“Frans pasti sangat merindukanmu. Kau juga merindukannya, kan? Jadi percayalah padaku,” ucap Martin. “Ya, kau benar. Sebenarnya aku merindukannya. Detik demi detik terasa sangat sulit bagiku,” ucap Selly yang menundukkan kepala dengan wajah sedih. Martin pun memang pundak Selly yang mencoba memberinya semangat. “Katakan padanya semua yang kau katakan padaku barusan, dan cepatlah temui dia sebelum semuanya terlambat.” Selly menjadi semangat kembali, setelah mendengar perkataan Martin. “Kalau begitu, aku pergi dulu,” ucapnya yang beranjak berdiri. “Ya,” sahut Martin. Saat sudah sampai di depan pintu, Selly menoleh ke arah Martin sambil tersenyum. “Terima kasih, Martin.” “Cepatlah pergi,” ucap Martin. Selly pun mengangguk dan berjalan meninggalkan studio kerja Martin. Martin pun hanya

