7-Kembar Tetapi Berbeda

1069 Kata
Pulang dari kampus, Fauzan mengajak Kalila untuk jalan-jalan lebih dulu. Semula Kalila menolak. Akan tetapi, dia mengiyakan asal sesekali saja baginya mengikuti keinginan Fauzan itu. Tujuannya ke Mall. Dia menatap sekeliling yang memakai baju begitu pendek. Dia yang memakai baju panjang awalnya memang gerah, tetapu karena perannya ini lama-lama dia terbiasa. Fauzan mengajak Kalila ke tempat penjual baju. Dia memilihkan gamis yang desainnya begitu indah untuk Kalila. Ada aksen bunga-bunga di bagian perut dan dibuat kerutan. Fauzan menyerahkan gamis itu kepada Kalila. "Cantik." "Untuk apa?" tanya Kalila bingung." "Untuk kamu dong. Kamu harus memakainya saat makan malam bersama keluargaku," ujar Fauzan tanpa melihat ekspresi Kalila yang terkejut sekaligus takut. "Ka—pan?" Kalila begitu gugup saat Fauzan membalikkan badan menatapnya dengan alis terangkat sebelah. "Kenapa?" Kalila bingung akan tingkah Fauzan. Dia menundukkan kepala menghindari tatapan lelaki itu. Untungnya suasana begitu ramai. "Kamu lupa ya? Setiap akhir bulan April, keluargaku selalu mengadakan makan bersama." Kalila terdiam. Dia menggaruk lehernya yang tak terasa gatal. Hanya untuk pengalihan saja. Dia begitu gugup. Ternyata tak mudah berperan sebagai Syakilla. "Ah, aku lupa." Fauzan mengernyitkan dahi kemudian menggelengkan kepala pelan. "Aku lihat-lihat tingkahmu jadi semakin aneh. Kamu ada masalah atau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" "Enggak," jawab Kalila dengan cepat. "Kalau kamu ada masalah bilang sama aku. Sebentar lagi kita akan menikah. Aku tak mau kamu menyembunyikan apapun dariku. Hitung-hitung belajar menyesuaikan diri supaya ketika menikah kita sudah terbiasa. Kamu tahu kehidupan pernikahan dengan yang biasa kita jalani ini berbeda." Kalila mengangguk dengan cepat. "Aku tahu Fauzan. Aku hanya pusing memikirkan tugas yang begitu banyak." Hanya itu yang bisa dikatakan Kalila supaya Fauzan tak berpikiran yang aneh-aneh lagi kepadanya. Apalagi sampai mencurigainya. Lelaki itu begitu cerdik dan dia tak boleh gegabah atau hanya penyesalan yang didapatkannya. Fauzan menghela nafas kasar. "Jangan terlalu dipikirkan, santai saja yang penting selesai. Nanti aku bantu kerjakan tugasnya." Kalila mengulas senyuman tipis. "Eh, Kak Ardian." Kalila mengalihkan pandangan saat lelaki berperawakan tinggi dan tatapan matanya yang tajam itu melangkahkan kaki mendekatinya. Dia tak mau dengan situasi seperti ini. "Kak Ardian lagi cara apa?" tanya Fauzan beramah tamah. Ardian berdehem pelan. "Tadinya mau beli sepatu. Tetapi, lihat kalian di sini ya saya nyamperin kalian saja." Fauzan mengangguk. "Sendirian saja sih, Kak. Kapan nih calonnya dikenalin ke saya? Siapa tahu nanti nikahnya barengan. Saya justru senang mendengarnya." Ardian tersenyum getir mendengar perkataan Fauzan yang begitu bahagia. Andai saja lelaki itu tahu kebenarannya, entah apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu. Dia melirik Kalila yang diam menunduk sambil memegang baju gamis. Adiknya itu pasti senang dibelikan baju oleh tunangan almarhum kembarannya sendiri. Hah, sampai kapan drama ini selesai. Papanya juga belum mau menghentikannya karena perusahaan yang belum stabil. Walau memang awalnya keinginan Kalila yang ingin menjalani kehidupan seperti Syakilla. Sudahlah, dia tak mau ikut campur lagi. Akan tetapi dia sudah menentukan jangka waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya kepada Fauzan. Niatnya jalan-jalan untuk mengusir penat walau sendirian. Sekalian membeli sepatu untuk kerja. Jika biasanya bersama Syakilla, tetapi kini dia hanya menikmati waktunya sendiri. "Bagaimana kalau kita makan bersama setelah saya ke kasir." Ardian mengangguk. Fauzan berbicara sebentar dengan Kalila lalu berjalan sendirian menuju kasir. Meninggalkan Kalila dengan Ardian berdua. Ardian menatap dingin ke arah Kalila. "Kamu senang