Pagi menjelan, sinar matahari menyelinap masuk melalui tirai jendela, menerangi ruangan dengan cahaya hangat.
Daisy terbangun, merenggangkan tubuhnya yang masih lelah, tetapi segera teringat akan tanggung jawabnya. Ia segera beranjak menuju kamar sebelah, di mana Lily terbaring dengan wajah polos dan senyum yang tak pernah gagal menyentuh hatinya.
“Selamat pagi, Sayangku,” ujarnya lembut, menggendong Lily dengan hati-hati.
Bayi itu menggerak-gerakkan tangan kecilnya, seolah menjawab dengan tawa yang ceria. Layaknya melodi indah yang menghapus segala kepedihan yang menggelayuti pikirannya.
“Mari kita mandikan kamu, ya.”
Daisy membawa Lily ke kamar mandi, menyusun perlengkapan dengan hati-hati. Ia mengisi baskom kecil dengan air hangat, merasakan aroma sabun bayi yang segar memenuhi udara.
Dengan lembut, ia mencelupkan tangan ke dalam air, memastikan suhunya nyaman sebelum memandikan Lily. Saat ia membasuh tubuh mungil itu, senyuman Lily seolah membawa serta beban yang teramat berat dari pundaknya
“Lihat betapa cantiknya kamu, Sayang. Kamu pasti akan jadi bintang di masa depan,” ucapnya penuh kasih, sambil mengelus lembut kepala bayi itu.
Setelah selesai memandikan, Daisy menggantungkan handuk bersih di leher Lily, membawanya keluar untuk dijemur di teras.
Di luar, sinar matahari semakin bersinar cerah, dan ia duduk di kursi beranda, menjemur bayi itu sambil bercerita.
“Satu hari nanti, kamu akan menjadi gadis baik. Semoga tidak ada sifat buruk ayahmu yang diwariskan padamu, Nak.”
Tanpa ia tahu, Austin mengamati dari kejauhan. Ia berdiri di balik jendela, menatap tajam sosok Daisy yang tampak bahagia, sementara di dalam hatinya membara amarah dan dendam.
Melihat keindahan hubungan antara Daisy dan Lily hanya membuatnya semakin gelap. Dalam pikirannya, ia terobsesi untuk menyiksa Daisy lebih jauh, membuatnya merasakan rasa sakit yang lebih dalam.
“Lihat saja, Daisy. Aku tidak akan membiarkanmu tertawa riang seperti pagi ini. Kau harus merasakan hukuman atas semua yang telah kau buat kemarin!” desisnya.
Austin melangkah ke ruang tamu, masih dengan sorot mata tajam bak seekor elang yang mengintai musuhnya.
“Daisy!” serunya tegas, suaranya menggema di dalam ruangan.
Daisy tersentak mendengar panggilan itu. Ia menatap Austin dengan perasaan campur aduk.
“Ya, Pak Austin?” jawabnya pelan, berusaha menjaga nada suaranya tetap tenang.
“Bawa Lily ke kamarnya!” perintah Austin dengan nada angkuh, seolah tidak ada ruang bagi penolakan. "Setelah langsung ke ruang makan! Aku tunggu di sana."
“Baik, Pak.”
Dengan lembut, ia mengangkat bayi itu ke dalam pelukan tangannya, membawa langkah kecil menuju kamar sesuai perintah Austin.
Setelah menidurkan Lily, Daisy langsung menuju ruang makan, di mana Austin sudah duduk di meja dengan postur tegap.
“Sekarang siapkan sarapan untukku!” perintah pria itu, tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dsisy.
Daisy mengangguk, meski sejujurnya terpaksa mengikuti perintah itu. “Apa yang Bapak mau?”
Austin menatapnya dengan tajam. "Apa saja. Yang penting harus ada protein dan serat. Dan ... kau harus menyiapkan serta melayaniku makan sebagai hukuman karena kemarin berani kabur. Aku menjentikkan koki untuk sementara waktu, dan kau yang mengambil alih tugasnya. Kalau makananmu tidak enak, maka bersiaplah untuk hukuman selanjutnya!"
Daisy merasa lidahnya kelu untuk melawan. Ia tidak ingin memperpanjang masalah, dan tanpa berkata sepatah kata pun, ia melangkah ke dapur.
"Ya Tuhan ... padahal aku yang seharusnya marah. Aku pergi, kan, karena tindakannya malam itu. Mentang-mentang punya uang dan kuasa, memperlakukanku seperti ini," gerutu Daisy, nelangsa.
