STORY 41 - Kekuatan Ratu
***
Tahun 2025 – Masa kini
REKOMENDASI LAGU – TIME FLIES – MONSTERS
Asta dan Ravin melihat beberapa orang datang, masuk ke dalam ruang guru yang cukup luas. Tanpa mereka sadari, kedua pemuda kecil itu tersenyum lega. Terutama Asta, dia sudah cukup lega saat melihat keberadaan sang ayah lebih dulu.
Namun ada rasa ragu, saat sang Faresta melihat sosok wanita di belakang ayahnya. ‘Ibu,’ batin pemuda kecil itu. Berbeda dengan Ravin yang justru senang sekali melihat kedatangan ibunya, “Ayah, Ibu!” teriak sang Abel, Ia tersenyum lebar.
Melupakan rasa sakit di pipinya sesaat. Keberadaan ayah dan ibunya sudah cukup membuat rasa takut Ravin hilang,
Sementara itu, untuk kedua kalinya. Ratu kembali melihat pemandangan Ravin dan Asta yang kini nampak berantakan. Namun tak seburuk dulu, saat dia tidak meminta Raven untuk menjaga keduanya.
Tapi tetap saja, Asta dan Ravin tetap terluka. Namun kali ini dengan keadaan yang berbeda. Seluruh sifat dingin Ratu menghilang, digantikan amarah besar yang perlahan meluap, kali ini dia benar-benar trauma melihat kedua putranya terluka.
Saat wanita itu hendak menghampiri mereka. “Asta, Ravin, astaga!” Rheandra sudah lebih dulu berlari, mendekat dan langsung memeluk kedua putranya.
“Kenapa kalian bisa terluka seperti ini?! Astaga, lihat kedua tangan dan pipi kalian,” Mengecek semua luka anak-anak itu dengan seksama, tanpa memperdulikan statusnya.
Manik amber itu menatap datar, tubuh Ratu yang hendak berjalan kini terhenti. Bahkan di saat seperti ini pun, Rhea seolah tak memberinya waktu untuk bergerak.
Melihat senyuman tipis di wajah Asta dan Ravin, “Kami hanya sedikit terluka, Kak Rhea,” tukas Ravin cepat, Asta mengangguk kecil. “Aku sudah berusaha melindungi Ravin dari mereka,” Menunjuk ke arah tiga kakak kelas bertubuh besar tak jauh dari keduanya.
“Apa?! Kami tidak pernah mendorong atau melukai kau dan adikmu! Kalian berdua yang lebih dulu mengejek kami!” tukas salah seorang kakak kelas, sembari memeluk ibunya.
Melukai, mendorong dan mengejek warna mata, rambut Ravin serta Asta yang terlihat berbeda dibanding semua anak-anak di sekolah ini. Ratu sudah tahu alasannya dengan jelas.
Ia mendesah tipis, kali ini benar-benar melangkah. Berjalan mendekati Rheandra yang masih bersikap khawatir di depan kedua putranya.
“Rheandra, minggir.” ucap sang Edrea singkat, dingin dan jelas.
Tubuh Rhea menegang, wanita itu menengadah, mencoba menatap Ratu yang masih berdiri di belakangnya. “Saya perlu mengecek kondisi mereka dulu, Nyonya.”
Menatap datar, “Peranmu di sini hanya sebagai penjaga mereka, bukan wali. Jadi pahami itu,” Dengan jelas memukul telak perkataan sang Samantha.
Bungkam dan menunduk, manik wanita itu mencoba menatap Arsenio. Namun sang Rajendra justru terfokus pada sikap Ratu, seluruh pandangan kini menatapnya.
“Baiklah, Nyonya.” Memilih untuk kalah, perlahan Ia kembali berdiri, tepat diam di dekat kedua anak kecil itu. Membiarkan Ratu tepat berdiri di depan Asta dan Ravin.
Mereka yang hanya bisa diam memperhatikan bagaimana sosok wanita itu perlahan mensejajarkan posisi dengan keduanya. Wajah sang ibu nampak datar dan dingin,
Asta reflek merengut, mengepal kedua tangannya. Sementara Ravin menunduk, seolah bersiap menerima amarah Ratu.
“I-ibu,”
“Asta, bukannya tadi pagi Ibu sudah pernah bilang satu hal padamu?” Memotong kalimat Ravin, manik Asta melebar. Kalimat yang mana? Apa Ratu akan memarahi mereka seperti malam itu?
Arsen perlahan mengamati tingkah istrinya, sedikit saja Ratu melakukan kesalahan hari ini. Dia takut Asta akan semakin marah pada ibunya.
“A-aku,” Sedikit terbata, manik Asta melirik ke arah ketiga kakak kelas yang kini nampak menyeringai senang. Bahkan ibu-ibu mereka pun seolah menunggu Ratu mengamuk, siapa di sini yang tidak mengenal ibu Asta dan Ravin?
Sosok sempurna yang penuh kharisma, sikap yang dingin dan tegas melebihi apapun. Sosok yang menjunjung tinggi harga diri,
Satu wanita dengan pakaian berkelas kali ini sengaja memotong pembicaraan ibu dan anak itu, menyindir dan tersenyum sinis.
“Putra anda nakal sekali sampai membuat putra saya terluka, lihat? Berapa luka yang dia buat? Wajah, bahkan tangan putra saya membiru, Nyonya Edrea!”
Ibu guru Vera mencoba bersikap adil, “Kita harus melihat dulu dari sisi Asta dan Ravin, Ibu. Jangan mengambil keputusan sepihak.” jelasnya pelan.
Satu wanita berambut ikal, ikut mendengus kesal. “Apanya yang keputusan sepihak kalau ketiga putra kami terluka parah seperti ini! Nyonya Edrea, anda harus tahu sikap brutal Asta sejak dini, bisa bahaya kalau dia tumbuh jadi seorang berandal!”
Manik Ratu tetap menatap ekspresi Asta dan Ravin yang nampak ketakutan, menahan tangisan mereka. Mendengar ocehan para ibu-ibu sampai mereka puas.
“Hal ini benar-benar harus dipertimbangkan Nyonya Edrea. Mengingat anda punya perusahaan yang sangat besar seperti Ragnala. Jika orang-orang tahu tentang sikap kedua putra anda, bukannya itu akan menghancurkan citra Ragnala sendiri?”
Nostalgia, hh lagi-lagi Ratu mendengar kalimat itu. Harga diri perusahaan yang menjadi taruhannya dulu. Seberapa besar Ratu menjunjung perusahaan yang bahkan hingga akhir pun tetap tidak bisa membahagiakannya.
“Pikirkan baik-baik, Nyonya Ratu. Tindakan yang tepat untuk putra anda!”
Ravin sudah lebih dulu menggeleng cepat, menahan tangis Ia berdiri, “Bukan, Bu! Ini bukan salah, Kakak!” Menunjuk ketiga kakak kelas tadi, “Mereka yang mulai lebih dulu!”
“Mereka mengejek aku dan kak Asta aneh! Terus menghancurkan kastilku,”
“Jangan bohong!! Kami tidak mengatakan itu! Dia bohong, Bu! Bohong, huaa!!”
“Astaga, lihat kelakuan putra anda, Nyonya Ratu! Bahkan Ravin pun membela kakak-nya yang kasar!”
Arsen menatap tajam ketiga wanita di dekatnya. “Tolong jaga bahasa anda di sini,” Menekan dan dingin, amarah yang cukup membuat wanita-wanita itu meneguk ludah sedikit takut,
Manik amber Ratu masih menatap Asta dan Ravin, kali ini setelah tak ada suara lagi yang mengganggunya.
“Asta, Ibu ingin tanya sekali lagi,” ucap sang Edrea singkat.
Rheandra seolah menunggu ucapan Ratu, dia sudah bersiap jika sang Edrea berusaha melindungi nama perusahaan Ragnala lagi dan mengorbankan kedua putranya untuk itu.
Arsen pun begitu, “Ratu,” Berusaha menengahi istrinya.
Salah satu tangan Ratu tiba-tiba terangkat menunjuk ke arah tiga kakak kelas Asta. Sang Faresta mengerjap polos, begitu juga Ravin.
Semua kaget, melihat Ratu tersenyum tipis. “Apa kau sudah puas memberi mereka hukuman?”
Melongo kompak, bahkan Arsen pun membatalkan niatnya. Manik Asta dan Ravin melebar bingung, apa ini cara baru ibu mereka marah?
***
Tapi jujur saja, Asta dengan polosnya menggeleng. “Be-belum,” ucap sang Faresta singkat, masih setengah menunduk.
Masih tersenyum, “Lalu, apa kalian ingin Ibu juga ikut memberi mereka hukuman?” ujar Ratu dengan santai. Asta semakin bingung, “Itu-”
Ibu mereka sebenarnya sedang marah atau tidak?! Membingungkan sekali. Tapi Ravin berbeda, melihat senyuman di wajah sang ibu, entah kenapa dia jadi makin bersemangat. Mengangguk cepat, “Mau!!” jawab pemuda kecil itu keras.
Ketiga wanita yang masih bingung, berusaha membela diri lagi. “Ja-jangan main-main, Nyonya Ratu! Anda tahu seberapa besar pengaruh kami bagi perusahaan Ragnala!”
“Be-benar! Kalau sampai kami menyebar kelakuan putra anda di media,”
Ratu perlahan berdiri, dengan ekspresi dingin yang menjadi andalannya selama ini. Menatap dengan berani, “Lalu apa? Kalian ingin mempermalukan saya?” ucap sang Edrea santai.
“Tentu saja! Perusahaan besar anda pasti akan penuh dengan gossip negative. Pikirkan sekali lagi!”
Mendengus sinis, “Putra anda hanya perlu meminta maaf pada putra kami. Itu saja,”
Asta ikut berdiri, dengan bibir merengut, “Tidak mau!! Aku tidak salah, mereka yang mulai duluan!!”
Ratu menghela napas panjang, “Sepertinya kalian semua yakin sekali kalau putra saya yang brutal di sini,”
“Tentu saja! Putra kami tidak nakal, Nyonya!”
Terdiam sesaat, Ratu sekilas menatap Arsen. Saat lelaki itu hendak masuk ke dalam pembicaraan. Sang Edrea justru tersenyum tipis, seolah memberi isyarat padanya,
“Raven, kau masih ada di luar?” Tiba-tiba memanggil nama bodyguardnya.
Tak perlu menunggu lama, pintu ruang terbuka lagi. Raven datang membawa sebuah handphone dan berjalan mendekati Ratu. “Saya sudah menyiapkannya, Nyonya.” ujar lelaki itu,
“Terimakasih,”
Suasana ruang nampak hening saat Ratu mengecek isi handphone tersebut, mencari sesuatu sampai akhirnya garis bibir sang Edrea tertarik tipis.
“Bagaimana jika anda menonton video ini sampai selesai?” Sebuah video dengan durasi beberapa menit terputar, Ratu sengaja memperlihatkan di depan semua orang bahkan guru-guru lain yang ikut berada di dalam ruang.
***
Sebuah video tentang bagaimana pertengkaran anak-anak itu dimulai, hanya beberapa menit saja, karena setelah itu Raven ikut masuk ke dalam perkelahian mereka dan mencoba melerai.
Sudah jelas terlihat, siapa yang memulai lebih dulu. Kakak kelas itu mengejek Ravin terlebih dahulu, menghancurkan kastil miliknya, Asta langsung saja berlari dan melindungi Ravin. Berusaha keras untuk tidak melawan balik,
Sebelum pertengkaran terjadi, Asta-lah yang pertama kali mendapat pukulan. Saat itu video terhenti, karena Raven memilih untuk melerai mereka.
Semua orang melihat dengan jelas, bahkan ketiga ibu-ibu tadi nampak gugup. Tak ada yang mengelak,
Video selesai berputar, Ratu masih tersenyum tipis. “Semua sudah menonton ‘kan?” Menatap ibu guru Vera, “Apa video tadi sudah cukup menjadi bukti, Ibu guru?”
Vera tersentak, dia langsung mengangguk cepat. “Tentu saja! Kalau tidak ada video ini, kita tak akan tahu siapa yang salah di sini,”
Ada perasaan lega menyelimuti saat Asta melihat ketiga kakak kelasnya bungkam ketakutan. Dia reflek duduk dengan lemas diikuti Ravin,
“Kakak, kenapa?”
Menggeleng tipis, manik Asta masih melihat sosok sang ibu yang masih berdiri di dekatnya, tidak ada amarah melainkan membela mereka?
Apa Asta sedang bermimpi?
***
Ratu masih tidak puas, setelah melihat sendiri video tadi. Dia tahu kesalahannya sebesar apa, hingga membuat sang putra meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah Ia lakukan.
“Ta-tapi tetap saja, putra anda memukul putra saya sampai separah ini,”
“Benar! Seharusnya dia meminta maaf juga!”
Masih bersikeras dan menganggap diri mereka benar, Ratu mulai muak bersikap tenang. Melihat seperti apa luka yang diterima kedua putranya.
Ia perlahan berjalan mendekati ketiga wanita tadi, dengan manik menatap tajam. “Kalian tahu sebesar apa perusahaan Ragnala ‘kan?” ucap Ratu tiba-tiba.
Tubuh ketiga wanita itu menegang, mereka bungkam kompak. Menatap Ratu, tatapan tajam sang Edrea begitu menusuk,
“Ka-kami tahu, karena itu-”
“Kalian berpikir dengan mengancam saya seperti tadi perusahaan Ragnala akan hancur?”
Kembali bungkam, “I-itu,”
Perlahan, kedua tangan Ratu terangkat, mendekat hingga berhenti tepat di telinga ketiga wanita itu, Ia berbisik pelan, tipis dan tegas.
“Jika putra kalian sedikit saja melukai kedua putra saya lagi, tidak hanya video itu yang akan tersebar.” Dengan seringai tipis, mencengkram pundak wanita di dekatnya. “Tapi jangan harap keluarga kalian bisa diterima masyarakat setelah ini.”
Maksud perkataan Ratu yang penuh makna. Tentu saja langsung mereka mengerti. Ketiga wanita itu awalnya berniat untuk menyerah dengan terpaksa, bahkan berakting meminta maaf lalu pergi. Tapi sebelum mereka sempat bertindak.
“Untuk apa saya punya kekayaan lebih jika tidak bisa digunakan dengan baik, hm?” Seringai yang hanya bisa dilihat oleh mereka,
“Pahami posisi saya di sini jika tidak ingin perusahaan suami kalian hancur dalam sehari.”
Memahami posisi sang Edrea dengan baik, satu kalimat terakhir Ratu berhasil merobohkan kesombongan tiga wanita tadi. Mereka yang awalnya sengaja ingin mencari kelemahan Ratu dan menekan wanita itu, membuat Ratu nampak lemah serta mempermalukan di depan semua orang.
Seolah menyadari posisi masing-masing. Siapa sosok yang lebih tinggi dari mereka. Posisi yang bisa menghancurkan dengan satu jentikan jemari,
Kekuasaan Edrea Ratu Raveena. Mereka melupakan itu semua. Dalam hitungan detik ketiga wanita tadi memundurkan tubuh, dengan cepat menekan kepala putra mereka masing-masing agar menunduk dalam.
“Kami minta maaf!!” Kalimat itu bergema dengan kompak. Tepat setelah Ratu memberi peringatan terakhir.