Bab 7. Fakta Baru

1124 Kata
Austin meninggalkan mansion dengan langkah cepat, mengabaikan Daisy yang mungkin sedang menangis karena bentakannya. Setibanya di kantor, suasana sibuk dan bising langsung menyambutnya. Ia berjalan menuju ruang kerja, di mana adiknya, Adolf, sudah menunggunya. Adolf adalah sosok yang berambisi dan cerdas, salah satu jajaran penting di perusahaan, dengan ide-ide brilian yang seringkali menjadi bahan diskusi hangat di antara mereka. "Kau baru sampai, Kak?" sapa Adolf saat melihat kakaknya baru saja masuk ruangan. "Ya. Ada beberapa masalah tadi di rumah." Austin langsung mendudukkan diri di kursi kerjanya, menyalakan komputer guna mengecek dokumen. Ia dan Adolf tinggal di kediaman berbeda, adiknya itu masih menetap di rumah yang sama dengan orang tuanya. “Oh, iya ... apa kau sudah bertemu dengan Daisy?” tanya Adolf sambil melirik wajah kakaknya yang terlihat tegang. Austin mengangguk pelan, menahan napas sejenak sebelum menjelaskan, “iya, aku sudah bertemu dengannya. Dia melamar untuk menjadi ibu s**u putriku.” "Hah ..? Dia sudah menikah?" Adolf tak dapat menyembunyikan keterkejutan, pertanyaannya memancing tatapan sinis sang kakak. "Dia punya kelainan hormon, bisa menghasilkan ASI meski belum menikah." "Aneh," gumam Adolf, tatapannya tak terlepas dari Austin. "Ya, memang aneh. Dia selalu aneh sejak dulu!" Adolf mengerutkan kening, jelas ada rasa ingin tahunya. “Bagaimana awalnya? Kau tahu, kan, latar belakangnya?” Austin tersenyum sinis. “Sejak dulu aku paling tahu tentangnya, Adolf." Adolf mengangguk paham, sedikit ragu dengan nada tegas yang dikeluarkan kakaknya. “Lalu, apa rencana selanjutnya? Apakah kau akan memperlakukannya dengan baik?” “Tidak. Rencanaku adalah membuatnya sengsara. Aku hanya berpura-pura menampung dan menolongnya, tapi sebenarnya aku ingin melihatnya menderita," jawab Austin dengan entengnya. Mendengar penjelasan itu, Adolf mengerutkan dahi. “Kau yakin ini dengan apa yang kau lakukan? Apa tidak ada cara lain untuk menyelesaikannya?” Austin mendengus, mengabaikan keraguan adiknya. “Tidak ada cara lain. Daisy harus merasakan konsekuensi dari tindakannya. Dia mengira bisa masuk ke dalam hidupku tanpa membayar harga yang pantas. Sekarang, aku akan membuatnya merasakan semua itu.” Adolf menatap Austin dengan prihatin. “Jangan sampai kau kehilangan kendali, Kak. Ini bisa berbalik melawanmu. Kau pernah susah payah mencarinya, saat dia muncul di hadapanmu malah ingin kau siksa.” Austin hanya mengangkat bahu, tidak peduli dengan peringatan adiknya. “Biarkan saja. Aku akan memastikan Daisy merasakan kepedihan yang telah aku alami. Dia tidak tahu bahwa hidupnya di tanganku sekarang.” Adolf menggelengkan kepala, merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan rencana kakaknya. Namun, Austin sudah terlanjur terperangkap dalam dendam dan keinginannya untuk membalas sakit hati. “Kau harus ingat bahwa Daisy sebenarnya tidak tahu apa-apa. Bahkan Paman sendiri yang memintamu untuk menjaganya dari keluarganya atau orang yang berniat jahat padanya. Dia butuh perlindungan, Kak. Dia punya masalah besar, jauh lebih besar dari perasaanmu semata. Bukankah seharusnya kau melindunginya, bukan menindasnya?” Austin menatap Adolf dengan tatapan tajam, hatinya penuh dengan kebencian yang menyala-nyala. “Apa maksudmu? Kenapa kau membela gadis itu?!” Adolf menelan saliva, berusaha menahan diri dari kemarahan kakaknya. “Kau ingat, kan? Ada seseorang yang mempercayakanmu untuk menjaga Daisy. Dia tidak layak mendapat perlakuan semacam ini. Kau seharusnya menjaga amanah ini, bukan malah seperti ini.” Austin mendengus, memutar bola matanya. “Jangan ikut campur, Adolf. Ini adalah urusanku. Dan jangan pernah membicarakan hal ini kepada siapapun. Aku tidak ingin ada yang tahu tentang rencanaku. Ini adalah masalah pribadiku.” “Tapi, Kak—” “Cukup!” Austin memotong, suaranya menggema di ruangan itu. “Daisy sudah ada dalam kendaliku sekarang, itu yang terpenting. Aku akan mengurus masalah ini dengan caraku sendiri. Kau tidak perlu mencampuri urusan ini.” Adolf terdiam, menahan rasa frustrasi yang meluap-luap di dalam hatinya. Ia mengerti betapa keras kepala kakaknya sekarang, tetapi ia juga tahu bahwa tindakan Austin bisa mengarah pada sesuatu yang berbahaya. “Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Tapi ingat, aku di sini jika kau membutuhkanku,” ujarnya. "Dan aku harap ... kau tidak kelewatan, Kak." Austin mengangguk tanpa menimpali apapun, mengabaikan peringatan sang adik yang sejujurnya dalam relung hati terdalam, ia membenarkan ucapan itu. "Aku tetap melindunginya dari masalah di luar sana, Adolf. Tapi menyengsarakannya ... tetap menjadi tujuan utamaku!" batin Austin. • Sementara itu di mansion, Daisy merasa kalut oleh tangisan Lily yang terus menggema di telinganya. Meski sudah disusui, bayi itu tetap tidak mau berhenti menangis, bergerak gelisah di pelukannya. Setiap usaha yang dilakukannya tampaknya sia-sia. Dalam kebingungannya, Daisy tidak tega melihat wajah Lily memerah lantaran terlalu banyak menangis. “Daisy, mungkin kau bisa mencoba mengambil selimut di kamar Pak Austin,” saran ART senior yang sedang membantunya menenangkan Lily. “Selimut itu milik mantan istri Pak Austin. Biasanya, Bapak selalu menggunakannya untuk membedong Lily jika sedang tidak enak badan. Mungkin baunya bisa menenangkan Lily.” Daisy menatap ART dengan harapan. “Selimut yang mana?” “Yang di ranjang kamarnya. Ambil saja ke sana, tidak ada cara lain. Kau tidak tega melihat Lily menangis terus, kan?” Dengan sedikit keraguan, Daisy mengangguk dan segera beranjak ke kamar Austin, menggendong Lily erat di pelukannya. Sesampainya di lantai dua, ia memasuki kamar mewah yang selama ini hanya dilihatnya dari jauh. Dengan cepat, matanya tertuju pada selimut kecil berwarna merah muda yang terletak di ranjang. “Itu dia,” gumamnya pelan. Ia yakin itu selimut yang dulu digunakan ibu kandung Lily. Tanpa berpikir panjang, Daisy menyelimuti tubuh mungil Lily dengan selimut tersebut. Ajaib, tangisan Lily mulai mereda, dan Daisy merasakan sebuah kelegaan mengalir dalam dirinya. “Akhirnya, sayangku tenang,” ujarnya sambil mengelus lembut kepala bayi itu. Namun, ketika ia berbalik hendak keluar dari kamar, pandangannya tak sengaja tertuju pada sesuatu yang menggelitik rasa ingin tahunya. Di atas nakas samping ranjang, ada sebuah bingkai foto. "Foto itu ... kayak kenal," ucapnya lirih, memperhatikan detail foto sepasang muda-mudi tersebut. Dengan hati-hati, Daisy mengambilnya, dan saat melihat lebih dekat, jantungnya berdegup kencang. Wajah di dalam foto itu tampak tak asing. Dengan seragam biru putih, ia seperti melihat dirinya saat masa muda dulu, tersenyum ceria di samping seorang pria yang tidak dikenalnya. Namun, wajah pria itu terasa familiar. Netranya menyipit memperhatikan dengan saksama name tag di baju foto itu dan terkejut melihat namanya tertera di sana. "Daiys Altheda Elmer. Astaga ... ini 'kan namaku. Foto ini beneran aku?! Ya Tuhan ... ini benar aku?! Kenapa fotoku ada di sini?” Ia hampir tidak percaya. Lalu, matanya beralih ke name tag di baju pria itu. “Austin Erlando?” Jantungnya serasa berhenti berdetak. Pemandangan ini menghantamnya seperti gelombang. Kakinya mulai lemas, hampir membuatnya terjatuh jika tidak ingat akan Lily yang digendongnya. "Kenapa aku bisa foto sama Pak Austin? Apa kita dulu saling kenal? Tapi kenapa aku lupa sama namanya, ya? Wajahnya ... juga sama sekali nggak ada dalam ingatanku. Ya Tuhan ... apa ini?! Apa pernah ada sesuatu di antara kami?!" batinnya, penuh tanya dan gemuruh dalam d**a.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN