Daisy duduk terpaku, masih berusaha mengatur napas. Kedua tangannya bergetar, menarik sisa pakaian yang bisa menutupi tubuhnya, tatapannya tak lepas dari Austin yang menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
Austin menyandarkan diri ke kursi, tampak puas dengan apa yang barusan dilakukannya. Tatapannya dingin dan tajam, seperti menilai Daisy hanya sebagai benda yang bisa dipergunakan sesuka hati.
“Sudah selesai?” Suara Austin rendah dan datar, seakan yang baru saja terjadi bukanlah sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.
Daisy mengangguk pelan, suaranya teredam dalam ketakutan dan rasa tak berdaya. “I-iya, Pak.”
Austin memutar tubuhnya, menatap Daisy dengan sorot mata yang tajam. “Bagus. Jadi mulai sekarang, aku tak ingin melihat Lily sakit lagi. Kau tahu, aku tak punya waktu untuk hal-hal remeh seperti ini.”
Daisy menunduk, bibirnya bergetar, tetapi ia tak berani membantah. "Iya, Pak. Maaf.”
“Maaf?” Austin mencibir, seolah kata itu tak berarti apa-apa baginya. “Kau tahu apa yang terjadi jika Lily sakit lagi? Kau yang akan aku salahkan, Daisy. Kau harus mengurusnya juga kalau rewel, mengerti?”
“I-iya, Pak.” Daisy mengangguk, berusaha menenangkan dirinya meski hatinya penuh sesak.
Austin menghela napas panjang, memandang Daisy dengan tatapan yang sama sekali tidak mengandung rasa iba. “Kau bekerja untukku, Daisy. Itu artinya setiap masalah yang terjadi padamu, pada Lily, atau apapun yang terkait, adalah tanggung jawabmu. Aku tak mau melihat air mata lagi, atau merasa kau sedang berdrama untuk menarik simpatiku.”
Daisy merasa hatinya semakin hancur, tapi ia hanya bisa menjawab lirih, “Iya, Pak. Saya mengerti.”
Austin memperhatikan Daisy yang menunduk diam di kursinya. Setelah beberapa saat, ia melirik ke luar jendela, suaranya dingin dan nyaris tanpa perasaan, “Kau di sini bukan untuk menangis, Daisy. Aku mempekerjakanmu karena aku butuh seseorang yang bisa menjaga Lily tanpa membuatku repot.”
Daisy mencoba untuk menahan tangisannya, menggenggam erat-erat tangannya yang gemetar. “Saya paham, Pak.”
Austin menatapnya sekilas. “Bagus. Aku hanya butuh hasil, bukan alasan. Dan aku tak mau repot dengan apapun. Kalau kau ingin tetap di sini, lakukan pekerjaanmu dengan baik.”
Daisy mengangguk pelan, kata-kata itu begitu menyakitkan, tetapi ia tahu dirinya tak memiliki hak untuk membantah atau menunjukkan rasa kecewanya.
Austin kembali mengalihkan pandangannya ke depan, seperti tak ada yang salah dengan apa yang baru saja terjadi. “Mulai besok, pastikan jadwal makan, tidur, dan kesehatan Lily kau perhatikan dengan detail. Jangan ada kesalahan lagi. Aku tak mau direpotkan dengan masalah seperti ini.”
“Baik, Pak,” jawab Daisy dengan suara pelan, mencoba menyembunyikan gemetar dalam suaranya.
Daisy dan Austin kembali berjalan menuju ruang gawat darurat, setelah beberapa saat menunggu di luar. Hati Daisy masih berdegup kencang.
Sesampainya di depan pintu ruang gawat darurat, Daisy dengan cepat membuka pintu dan melangkah masuk. Perawat yang sebelumnya menangani Lily sedang berdiri di samping ranjang bayi itu. Ketika melihat kedatangan mereka, perawat itu segera menghampiri mereka dengan wajah serius.
“Bayi Anda sedang tertidur, Bu. Kami sudah memberikan obat penurun panas, tapi kondisinya perlu pemantauan lebih lanjut,” kata perawat itu sambil menatap Austin dan Daisy bergantian.
Daisy mendekat, menggenggam tangan kecil Lily yang terbaring lemah. Matanya memerah, melihat putri kecil itu tampak begitu rapuh.
“Dokter sudah melihatnya, kan?” tanya Daisy dengan suara lembut, tak kuasa menahan kekhawatiran.
Perawat mengangguk pelan. “Iya, Bu. Dokter akan segera datang untuk memberikan penjelasan.”
Tak lama kemudian, seorang dokter dengan jas putih memasuki ruang tersebut. Ia tersenyum ramah, tetapi ekspresinya berubah serius saat melihat Austin dan Daisy yang jelas terlihat cemas.
“Selamat malam, saya dokter Rani, yang menangani bayi Anda. Setelah pemeriksaan, kami menemukan bahwa demamnya disebabkan oleh alergi debu. Biasanya, bayi dengan sistem imun yang belum sepenuhnya berkembang bisa lebih sensitif terhadap lingkungan sekitar,” jelas dokter itu dengan tenang.
Daisy mengerutkan kening. “Alergi debu? Jadi, itu yang menyebabkan demamnya?”
Dokter Rani mengangguk. “Iya, Bu. Alergi debu adalah salah satu reaksi tubuh yang umum terjadi pada bayi dengan sistem imun yang masih lemah. Debu yang terhirup dapat memicu peradangan pada saluran pernapasan dan menyebabkan demam, batuk, atau bahkan kesulitan bernapas.”