dengan semuanya?" Kalila menatap Ardian. "Maksud Kakak?" "Tidak perlu berpura-pura. Kamu ini begitu munafik Kalila. Merebut posisi saudara kembarmu sendiri karena rasa iri," ujar Ardian telak membuat Kalila mendengkus kesal. "Kak Ardian tidak tahu apa-apa." "Kakak tahu, kamu pasti yang mendorong Syakilla hingga Syakilla tiada." "Jangan menuduh jika tidak tahu," kata Kalila dengan perasaan perih. Dia melihat betapa sayangnya Ardian dengan Syakilla tetapi tidak dengan dirinya yang selalu dianggap orang asing. Memang sepertinya tak ada yang menyayangi dirinya. "Kakak tidak menuduh siapapun. Kebenarannya begitu." Hendak menjawab perkataan Ardian. Namun, Kalila urungkan karen Fauzan sudah melangkahkan kakinya menuju dirinya. Sampai dihadapannya, Fauzan menatapnya dengan senyuman. "Cari yang dekat-dekat sini saja." Ardian mengangguk dan berjalan lebih dulu. Fauzan lalu mengikuti Ardian dan berbincang soal bisnis. Sedangkan, Kalila berjalan di belakang mereka dengan wajah gusar. Sampai di parkiran, Fauzan melajukan mobilnya menuju rumah makan terdekat. Pilihannya mampu membuat Kalila tercengang. Dia takut jika harus terbongkar saat ini juga. Makanan khas olahan daging kambing, hal yang paling tidak dia sukai. Beda dengan Syakilla yang memang menyukai olahan khas daging kambing. Ardian menatapnya dengan menyeringai lalu masuk ke dalam rumah makan. Disampingnya Fauzan berjalan dengan langkah santai. Lelaki itu pasti tak sadar bahwa dia sudah mengeluarkan keringat yang begitu banyak hanya karena hendak masuk ke dalam rumah makan ini. Ardian mengambil duduk di pojokan, Fauzan mengikutinya dan menggeser kursi untuknya. Bukannya tersipu dia justru makin gugup. "Berasa orang ketiga," celetuk Ardian berusaha mencairkan suasana. Dia biasanya menjahili adiknya, tetapi karena dihadapannya bukan adik kesayangannya maka terlalu kaku baginya. Namun, daripada Fauzan curiga lebih baik dia melontarkan candaan walaupun agaknya terpaksa. "Hahahaaa, kayak sama siapa saja, Kak," ujar Fauzan. "Ya, kalian ini romantis sekali. Berasa jadi orang ketiganya saya." Fauzan terkekeh lalu memesan rawon, sate kambing, dan es jeruk. Dia tidak menanyakannya kepada Kalila. Sudah hafal betul kesukaan gadinya ketika makan di tempat ini. "Baunya sedap," ujar Ardian sambil mengusap perutnya. Dia merasa lapar. Fauzan mengangguk setuju. Beda dengan Kalila yang menahan mual. Dia tak kuat dengan bau kambing. Dia bahkan tak menyimak perkataan Ardian dan Fauzan sama sekali. Hingga makanan pesanan mereka datang. Dengan lembut Fauzan memberikan mangkok berisi rawon dan nasi kepada Kalila. Dia juga membuka bungkusan kerupuk. "Jangan pedas-pedas!" Fauzan mengingatkan Kalila. Kalila menatap Ardian yang justru tampak tak acuh. Dia rasanya ingin menangis. Setelah ini dia akan pergi ke tempat teman-teman kerjanya jika perlu tidak usah pulang sekalian. Hatinya begitu sakit. Disaat keluarganya ada dan mengetahui apa yang tidak dia sukai justru membiarkannya memakan makanan itu. "Kok belum dimakan?" tanya Fauzan heran. "Tadi udah makan di kantin," jawab Kalila dengan suara pelan. Dia berusaha menguasai dirinya sendiri. "Makan lagi saja. Ini 'kan salah satu makanan favorit kamu." Kalila mengambil sambal dengan tangan gemetar. Untung saja Fauzan tak melihatnya. Lelaki itu sudah menikmati makanannya dengan lahap. Saking laparnya. Setelah memberikan sambal, dia mulai menyendok rawon dengan ragu-ragu. Satu sendok rasanya dia sudah tidak kuat. Namun, lagi-lagi dia berusaha untuk menahannya sekuat tenaga. Baru lima sendok, Kalila pamit ke belakang. Dia menatap cermin dihadapannya yang menampilkan wajah kusutnya. "Gimana?" Kalila tersentak mendengar suara itu yang tak lain suara kakaknya. "Kamu tidak bisa mengelak Kalila. Lebih baik akhiri ini." "Tidak!" Kalila lalu pergi meninggalkan sang kakak yang menatapnya dengan tatapan tajam
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN