Austin melangkah mendekat, dengan tiba-tiba, ia duduk di sebelah Daisy yang tengah melamun di bangku taman. Gadis itu terperanjat, hampir memekik karena terkejut dengan kehadiran Austin.
Namun, sebelum ia sempat beranjak berdiri, Austin dengan cepat menarik tangan Daisy, memaksanya untuk duduk kembali.
“Kenapa kau kabur, Daisy?” tanyanya, suaranya tegas, tetapi terdapat nada yang menekan di balik kata-katanya. “Meski kau pergi ke ujung dunia pun, aku tetap bisa menemukanmu.”
Daisy hanya menundukkan kepala, berusaha menahan air mata yang ingin meluncur. Kata-kata Austin melukai hati dan mengingatkannya akan kepahitan yang ia rasakan semalam.
Sebelah tangannya reflek memeluk tubuhnya sendiri, seolah melindungi agar tak dijamah lagi oleh Austin.
“Kau tahu, anakku sudah terlanjur cocok dengan ASI-mu,” Austin melanjutkan, nada suaranya angkuh, tatapannya lurus ke depan tanpa sedikitpun melirik Daisy yang sudah tak nyaman karena kehadirannya. “Kau tidak bisa pergi begitu saja. Ini bukan hanya tentangmu, tapi juga tentang Lily.”
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata gadis itu, tetapi ia berusaha keras untuk tidak menunjukkan kelemahannya. Austin menoleh, memperhatikan ekspresi wajah cantik itu yang dipenuhi keputusasaan.
“Kau memang ingin pergi, tapi sepertinya kau lupa bahwa ada tanggung jawab yang harus kau pikul,” ujarnya, tatapannya dingin dan tajam.
Daisy menggigit bibirnya, merasa terpuruk di bawah tatapan itu. Ia tidak bisa menemukan kata-kata untuk membela dirinya, hanya mampu menunduk dalam diam, meresapi setiap kata yang terlontar dari bibir Austin.
Dalam hatinya, ia berusaha meyakinkan diri bahwa pergi adalah pilihan terbaik, meski entah ke mana tujuannya malam ini.
“Kau ingat kontrak kerjamu, bukan?” tanya pria itu lagi, nada suaranya tegas. “Kau melamar sebagai ibu s**u untuk Lily. Jadi, kau tidak bisa pergi begitu saja.”
Daisy mengerutkan keningnya, merasakan kembali rasa frustrasi yang mendidih dalam dirinya.
“Jadi, Bapak ingin mengancamku sekarang?” balasnya, mencoba menahan diri agar tidak terbawa emosi.
“Jika itu yang perlu aku lakukan agar kau tetap di sini, maka aku akan melakukannya,” jawab Austin, tanpa menyembunyikan ketegasan dalam suaranya. “Atau kau siap untuk membayar konsekuensinya?”
Dengan cepat, senyum sinis muncul di wajah Daisy.
“Konsekuensi berat? Apa yang bisa Bapak lakukan? Mengancamku? Atau mungkin ... memaksaku untuk kembali ke Mansion?” ia berbisik pelan, suaranya mengandung nada sinis. “Bapak tahu ... Anda itu hanyalah b******n yang tak punya hati nurani.”
Austin tidak terpengaruh oleh kata-kata Daisy. “Ya, aku memang b******n,” jawabnya dengan enteng. "b******n yang disiapkan untuk membelenggu iblis cantik sepertimu.”
Tangan kekarnya terulur mencengkram lembut kedua pipi Daisy, mendekatkan wajahnya hingga bisa melihat sepasang manik bening itu berkaca-kaca.
"Kalau aku menginginkan untuk kau tetap tinggal di mansion, maka tidak ada yang bisa kau lakukan selain tetap tinggal. Kau bebas kabur, tapi ... ingatlah bahwa aku selalu bisa menemukanmu!" bisiknya, tegas.
Bulir bening lolos, menetes membasahi pipi Daisy dan mengenai jemari Austin. Namun, tak ada iba dalam tatapan pria itu. Hanya ada kilatan penuh amarah.
"Ayo pulang! Jangan coba-coba lari kalau kau tidak tahu siapa sebenernya aku. Jangan main-main dengan b******n ini, Daisy!"
Austin mengambil tas Daisy dan menggandeng gadis itu ke mobil. Tanpa ada penolakan, Daisy menurut saja mengikuti langkah majikannya.
Di dalam mobil, suasana di antara Austin dan Daisy terasa tegang dan membosankan.
