Suasana ruang tamu itu tampak mencekam. Dua lelaki berbeda generasi itu terlihat saling bertatapan tajam. Satu lelaki begitu kesal, sedangkan satu lainnya terlihat gelisah. Tampak di sisi dua lelaki itu ada wanita yang juga tak kalah gelisah karena pemikirannya. Salah satu dari lelaki itu yakni kepala keluarga. Waktu terus berjalan, dan mereka masih memikirkan dampak dari keputusan yang mereka ambil. Si kepala keluarga tak memperhitungkan semua itu, yang ada dipikirannya yang penting bisnisnya berjalan dengan lancar. Langkah kaki terdengar membuat ketiganya mengalihkan pandangan dengan heran. Lalu memilih mengabaikan dan masuk ke dalam kamarnya. Namun, sebelum itu suara lain mencegahnya. "Duduk di sini Kalila!" titah kepala keluarga dengan nada tegasnya. Mau tak mau Kalila memilih du

