"Gimana masalah di kampus Abang?" Menoleh, Deanova membagi senyum pada adiknya. Dealova yang terbiasa dengan kakaknya yang usil dan juga jutek, semakin cemas melihat Deanova yang malah bersikap manis dan tenang seperti itu. "Lagi berjalan masa perundingannya, sementara ditunda karena masih repot sama Bazar," jawab pria itu. Dea bangkit dari duduknya, berpindah ke karpet bersebelahan dengan Abangnya itu. "Abang enggak ada niat buat nuntut Adel? Dia udah keterlaluan, Bang," tanya Dea kesal. Abangnya justru tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Atas tuduhan apa? Pura-pura bunuh diri?" Dean mengusap kasar wajahnya. "Aku bahkan udah muak banget buat ketemu sama dia, bawaannya mau muntah atau mau hajar langsung sampai dia babak belur. Sayang aja dia perempuan, De." Dea ikut mend

