Daisy segera turun ke lantai bawah dengan langkah cepat, memeluk Lily erat dalam dekapannya yang penuh kekhawatiran.
Bayi itu masih menangis lirih, tubuh mungilnya terasa panas di tangan Daisy. Tak lama kemudian, Austin muncul di belakangnya, mengenakan pakaian seadanya dengan wajah tanpa ekspresi.
Mereka berjalan tergesa-gesa ke garasi, isakan gadis itu tak berhenti di sepanjang langkahnya
“Masuk!” perintah Austin singkat, membukakan pintu mobil untuk Daisy.
Daisy tak banyak bicara, hanya mengangguk sambil membawa Lily masuk ke dalam mobil. Ia duduk di kursi belakang, menggendong bayi itu yang terus merintih dalam pelukannya.
Saat Austin mulai menjalankan mobil, Daisy sibuk menenangkan Lily, mengusap wajah bayi itu dengan lembut, berharap kehangatan pelukannya bisa sedikit meredakan tangisan.
Namun, Lily tetap saja gelisah, menangis tanpa henti.
"Shh ... sabar, Sayang, kita akan segera sampai di rumah sakit," bisik Daisy pelan di telinga Lily, mencoba menenangkan bayi itu.
Di depan, Austin hanya melirik sesekali melalui kaca spion, tampak sekilas memerhatikan Daisy dan Lily. Tatapan itu kosong dan dingin, membuat Daisy semakin merasa ada jarak yang begitu besar antara Austin dan anaknya sendiri.
Dia bahkan tidak berkata apa-apa. "Apa dia benar-benar tidak peduli pada Lily? Mengapa dia bisa sebegitu dinginnya?," batin Daisy, menatap Austin dari belakang.
Daisy menunduk, merasa sedih dan cemas sekaligus. Dalam hati, ia bertanya-tanya, apakah Austin mempekerjakannya untuk mengurus Lily hanya karena tak ingin repot mengurus anaknya sendiri? Apakah rasa tanggung jawab seorang ayah tak berarti apa-apa bagi Austin?
Lily menangis semakin kencang. Daisy langsung menggoyangkan bayi itu dengan lembut, menahan air mata yang hampir jatuh. “Tenang, Nak … tenang, kita sebentar lagi sampai. Jangan menangis, ya.”
Austin yang mendengar rintihan Daisy akhirnya membuka suara, "dia dulu nggak pernah sakit. Sejak diasuh olehmu, dan minum ASI-mu beberapa hari saja, tubuhnya langsung panas. Kau ini becus atau tidak mengurus anakku, hah?!"
Daisy terkejut mendengar pertanyaan Austin. Merasa dituduh dan posisinya dipojokkan, mana mungkin dia berbuat seperti itu?
"Tidak, Pak," jawab Daisy pelan, mengusap lembut dahi Lily. "Saya nggak pernah makan sembarangan, saya juga selalu memastikan sudah bersih kalau mau memegang Lily."
"Lalu kenapa anakku jadi sakit?!" bentakan itu membuat tangisan Lily semakin menggelegar, membelah jalanan malam yang tampak sepi. Austin mendesah kasar. "Awas kalau ini karena ASI-mu!"
"Maaf, Pak. Bisa kita bicarakan lagi nanti? Takut Lily makin nangis kalau mendengar perdebatan kita. Saya akan tanggung jawab kalau ini gara-gara ASI saya," sahut Daisy.
Austin hanya mengangguk pelan, tidak menanggapi lebih jauh, dan kembali fokus pada jalan di depannya.
Setibanya di rumah sakit, Daisy dengan sigap turun dari mobil dan langsung membawa Lily ke ruang IGD. Austin mengikuti dari belakang dengan langkah pelan, ekspresinya tetap datar tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan atau kekhawatiran.
Bahkan, tatapannya seakan menilai segala hal di sekitar dengan kebosanan, seolah-olah dia hanya berada di sana karena kewajiban pada putrinya.
Daisy menyerahkan Lily kepada perawat dengan hati-hati, matanya tak lepas menatap bayi itu saat diperiksa.
“Tolong, Dok … cepat bantu dia,” ucap Daisy lirih, penuh harap.
Tak lama, dokter meminta Austin dan Daisy menunggu di luar. Daisy duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk, kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuannya.
Matanya tampak berair, memendam kegundahan yang tak kunjung reda. Dalam seminggu bekerja sebagai ibu s**u, Daisy merasa ikatannya pada Lily kian kuat. Bayi mungil itu bukan sekadar tanggung jawab pekerjaan.
Bagi Daisy, Lily adalah anak yang patut dicintai dan dilindungi. Tak kuasa menahan perasaan, Daisy menunduk, membiarkan air matanya mengalir tanpa suara.