“Jadi, ini tidak ada hubungannya dengan ASI saya?” tanya Daisy pelan, menatap Austin sejenak, berharap jawabannya bisa membungkam pria itu.
Dokter Rani tersenyum dan menjawab dengan lembut, “Tidak, Bu. Tidak ada hubungannya dengan ASI yang diberikan. Kami sudah melakukan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium sederhana, dan hasilnya menunjukkan bahwa reaksi ini disebabkan oleh alergen lingkungan, dalam hal ini debu.”
Austin yang sejak tadi diam, akhirnya membuka mulut dengan nada datar, “Jadi, dia sakit hanya karena debu? Apa ini sering terjadi pada bayi?”
Dokter Rani menjawab dengan sabar, “Reaksi alergi pada bayi bisa bervariasi. Beberapa bayi lebih sensitif terhadap alergen seperti debu, serbuk sari, atau bahkan bulu hewan. Yang terpenting adalah memastikan lingkungan sekitar tetap bersih dan terhindar dari paparan alergen.”
Daisy menatap dokter itu dengan penuh perhatian. “Jadi, apa yang harus saya lakukan untuk mencegahnya?”
Dokter Rani mengangguk, memberikan penjelasan lebih lanjut, “Kami akan memberikan obat antihistamin dan dekongestan ringan untuk mengurangi gejala. Selain itu, pastikan untuk menjaga kebersihan ruangan di sekitar bayi, menghindari karpet, tirai, atau benda yang bisa menyimpan debu. Penggunaan penyaring udara di dalam kamar juga bisa membantu.”
Austin menatap dengan serius, mendengarkan penjelasan dokter tanpa menunjukkan ekspresi apapun. Sementara Daisy mencoba mencernanya, hatinya sedikit lega mengetahui bahwa masalah ini bukan disebabkan oleh kesalahannya.
“Baik. Apakah ada lagi yang perlu kami perhatikan?” tanya Daisy, berharap bisa mengatasi kondisi ini dengan lebih baik.
“Pastikan Lily tetap terhidrasi dengan baik. Jika demamnya berlanjut lebih dari dua hari atau jika ada gejala lain seperti batuk terus-menerus atau kesulitan bernapas, segera bawa ke rumah sakit lagi,” ujar dokter Rani, memberikan petunjuk yang jelas.
Austin yang sejak tadi terlihat tenang, akhirnya berbicara, “Kami akan lakukan itu, Dok. Terima kasih atas bantuannya.”
Daisy menatap dokter Rani dengan rasa terima kasih, “Terima kasih banyak, Dok. Semoga Lily segera sembuh.”
Dokter Rani tersenyum dan melangkah keluar, meninggalkan mereka berdua bersama bayi kecil yang masih terlelap.
Daisy berdiri perlahan dari samping ranjang, menatap Lily yang tertidur dengan cemas. Wajah mungil itu tampak tenang meski masih terbalut demam, dan Daisy merasa hatinya tercabik-cabik. Sejak tadi, ia merasa ada ikatan yang begitu dalam antara dirinya dan bayi itu, ikatan yang lebih dari sekadar pekerja dan anak majikan.
Daisy lantas beranjak melangkah pelan menuju pintu kamar mandi, berharap bisa menyegarkan diri sejenak. Malam ini, ia harus menjaga Lily hingga pagi.
Namun, langkahnya mendadak terhenti ketika kakinya tersandung pada kaki ranjang. Tanpa bisa menahan diri, tubuhnya terjerembab ke depan, dan sebelum ia sempat menyentuh lantai, sepasang tangan yang kuat menangkapnya dengan sigap.
"Hei, hati-hati," kata Austin dengan suara rendah, yang hampir terdengar seperti ejekan.
Daisy terdiam sejenak, terkejut, dan dengan cepat menyadari bahwa tubuhnya kini terpeluk erat oleh Austin. Jantungnya berdetak cepat, seolah waktu berhenti sejenak. Ia berusaha melepaskan diri, tetapi Austin malah semakin mengeratkan pelukan, menarik tubuhnya lebih dekat.
Austin tersenyum miring, tatapannya nakal, seolah menikmati situasi ini. “Sepertinya kamu tidak bisa jauh-jauh dariku, ya?” godanya, suaranya penuh dengan sindiran.
Daisy tersentak, berusaha menjauhkan diri dari Austin, tetapi tangan kekar itu menahan punggungnya, mencegahnya bergerak.
“Lepaskan,” kata Daisy dengan suara pelan, meskipun ada rasa takut yang mulai menguasai dirinya.
Namun, Austin justru tidak berniat melepaskannya. Dengan perlahan, ia menarik tubuh Daisy ke sofa di dekatnya, menuntunnya duduk. Wajahnya kini begitu dekat, hampir menyentuh wajah Daisy. Tatapannya tajam.
"Kenapa begitu cemas, Daisy? Aku cuma mau pastikan kamu gak jatuh," ujar Austin dengan nada rendah, matanya tidak lepas dari wajah Daisy.
Daisy merasa tubuhnya semakin kaku, ia mengangkat tangan, ingin menyingkirkan Austin. Namun, pria itu justru menghalangi, tangan kekarnya kini menahan pergelangan tangan Daisy di atas sofa.
"Lily masih tidur, dan dokter mungkin nggak akan masuk lagi. Bagaimana kalau ... kita bersenang-senang sebentar, hmm?" bisik Austin seraya mengangkat sebelah alisnya.