Menit berlalu ....
Langkahnya keluar dari dapur sambil membawa hasil masakannya, lantas menyajikan sarapan di meja.
Austin tetap duduk di kursinya, menatapnya dengan kilatan mata tajam. “Berhenti berdiri di situ, tetap di sampingku dan jangan beranjak sedikitpun.”
Tangannya mulai menyuap makanan ke dalam mulut, setiap suapan tak luput dari lirikan Daisy. Seolah gadis itu juga harap-harap cemas apakah makanannya enak atau tidak.
“Ayo, cepat! Ambilkan air sama garam!” perintahnya dengan nada datar, membuat Daisy gelagapan .
Bibir ranum gadis itu sama sekali tidak melukiskan senyuman, ia segera bergegas ke dapur, berusaha menahan perasaannya yang berkecamuk di dalam hati.
Setelah mengambil air dan garam, Daisy kembali ke meja. Ia menuangkan air ke dalam gelas dan menaruh garam di dekat piring Austin.
"Beri sedikit garam lagi, rasanya nggak enak! Kurang rasa dan lidahku rasanya hambar. Aku heran, kau ini masak saja nggak becus. Bisanya hanya marah!"
Daisy mengangguk singkat mendengar makian itu, berusaha tidak mengambil hati meski ucapan Austin menusuk kalbunya.
Tangannya terulur, menaburkan sedikit garam ke atas masakan Austin. Selanjutnya, pria itu kembali menyendok dan memasukkan ke mulut, tetapi detik berikutnya, keningnya mengerut dengan wajah memerah.
“b*****t! Masakanmu malah semakin nggak enak!” teriak Austin, suaranya menggelegar memenuhi ruang makan.
Ia bangkit dari kursi, menggebrak meja dengan keras sehingga semua barang yang ada di atasnya bergetar. Raut wajahnya menunjukkan kemarahan yang mendalam, seolah seluruh dunia salah karena tidak sesuai harapannya.
Daisy terkejut, bola matanya membesar melihat reaksi Austin. Ia hanya bisa terdiam, merasakan ketegangan dalam setiap otot tubuhnya.
“Tapi, saya sudah mencoba yang terbaik, Pak. Bapak sendiri tadi yang minta tambahan garam,” ucapnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.
"Oh ... jadi kau menyalahkanku sekarang?!"
Austin mendekat, menghampiri Daisy dan mengikis jarak antara keduanya.
“Coba kau katakan sekali lagi, dan lihat apa yang akan terjadi!” bentaknya, mencengkram kuat lengan Daisy hingga gadis itu mengeluarkan pekikan kecil menahan rasa sakit.
Daisy merasa air mata menggenang di sudut netranya, tetapi ia berusaha untuk tidak menangis. “Saya hanya menjalankan perintah Bapak tadi—”
“Cukup!” potong Austin dengan nada tinggi. “Kau hanya seorang gadis yang bisanya memberi alasan. Kau tidak lebih dari sekadar pelayan di rumah ini. Jadi, kau harus ingat tempatmu. Jangan berani-berani menentang ucapanku!”
Daisy tertunduk, berusaha menahan diri untuk tidak menjawab, meskipun hatinya merasa hancur oleh kata-kata tajam yang terlontar tanpa belas kasihan.
Daisy merasakan lengannya mulai terasa nyeri, menjalar ke bagian tubuh lain, tetapi ia sadar tidak bisa melawan.
“Saya minta maaf, Pak. Saya akan berusaha lebih baik lain kali,” ujarnya lirih, berusaha mencari jalan untuk meredakan kemarahan Austin.
“Lain kali, lakukan dengan benar. Jika tidak, kau akan mendapatkan konsekuensinya. Tidak ada lagi kesempatan kedua!" ketus pria itu sambil melepaskan cengkramannya, menghempaskan lengan Daisy hingga gadis itu hampir limbung.
Pria itu berbaik badan, melenggang pergi dari hadapan Daisy tanpa peduli suasana hati ibu s**u putrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
"Menangislah, Daisy! Aku puas saat melihatmu menangis, persis seperti saat dulu kau mencampakkan aku dan tak pernah menganggap kehadiranku. Sekarang ... aku tahu kau tidak ingat aku, bahkan mungkin wajahku sudah hilang dari ingatanmu. Tapi, ada satu yang tidak akan bisa hilang. Yaitu ... dendamku!" batinnya.