannya.
"Itu maksudnya saya tujukan untuk teman saya, Pak. Ma~mana ... mana mungkin saya mengatakan anda ce~cerewet?"
Awas kau Jo! Aku akan membunuhmu setelah ini.
"To~tolong maafkan saya, Pak!" Tiya berkali-kali meminta maaf atas ketidaksopanannya. Tanpa wanita itu ketahui, kini Erlando tengah tertawa puas dalam hati karena sudah berhasil membuat Tiya ketakutan parah.
"Apa yang membuatmu menelpon saya, Nona?" tanya Erlando. Nada bicara lelaki itu dibuat lebih tegas dari sebelumnya.
"Ah iya itu, Pak .... "
"Itu apa?" potong Erland.
Ya Tuhan, aku kan belum selesai bicara. Keluh Tiya.
"Itu Pak soal tempat meeting kita nanti jam se .... " Tiya melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Ya Tuhan, sudah jam sembilan!" seru Tiya dengan mata terbelalak dan nyaris copot dari tempatnya.
"P~Pak ... cepat katakan pada saya! Anda mau kita meeting dimana?" lanjutnya super panik karena menyadari waktu yang sudah mepet dari jadwal yang ditentukan, tapi dia belum juga reservasi tempat hingga detik ini.
"Kau berani memerintah saya?" tanya balik Erlando dengan santainya.
"Me~memerintah? Ba~bagian mana yang saya memerintah anda, Pak?"
"Bicara yang lancar! Jangan gagap seperti itu! Bagaimana bisa Pak Alex memiliki sekretaris yang belum lancar bicara seperti anda. Saya yakin wajah anda pasti jelek sekali seperti nenek lampir kan?"
"Ya Tuhan, bukannya foto saya terpasang di layar ponsel Pak Yoga sekarang? Dan wajah secantik itu anda bilang nenek lampir?" Tiya tersulut emosi. Keberaniannya yang hilang seketika muncul saat dirinya dibully.
Erland menjauhkan ponsel Yoga dari telinganya untuk melirik sebentar ke layar dan melihat poto profil Tiya.
"Hm ... seperti mak lampir," kata Erlando kemudian tertawa kecil.
Astaga! Apa mata orang kaya itu rabun ayam atau katarak sich? Bisa-bisanya wajahku disamakan dengan nenek-nenek peyot? Sungguh terlalu. Gerutu Tiya tidak terima.