Bab 9. Pengacau

1032 Kata
Setelah menyiapkan makan malam, Daisy baru saja hendak memanggil Austin ketika bel pintu terdengar. Ia menghela napas sejenak, kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya. Di sana berdiri seorang wanita cantik, dengan rambut tergerai rapi dan mengenakan gaun mini elegan berwarna merah. Senyum tipis terukir di bibir wanita itu ketika matanya bertemu dengan Daisy. "Maaf, Austin di rumah?" tanya wanita itu dengan suara lembut. Daisy mengangguk, berusaha tetap tenang meskipun sedikit terkejut. "Iya, beliau ada di sini. Silakan masuk," ucapnya sopan sambil mempersilakan wanita itu masuk. Ia berpikir, mungkin ini tamu penting, atau bahkan kerabat Austin yang datang tanpa pemberitahuan. Tepat ketika wanita itu melangkah masuk, lift di ujung lorong terbuka, dan Austin keluar dengan senyum lebar menghiasi wajahnya, senyum yang jarang sekali Daisy lihat selama ini. Ia menyaksikan dengan penuh keheranan saat Austin berjalan menghampiri wanita itu dengan langkah ringan dan sikap yang jauh dari kesan dingin seperti biasanya. "Baby," panggil Austin penuh kehangatan sambil merangkul pinggang wanita itu, lalu mengecup kedua pipinya. "Kamu datang tepat waktu. Sudah makan malam?" Wanita itu tersenyum lebar, membalas kecupan Austin di pipinya, lalu menggeleng. "Belum, tapi aku sudah lapar banget. Katanya kamu sudah siapkan sesuatu?" Austin tertawa kecil sambil melirik sekilas ke arah Daisy yang berdiri tak jauh dari mereka. "Tentu, semuanya sudah siap. Daisy, bawa makan malamnya ke ruang makan. Kami akan menyusul sebentar lagi." Daisy terdiam sejenak, berusaha menutupi kebingungan yang mulai merayap di benaknya. Ia hanya mengangguk pelan, tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya, lalu berjalan menuju dapur untuk mengambil makanan yang telah ia siapkan. Namun, di dalam hatinya, berbagai pertanyaan muncul tanpa bisa ia hindari. Siapa wanita itu? Mengapa Austin begitu hangat dan mesra padanya? Apakah dia kekasih baru Austin? Perasaan asing mulai muncul di dadanya, rasa tak nyaman yang membuatnya gelisah tanpa ia pahami alasannya. "Semoga wanita itu tidak menjadi penghalang untukku menguak tentang hubunganku dengan Austin di masa lalu," batinnya. Tak lama kemudian, saat Daisy kembali ke ruang makan membawa hidangan, ia melihat Austin dan wanita itu sudah duduk berhadapan di meja. Austin tampak begitu berbeda, dengan senyum ramah yang menghiasi wajahnya, seakan sosok dingin dan kejam yang selama ini ia kenal menghilang begitu saja. "Ini makan malamnya, Pak," ujar Daisy pelan saat meletakkan piring di depan Austin dan wanita itu. Austin hanya mengangguk sekilas, sementara wanita di depannya menatap Daisy dengan senyum yang terkesan ramah. "Terima kasih, Daisy," ucap wanita itu singkat, suaranya mendayu merdu. Daisy mengangguk tanpa berani membalas senyuman wanita itu terlalu lama. "Jika ada yang Anda butuhkan lagi, saya ada di dapur," ucapnya, berharap bisa segera menjauh dari situasi yang terasa janggal itu. Namun sebelum ia berbalik, Austin memanggilnya. "Daisy, tunggu sebentar." Daisy menghentikan langkahnya dan berbalik, menatap Austin yang kini memandangnya dengan raut datar. "Aku akan menginap di sini malam ini," wanita itu menyela dengan senyum lebar di wajahnya, seolah sengaja ingin menunjukkan sesuatu pada Daisy. Austin tersenyum kecil, lalu menatap Daisy. "Pastikan kamar tamu sebelah kamarku sudah siap, ya," ucapnya singkat, nadanya tegas. Daisy hanya mengangguk, lalu melangkah meninggalkan ruang makan, meski berbagai pertanyaan masih memenuhi pikirannya. Ia segera bergegas ke kamar kosong di lantai tiga