Bab 8. Rencana

1122 Kata
Daisy melangkah perlahan keluar dari kamar Austin, menutup pintu dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia berjalan menuju kamar Lily, sambil memastikan bayi mungil itu tetap terlelap dalam dekapan selimut yang membalut tubuhnya. Begitu sampai di kamar, Daisy membaringkan Lily yang sudah tertidur pulas. Napas bayi itu teratur, wajahnya damai, seolah rasa tak nyaman yang tadi menyelimuti lenyap begitu saja. Daisy menghela napas lega. Ia merogoh saku, mengeluarkan ponsel dengan tangan gemetar. Ada dorongan tak tertahankan untuk mencari jawaban. Ia pun menekan nomor sahabat dekatnya saat SMP. "Halo, Nita?" Daisy mencoba menenangkan suaranya agar terdengar biasa. "Aku mau tanya sesuatu." "Daisy? Tumben menelepon pagi-pagi begini. Ada apa?" Sahutan Nita terdengar ceria, meski di ujung nada ada sedikit kekhawatiran. Daisy menggigit bibir, memutuskan untuk langsung ke pokok pertanyaan. "Kau tahu tentang Austin Erlando? Apa ada siswa dengan nama itu di sekolah kita dulu?" Terdengar jeda sejenak sebelum Nita menjawab. "Austin? Oh, tentu, aku ingat. Dia cukup terkenal di sekolah, tapi pindah saat kenaikan kelas dua. Kalau tidak salah, itu tepat setelah kecelakaanmu yang membuatmu koma beberapa bulan." Daisy tersentak. Pikirannya terhanyut ke masa lalu yang masih sedikit samar. Kecelakaan itu memang telah merenggut sebagian ingatannya, meninggalkan kekosongan yang kini perlahan terisi oleh potongan-potongan yang tak utuh. "Apa ... aku dan Austin pernah dekat?" tanyanya, suaranya terdengar serak, penuh keraguan. Jantungnya berdetak lebih cepat, menanti jawaban yang rasanya memakan waktu lebih lama dari seharusnya. Nita terdiam di seberang telepon. Hanya helaan napas panjang yang terdengar, seakan ada sesuatu yang memberatkan lidahnya untuk bicara. "Nita? Kau masih di sana?" Daisy mengulang, mulai resah dengan hening yang mendadak menghimpit. "Iya, aku di sini, Daisy. Tapi soal itu ...." Nita tak melanjutkan kalimatnya, seolah ragu atau mungkin takut membuka luka lama yang terpendam. Belum sempat Daisy mendesak lebih jauh, tangisan Lily menggema memenuhi ruangan. Refleks, Daisy mengakhiri panggilan dengan cepat. "Nita, nanti kita lanjutkan!" serunya. Daisy menutup telepon, hatinya semakin berdebar penuh kegundahan. Sambil menggendong Lily yang mulai tenang dalam pelukannya, benaknya dipenuhi pertanyaan. "Apa pernah ada sesuatu yang terjadi di antara kami di masa lalu?" Daisy menggendong Lily yang masih menangis, berusaha menenangkan bayi mungil itu sambil pikirannya melayang jauh. Setiap kali angannya beralih ke foto di kamar Austin, senyum cerah mereka berdua seakan menari-nari di ingatannya yang samar. “Apa mungkin kami pasti pernah dekat?" gumamnya pelan, berusaha mengingat momen-momen yang terhapus. Keresahan dan keinginan untuk menggali kembali masa lalu semakin membara dalam hatinya. • Hari beranjak sore ketika mobil Austin meluncur memasuki halaman mansion. Daisy merasakan degup jantungnya berdetak lebih cepat, seolah mengantisipasi pertemuan yang akan datang. Ia menghela napas panjang, merasakan ketegangan yang menyelimuti, sebelum akhirnya memutuskan untuk menyambut kedatangan majikannya dengan hangat. Kedua tangannya mengepal erat, berusaha menahan segala emosi yang menyelimuti dirinya. “Selamat sore, Pak Austin,” sapa Daisy dengan senyuman yang tulus, meski di balik itu, rasa cemas membara. “Bolehkah saya membantu membawakan tas kerja Anda?” Austin memandangnya dengan tatapan curiga, seolah mengamati setiap gerak-gerik gadis itu. “Kenapa tiba-tiba kau jadi baik?” tanyanya, suaranya datar. “Saya hanya ingin membantu Anda,” jawab Daisy, berusaha terlihat meyakinkan. “Bapak terlihat sangat lelah.” Setelah beberapa detik menimbang, Austin mengangguk dan menyerahkan tasnya. “Baiklah, tapi jangan berharap ini akan membuatku percaya kepadamu,” katanya. Daisy mengangguk, menyembunyikan rasa sakit di hatinya. Dalam hatinya, ia memutuskan untuk mengalah dan mengikuti alur permainan Austin demi menggali hubungan mereka yang misterius belasan tahun lalu. “Apa yang bisa saya buatkan untuk Anda, Pak? Teh atau kopi, mungkin?” tanyanya dengan suara lembut. “Buatkan kopi hitam. Yang pahit,” perintah Austin, sambil melangkah menuju ruang tamu. Dengan sigap, Daisy bergegas ke dapur, mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan. "Aku harus bisa mengambil hatinya, ini mungkin langkah pertama sekaligus petunjuk dari Tuhan. Selain untuk membalas pelecahan itu, aku juga perlu ini untuk menguak masa lalu kami," batinnya penuh tekad. Saat kopi sudah siap, ia menuangkannya ke dalam cangkir, lalu menghampiri Austin yang sedang duduk di sofa beludru. Daisy menyodorkan cangkir tersebut, seraya bibirnya tersenyum tipis. “Semoga Anda suka.” Austin menerima cangkirnya, menatapnya sejenak sebelum menyeruputnya. “Hmm, lumayan. Tapi jangan berharap aku akan memuji. Memang sudah seharusnya kau melakukan ini, kan? Seperti kataku tadi pagi. Jadi, jangan karena kau inisiatif sendiri, lalu berpikir aku akan memaafkan kesalahanmu. Hah ... tidak akan!” ketusnya, meski di sudut bibirnya tersungging senyum kecil, yang seolah mengisyaratkan bahwa ia terkesan dengan usaha Daisy. "Saya mengerti, Pak. Saya hanya ingin melakukan yang terbaik,” katanya, berusaha menjaga suasana tetap positif. Austin kembali menyeruput cairan hitam pekat beraroma khas tersebut, seolah sangat menikmati rasa dan aromanya. Melihat itu Daisy memutuskan kembali ke kamar Lily. Saat Daisy berbalik badan hendak melangkah pergi, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik kuat oleh Austin. Dalam sekejap, ia terjerembab ke sofa, duduk tepat di samping pria itu. Jantungnya berdebar kencang saat Austin mendekatkan wajahnya, embusan napas hangat pria itu mengenai wajahnya. “Belum ada perintah untukmu pergi, Daisy,” bisik Austin, suaranya rendah dan penuh tekanan. “Jadi, kau harus menemani aku sebentar.” Daisy menatap Austin dengan bingung, mencoba membaca ekspresi di wajahnya. “Pak Austin, saya—” “Kenapa tiba-tiba kau berlaku baik dan ramah padaku?” tanya Austin dengan cepat, tatapannya tajam seperti belati. “Ada maksud lain di balik semua ini? Aku tahu ini bukan dirimu yang sesungguhnya, bahkan tadi pagi kau masih terpaksa melayaniku. Jangan coba-coba mempermainkanku, Daisy!” Daisy menelan ludah, berusaha tetap tenang meski hatinya bergetar. “Saya hanya mencoba menerima takdir untuk bekerja di sini. Saya akan melakukan yang terbaik dan tidak akan menentang Anda lagi,” jawabnya, berusaha menunjukkan kesungguhan. Austin mendengus, menyeringai remeh. Sebelah alisnya terangkat, seolah meragukan kata-kata Daisy. “Begitu? Kau belajar beradaptasi, ya?” Ia menatapnya lekat-lekat, seakan mencari celah kebohongan gadis itu. “Dengar baik-baik, Daisy. Aku tidak suka jika kau berani berencana atau melakukan sesuatu yang licik terhadapku.” Daisy merasakan ketegangan di udara, dengan dengan suara yang bergetar, ia menjawab, “Saya tidak berniat melakukan apa pun, Pak. Saya hanya ingin bekerja dengan baik.” Austin kembali memangkas jarak, Wajah tampan itu semakin dekat dengan wajah Daisy. “Kau tahu, jika aku menemukan satu saja kelicikan darimu, aku akan mengambil tindakan yang bahkan tidak pernah kau bayangkan. Jangan coba-coba bermain-main denganku!” Gadis itu mengangguk kaku. "Saya mengerti, Pak. Saya juga tidak berani—" "Hhmmmpph ...." Belum sempat Daisy menyelesaikan ucapannya, Austin langsung membekap bibir ranum itu menggunakan bibirnya. Ciuman hangat sore itu membuat Daisy mematung kaku, tak bisa mengelak karena gerakannya dikunci. Meski takut ada orang lain melihat dan khawatir menimbulkan masalah. "Jangan macam-macam dan nikmati saja, kau tadi bilang mau kerja dengan baik, kan? Maka balas ciumanku dengan baik pula," bisik Austin, lantas kembali memagut bibir kenyal yang kini telah menjadi candunya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN