Alvira Nadira, gadis itu termenung sambil menatap kedepan dengan tatapan yang kosong. Dia, menggenggam sebuah undangan ditangannya. Napasnya dihela dengan kasar. Mata gadis itu menatap ke arah undangan berwarna merah muda. “Aku yakin disana juga ada Kak Hema. Nggak mungkin dia nggak datang di pesta ulang tahun pacarnya.” Gadis itu meletakan wajahnya yang gusar ke atas meja. Lalu, dia mengetuk – ngetuk meja dengan kubu jarinya. Dia sedang berpikir keras. Mungkin, jika dia menemukan alasan yang masuk akal, dia bisa memilih untuk tidak datang, dan merasa sakit hati. Tapi, bagaimana bisa? Dian adalah orang yang sangat keras kepala. Gadis itu sangat frustasi terjebak dalam zona yang sangat tidak nyaman. Antara sahabat, dan juga perasaannya. Ini semua sangat complicated untuknya. Ami, yang

