Pagi ini, Daisy masih terbaring tak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit, wajahnya terlihat masih pucat. Sinar matahari yang mengintip dari celah gorden menambah kehangatan dalam ruangan, tapi hati Austin jauh dari kata hangat. Austin duduk di kursi samping ranjang, mengenakan kemeja yang sudah sedikit kusut setelah semalaman tak berganti pakaian. Tatapannya lurus ke arah Daisy, menimbang-nimbang ribuan kata yang ingin ia ucapkan saat wanita itu terbangun. “Aku berharap kau bangun hari ini. Aku mau—” Namun, kata-katanya terpotong oleh getaran ponselnya yang diletakkan di atas meja kecil di sebelahnya. Austin mendesah pelan, mengusap wajahnya dengan satu tangan sebelum mengambil telepon tersebut. Nama orang kepercayaannya, Harris, terpampang di layar. “Ada apa?” “Pak, ini dar

