Tahun keenam pernikahan Dirga dan Andien. Dirga memeluk sang istri dari belakang, menempelkan bibirnya di daun telinga Andien. Sudah enam tahun berlalu sejak pernikahan mereka dan aroma tubuh sang istri masih saja menjadi candunya, salah satu hal di dunia yang mampu membuatnya merasa tenang. “Sudah siap?” Andien terkekeh geli. “Norak tau, Kak!” “Udah siap belum?” “Iya, sudah.” “Oke.” Dirga berpindah posisi ke hadapan Andien, melepas ikatan penutup mata istrinya, menurunkan kain itu perlahan, lalu mengulum lembut bibir Andien yang masih terpejam. “Buka mata kamu sayang...” lirih Dirga. Andien mengerjap-ngerjap, membuka kedua netra perlahan karena silaunya binar lampu dari segala sisi yang menyergapnya. Andien ikut tersenyum, menatap kedua manik kelam sang suami. “Aku bi

