Alvira turun dari kelasnya, dan berjalan akan menuju ke parkiran. Seperti biasanya, gadis itu berjalan dengan merunduk ke bawah. Tiba – tiba, tangannya di sergap oleh sebuah tangan besar, yang membuat gadis itu sedikit terkejut. Dia refleks mendongak kepalanya dan melihat siapa yang menahan dirinya saat ini. “Eh, Kak Hema?” Hema yang di tatap seperti itu oleh Alvira, dia kemudian melepaskan tangan Alvira. Dan berdehem, berusaha menormalkan ekspresinya. “Lo kenapa kemari tiba – tiba cabut?” Alvira mengerjapkan matanya. Dia sungguh merasa berdebar saat ini karena Hema mendatanginya dan bertanya mengenai kemarin. Apakah Hema mengkhawatirkan dirinya? Bolehkan Alvira merasa senang kali ini, atas perhatian kecil yang Hema berikan kepadanya? Alvira menggigit bibirnya merasa malu. Dia men