“Cengeng sekali.” Tiba-tiba Austin berujar dengan nada dingin di sebelahnya. Daisy terkejut dan menoleh, mendapati tatapan kelam majikannya yang tak bergeming. “Baru seminggu bekerja sudah begini? Apa jangan-jangan ini hanya sandiwara agar tidak disalahkan lagi?”
Daisy menggigit bibirnya, berusaha menghapus air mata dengan cepat. “Maaf, Pak. Saya hanya khawatir. Lily masih bayi, dan dia—”
“Tidak perlu beralasan. Aku mempekerjakanmu untuk merawatnya, bukan untuk menangisi setiap masalahnya. Sudah ada dokter dan akan dilakukan cek lab untuk mengetahui penyakitnya,” potong Austin tanpa peduli Daisy belum selesai berbicara.
Daisy meraup napas panjang, mengisi paru-parunya yang mulai sesak dengan banyak udara. Pandangannya teralih ke pintu ruang gawat darurat, menatap cemas membayangkan Lily terbaring sendirian di dalam sana.
Tak lama kemudian, seorang dokter keluar dan memberitahukan kondisi Lily. “Bayi Anda sedang dalam pemantauan. Kami akan berikan perawatan khusus untuk demamnya.”
Daisy menarik napas lega, meskipun perasaan lega itu tak cukup menghapus kekhawatirannya sepenuhnya.
"Ini tidak membahayakan, kan, Dok?" tanya Daisy seraya mengelap air mata.
"Tidak, Bu. Bayi memang sering sakit, dia masih rentan oleh virus. Tapi untungnya langsung dibawa ke sini, sehingga bisa segera mendapatkan perawatan."
Daisy menghela napas lega mendengar penjelasan dokter, sementara Austin hanya tersenyum tipis sampai dokter beranjak dari hadapan mereka.
Daisy hendak membawa langkah mendekat ke pintu ruang gawat darurat, ingin mengintip keadaan Lily. Namun, Austin lebih dulu menarik tangannya. "Ayo ikut!"
Belum sempat menjawab, tubuh mungilnya sudah ditarik paksa. Langkah kaki gadis itu terseok-seok saat Austin menggelandangnya menuju mobil. Entah apa maksudnya, padahal seharusnya mereka menjaga Lily.
Pintu ditutup kasar, Daisy kaget saat dirinya di dudukkan di sebelah kursi kemudi.
"Ada apa ini, Pak? Kasihan Lily kalau ditinggal. Kita—"
"Diam!" Bentakan itu memotong cepat ucapan Daisy, kelopak mata cantik itu refleks terpejam.
Austin mematikan lampu mobil, lantas berseru, "buka bajumu!"
Jantung Daisy hampir copot mendengarnya, mulutnya melongo lebar, tetapi suaranya tak mampu keluar saking syok-nya.
"Aku ingin memastikan ASI-mu aman, jadi aku harus mencicipinya. Kalau setelah ini aku aman, berati anakku sakit karena sebab lain."
"Tapi dokter mengatakan bayi memang rentan sakit, Pak. Jadi, tidak ada hubungannya dengan ASI saya!" pekik Daisy sambil menyilangkan kedua tangan di depan d**a.
"Itu hanya pemeriksaan sementara, tapi hasil lab belum keluar sehingga belum dipastikan penyakit pastinya!" tukasnya. "Sudahlah ... mau buka sendiri atau aku yang akan membukanya, hmm?"
Daisy menggelengkan kepala, di kepalanya tak pernah tercetus ide gila seperti yang dipaparkan majikannya barusan.
Ia memang pekerja, tetapi bukankah setiap manusia punya hak untuk menolak?
Sayangnya, sebelum bibirnya sempat melontarkan penolakan, Austin dengan cepat menepis kedua tangannya dan membuka paksa kemeja khas babysitter itu.
"Pak ...!" pekik gadis itu, tangannya kembali menyilang menutupi bagian tubuh atasnya yang hanya menyisakan underwear.
Matanya membelalak lebar, tetapi tak mampu menghentikan aksi Austin untuk menarik kain penyangga dua gundukan sintal itu hingga terlepas sempurna dan membuat Daisy menangis dengan perasaan luluh lantak.
Austin mencekal kedua pergelangan tangan Daisy, mulai menunduk dan mendekatkan kepala pada dua gunung yang menggantung indah dengan pucuk ranum.
"Aaarrgh ... hentikan!" Daisy berteriak histeris saat Austin melahap pucuk dadanya, tetapi pria itu tak peduli.
Terus menyusu bak bayi kelaparan, tanpa terganggu tangisan dan rintihan Daisy.
"Nikmat sekali, Daisy ... sepertinya ini memang aman," bisik Austin sejenak, lalu kembali menyedot sumber makanan utama putrinya.