Daisy lebih banyak diam, seolah-olah menyadari betapa sedikitnya kesempatan yang dimilikinya untuk melawan takdir yang kini harus dijalaninya.
Austin, di sampingnya, menyetir dengan tenang, pikiran penuh dengan rencana untuk memastikan Daisy tidak lagi melarikan diri.
Setibanya di mansion, suasana tampak sepi. Daisy merasa seperti terjebak di dalam sebuah lukisan kelam, dengan setiap langkahnya semakin mendekatkan dirinya pada kenyataan pahit.
Austin memarkir mobil dan langsung membuka pintu untuk Daisy. Gadis itu keluar dari mobil dan berjalan di belakang Austin, kedua tangannya memegang erat tas berisi baju serta barang-barang lain.
Daisy melangkah perlahan menuju pintu masuk, kemudian memberanikan diri membuka obrolan, “tapi ada satu syarat, Pak,” ucapnya tegas. “Jangan pernah menyentuh saya lagi. Jika Bapak melanggar, saya akan kabur jauh ke tempat yang asing.”
Austin tersenyum sinis, seakan tantangan itu membuatnya semakin tertarik. “Baiklah, aku setuju. Kau tidak akan merasa dirugikan jika kau tetap menurut padaku.”
Sesampainya di dalam mansion, Austin memimpin Daisy menuju kamar pembantu yang terletak di ujung koridor.
“Bersihkan dirimu sebelum kau memegang Lily,” perintahnya tanpa basa-basi. “Aku tidak mau ada kotoran yang menempel pada anakku.”
Daisy hanya mengangguk, lantas memasuki kamar tersebut, mengunci pintu, dan mengambil napas dalam-dalam, berusaha mengusir semua perasaan negatif yang menggerogoti dirinya.
Setelah mencuci tangan dan wajah, serta memastikan semua kotoran hilang, Daisy menatap bayangannya di cermin. Ia berusaha meyakinkan diri, bahwa apa yang ia lakukan adalah untuk Lily, untuk bayi yang tak berdosa itu.
"Aku datang ke sini seperti tujuan awalku, menjadi ibu s**u untuk menolong bayi itu. Tak akan kubiarkan pria arogan itu menyentuhku lagi. Cukup kemarin aku lemah, hari ini dan seterusnya ... aku harus bisa melawan!" gumamnya, meyakinkan diri.
Sementara itu, Austin menunggu di luar, menatap jam di pergelangan tangannya.
“Ayo, jangan terlalu lama!” teriaknya, suaranya menggema di koridor.
Daisy membuka pintu, menampakkan diri dengan raut wajah yang berusaha tenang.
“Saya sudah siap,” ucapnya pelan, membuat Austin langsung menoleh dan menatap Daisy dari atas hingga bawah penuh intimidasi.
Setelah memastikan Daisy bersih, Austin melanjutkan, “sekarang, kau bisa mulai menyusui Lily.”
Mereka berjalan menuju kamar bayi di mana Lily tertidur. Daisy menghampiri ranjang kecil tersebut, dalam hatinya, ia berdoa agar bisa menjalani pekerjaannya dengan baik, meski hatinya terbelah oleh perasaan benci.
Daisy paham yang bersalah adalah Austin, ayah bayi itu. Sementara Lily tak tahu apa-apa, ia harus tetap menyayangi bayi mungil tersebut.
“Lakukan dengan baik, Daisy,” ujar Austin.
Austin duduk di sudut ruangan, matanya terfokus pada Daisy yang dengan lembut menyusui Lily.
Ada gairah yang perlahan menyelinap dalam benaknya saat melihat gundukan sintal itu terpampang jelas di depan matanya, sementara mulut mungil sang anak, melumat habis pucuk merah muda yang masih ia ingat jelas.
Ia memperhatikan setiap gerakan Daisy, dari tatapan penuh kasihnya saat memandangi putrinya hingga napasnya yang tenang.
"Kau tetap cantik, Daisy. Dari dulu ... hingga detik ini," batin pria itu.
Tanpa ia ketahui, dalam benak Daisy, merancang rencana untuk membalikkan keadaan. Meskipun posisinya sebagai seorang ibu s**u terkesan lemah.
Ia tahu bahwa kehormatannya telah direnggut, dan sudah seharusnya ada pertanggungjawaban dari Austin. Dalam diam, ia berusaha merumuskan langkah-langkah tak terduga yang akan membuat Austin merasakan konsekuensi dari perbuatannya.
"Tunggu karma dari air mataku menuntut pembalasannya, Pak Austin!" batin gadis cantik itu, penuh dendam.