"An.. Ana.." Menggeliat dengan mata yang mengerjap pelan, Ana perlahan menegakkan tubuhnya. Dia duduk dengan tegap, mengucek matanya yang terasa berat dan juga berair. Lalu pandangannya jatuh pada Bagas yang menoleh padanya, tersenyum tipis sekali. "Oh, kamu udah bangun," lirih Ana. Lekas dia mengambil kan air putih di dalam gelas lalu menyerahkannya pada Bagas. "Minum dulu," katanya. Pria itu menurut, bersusah payah bangun dari tidurnya dan bersandar pada sandaran kursi. Bagas berulang kali meringis, merasakan perih dari setiap lukanya. "Luka gue cukup parah ya?" tanya pria itu usai minum. Ana otomatis melirik ke arah luka di kening sahabatnya, juga pada luka di lengan dan juga di kaki. "Seenggaknya enggak ada kabel yang rusak," balas Ana ngaco. Bagas mendengus, memilih tidak mel

