Syakilla menatap dedaunan kering dengan hati yang sedih. Dia terluka, tetapi tak tahu bagaimana keadaan memaksanya untuk tetap bertahan, supaya dia baik-baik saja. Hanya dia sendiri yang bisa membuat dirinya agar tetap kuat menjalaninya dengan ikhlas. "Aku tahu, aku memang tidak sempurna yang kamu kira selama ini. Memang banyak kurangnya aku. Tetapi, pantaskah kamu mengatakan hal itu kepada wanita lain disaat aku sedang butuh kamu? Aku tahu kamu sangat menginginkan anak. Tetapi, tidakkah kamu ingat bagaimana perjuanganku dan perjuanganmu. Bukankah anak adalah anugerah, titipan dari-Nya. Kita hanya belum diberi, bukan berarti kita tidak bisa mendapatkannya. Kita hanya butuh waktu lagi, dan sabar. Seharusnya kamu selalu memberikan kalimat yang menenangkan seperti itu. Namun, justru sebalik