dan membersihkannya secepat mungkin. Setelah memastikan ruangan itu sudah wangi dan bersih, ia turun kembali ke lantai bawah untuk memberitahu Austin bahwa kamar tamu sudah siap. "Kamar tamunya sudah siap, Pak," ucap Daisy pelan ketika melihat Austin masih duduk di ruang makan bersama wanita itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Austin berdiri, menggandeng tangan wanita tersebut dengan akrab dan membawanya naik ke lantai atas, meninggalkan meja makan dan piring kotor begitu saja. Daisy hanya bisa menghela napas kasar. "Ah, terserah juga dia mau ngapain!" Tanpa berpikir panjang, ia pun melanjutkan pekerjaannya dengan membereskan meja makan. Namun, tiba-tiba suara tangisan Lily terdengar dari kamar bayi. Tangisan itu bukan tangisan biasa, suara yang terdengar semakin menggelegar keras, membuat Daisy menghentikan gerakannya. "Lily?" Daisy segera meninggalkan piring di tangannya dan berlari menuju kamar bayi. Di sana, ia menemukan Lily menangis keras dengan wajah memerah, tubuh mungilnya berkeringat dan basah oleh air mata. "Lily, Sayang … ada apa?" bisik Daisy dengan cemas. Ia mencoba menyusui bayi itu, tetapi Lily menolak, menggeliat-geliat tak nyaman di dalam pelukannya. Dengan panik, Daisy menyentuh dahi Lily, dan hatinya semakin menciut saat merasakan suhu panas. "Ya Tuhan, demam!" gumamnya, semakin panik. Tak ada waktu lagi. Ia harus segera menemui Austin. Dengan segera, Daisy menggendong Lily yang terus menangis ke lantai tiga, berharap Austin bisa membantunya membawa Lily ke rumah sakit. Sesampainya di depan kamar Austin, Daisy mengetuk pintu dengan keras. "Pak Austin!" panggilnya cemas. "Lily demam, tolong antar kami ke rumah sakit! Pak Austin, ini penting!" Namun, tidak ada sahutan dari dalam. Daisy mengetuk lagi, semakin keras dan penuh harapan, tetapi tetap saja pintu itu tidak dibuka. "Apakah dia tidak mendengar?" pikirnya. Daisy mulai putus asa. Dengan tangisan Lily yang semakin keras, ia tidak bisa menunggu lebih lama. Akhirnya, ia memutuskan untuk mengetuk pintu kamar tamu yang tadi ia bersihkan. Berharap wanita tadi bisa membantunya memanggilkan Austin. Tok! Tok! Tok! Detik berikutnya, pintu terbuka, dan Austin muncul di depan pintu. Namun, pemandangan itu membuat Daisy tertegun. Pria itu hanya mengenakan handuk yang dililitkan di pinggangnya, tubuh bagian atasnya telanjang, dan tampak jejak keringat di pelipis serta d**a. Dengan tatapan jengkel, Austin menatap Daisy yang terpaku di depannya. "Ada apa, Daisy?" tanyanya dengan nada dingin. "Ganggu saja!" Daisy merasa geram melihatnya dalam keadaan seperti itu. Bagaimana bisa, di saat anaknya sedang sakit dan demam, Austin malah asyik dengan hal lain? "Maaf, Pak, tapi Lily sedang demam tinggi!" ujarnya tegas, suaranya sedikit bergetar antara panik dan marah. "Saya sudah mencoba menenangkan, tapi dia tidak mau diam, dan suhunya sangat tinggi. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit." Austin menatapnya dengan tatapan datar tanpa arti. "Apa kamu nggak bisa menanganinya sendiri ? Aku sedang … ada urusan." Daisy menggeleng dengan keras. "Ini tidak bisa ditunda, Pak. Lily butuh pertolongan dokter secepatnya!" Austin terdiam sejenak, lalu mendesah pelan. "Baiklah. Tunggu di bawah. Aku akan bersiap-siap." Daisy mengangguk dan lekas berbalik badan, sebelum melangkah, ia mendengar Austin kembali berkata, "semoga ini bukan akal-akalanmu untuk mengacaukan malamku bersama wanita lain. Kau harus tahu aku berhak dengan wanita manapun, bukan hanya menikmati malam bersamamu saja. Argh ... kau ini memang pengacau, Daisy!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN