STORY 40 - Cemburu?
***
Tahun 2025 – Masa kini
REKOMENDASI LAGU – REWRITE THE STARS – JAMES ARTHUR
Ratu yang selalu menuruti permintaan kedua orangtuanya demi mendapat kekuasaan tinggi, tumbuh menjadi wanita mandiri, dan tidak pernah bisa mengandalkan siapapun.
Bahkan hingga pernikahan pun berakhir di tangan keluarganya. Seolah menjadi boneka selama bertahun-tahun, saat Tuhan memberi wanita itu kesempatan untuk mengubah semua, semua pemikirannya berubah.
Ratu tidak ingin menjadi seorang wanita workaholic yang mengejar kekuasaan tanpa melihat sekitarnya lagi. Sekarang ada hal lebih penting yang harus Ia perbaiki.
Pukul dua sore, seperti perkiraan Ratu. Dering handphone wanita itu terdengar berulang kali. Sang Edrea yang baru saja selesai mandi, bergegas mengangkat panggilan.
Nama ibu guru Vera tercetak di layar, jika wanita itu menghubunginya. Apa tugas yang dia berikan pada Raven gagal?
Mendesah sekilas, memperbaiki intonasi suaranya agar terdengar tenang. “Selamat siang, Ibu Guru? Ada apa tiba-tiba menghubungi?” sapa wanita itu singkat.
“Maaf mengganggu waktu anda Nyonya Edrea. Saya ada sedikit masalah dengan Ravin dan Asta, apa anda bisa datang ke sekolah sebentar?”
Tidak keberatan sama sekali, “Apa kedua putra saya terlibat pertengkaran?” Dengan santai Ratu menebak ucapan Vera. Wanita di seberang sana tersentak kaget, “A-ah, anda sudah tahu, Nyonya? Ya, Asta terlihat perkelahian dengan kakak kelasnya tadi, jadi saya ingin memanggil semua orang tua datang ke sekolah hari ini.”
“Baiklah, saya akan ke sana sebentar lagi. Apa Ibu guru sudah menghubungi suami saya juga?” Tak lupa menanyakan Arsenio.
“Sudah, Nyonya. Tapi tuan Arsen sepertinya tidak setuju jika saya memanggil anda ke sini, jika memang kondisi Nyonya sedang tak sehat, jangan dipaksakan.” ujar Vera pelan.
“Saya akan datang, Ibu guru. Jangan khawatir,”
Tak ada keraguan dalam diri Ratu. Wanita itu justru merasa khawatir, sebanyak apa luka yang diterima Asta dan Ravin? Semoga dia bisa menahan amarahnya nanti,
“Baik, saya tunggu kedatangan Nyonya nanti sore.”
***
Menggunakan pakaian formal, entah sudah berapa kali Ratu mengabaikan panggilan dari Davaron. Wanita itu tersenyum menatap pantulan dirinya di depan kaca.
Rambut panjang kesayangannya, tidak ada warna putih di sana, raut wajah masih terlihat sehat dan kencang. Tubuhnya pun masih tegap tidak menunduk karena terlalu banyak duduk setiap harinya di usia Ratu yang ke 45 tahun.
Menarik napas panjang, menatap jam dinding. Oke, dia harus segera berangkat. Keluar dari kamar, yang Ratu lihat selanjutnya adalah sosok Rheandra berdiri tak jauh darinya.
Wanita itu nampak khawatir menatap Ratu, berjalan mendekat dengan ragu. “Mm, Nyonya. Tadi saya tak sengaja dengar kalau Asta dan Ravin bertengkar di sekolah,”
Tak sengaja mendengar? Mendengus dalam hati, padahal sudah jelas-jelas Ratu menutup pintu kamarnya tadi dan berbicara santai dengan ibu guru Vera, apa Rhea sengaja menguping pembicaraannya?
“Ya, aku akan ke sana sekarang, jadi tolong kau jaga rumah.”
“Tapi, Nyonya kondisi anda ‘kan sedang tidak sehat. Lebih baik anda beristirahat saja, biar saja dan tuan Arsen yang datang ke sekolah,” ucap wanita itu tanpa berpikir, wajah yang nampak polos berbicara.
“Kondisiku sudah lebih baik, jadi kau tidak usah khawatir. Tolong jaga rumah saja hari ini,” jelasnya lagi, berniat menyudahi pembicaraan mereka.
Saat berjalan melewati Rhea. Sang Samantha seolah masih enggan, “Ka-kalau begitu apa saya boleh ikut, Nyonya?”
Alis Ratu tertekuk, menatap balik Rhea. “Untuk apa? Kau bukan ayah atau ibu kedua putraku ‘kan?” Memberikan jawaban telak, Rheandra nyaris bungkam. Namun wanita itu masih bersikeras.
“Asta dan Ravin pasti akan merengek lalu mencari saya. Kasian mereka kalau menangis di sana, Nyonya. Ijinkan saya ikut,”
Dengan mudah menganggap dirinya lebih penting dari apapun? Rasanya Ratu ingin tertawa keras. Wanita ini berbicara dengan polos, seolah tak merasa bersalah sama sekali.
Setahun mungkin waktu yang lama sampai bisa membuat Rheandra berpikir kalau dia sudah berhasil menaklukan hati kedua putra Ratu.
Yah, dalam beberapa tahun lagi. Wanita itu akan memaksa Asta dan Ravin memanggil namanya bukan dengan sebutan ‘kakak’ lagi melainkan ‘ibu Rhea’.
“Baiklah, kau boleh ikut.”
Lagipula tidak ada salahnya Ratu mengajak wanita ini. Dia ingin memastikan sekali lagi, seperti apa sifat asli Rhea di depan suaminya.
“Terimakasih, Nyonya!”
***
Taman Kanak-Kanak Matahari
Bagaimana Ratu bisa lupa? Wanita itu reflek menepuk keningnya reflek, saat melihat sosok pria bertubuh tegap kini berdiri tak jauh dari pintu ruang guru. Sosok itu berdiri sembari memegang beberapa bagian wajah yang nampak terluka.
Raven Holigan, meminta pria yang sangat lemah dengan anak-anak untuk menjaga Asta dan Ravin merupakan ide buruk bagi Ratu.
“Raven,” Memanggil sang Holigan, sosok itu langsung menoleh. Memasang wajah datar kembali dan berdiri tegap. “Anda sudah datang, Nyonya,” Raven menunduk sekilas.
Ratu mendesah, kedua amber itu menatap wajah, rambut dan pakaian Raven yang nampak berantakan. “Kau sedang diterjang badai? Pakaian dan rambutmu berantakan sekali,” sindir sang Edrea.
Mendehem kecil, “Maaf, Nyonya. Sepertinya kalkulasi saya salah. Kakak kelas Ravin dan Asta juga anak-anak jadi saat mereka menjahili Asta, saya bingung harus membela siapa,” jelas sosok itu dengan wajah datar.
Menepuk kening sekilas, apa dia bilang? Raven sangat lemah dengan anak-anak. Tidak bisa berkutik atau sekedar memberi jitakan pada anak-anak karena tak tega. Dibalik wajah datar bak teflon itu ternyata tersimpan jiwa penyuka anak-anak kecil.
Siapa yang mengira?
“Lalu kau malah ikut bertengkar dengan mereka dan hasilnya seperti itu?”
Menunduk malu, “Rambut dan pakaian saya sedikit ditarik-tarik tadi, dicakar, ditendang, lalu-” Kalimat Raven terhenti, lelaki itu menatap ke bagian sensitifnya. “Juniorr kebanggaan saya jadi sasaran juga,” ucapnya tipis.
Ratu melongo, Rheandra di samping Ratu hanya menatap shock. “Di-dimana Asta dan Ravin sekarang, Tuan Raven?” tanya wanita itu cepat,
“Ah, mereka ada di dalam bersama orangtua lainnya.” Jelas Raven singkat, Rheandra mengangguk paham, “Ayo kita masuk, Nyonya.” ajaknya.
Rheandra berjalan lebih dulu, dia ingin melihat dari balik kaca pintu. Sementara Ratu menatap Raven, Ia mendesah sekilas. Ada rasa bersalah masih tercetak dalam pikiran Ratu, perihal di masa depan nanti, apa Raven akan tetap berhenti atau tidak?
Padahal diantara semua bodyguard yang Ia miliki, hanya Raven yang bisa Ratu percayai. Tanpa Ia sadari wanita itu berdecak, menggerakkan salah satu tangan dan langsung saja menepuk puncak kepala sang Holigan pelan.
“Terimakasih sudah menjaga kedua putraku tadi,”
Raven mengerjap polos, merasakan tepukan di pundak dan kepalanya. Melirik Ratu sesaat, dan melihat sebuah senyuman tipis tercetak di wajah sang Edrea. Pertama kalinya, sukses membuat kupu-kupu di dalam perut lelaki itu berterbangan tanpa sadar.
Bibirnya baru saja hendak membalas, sebelum manik Raven melihat sosok lelaki bertubuh tegap dengan langkah cepat, tanpa aba-aba menarik pergelangan Ratu menjauh dari kepalanya. Berdiri di samping sang Edrea.
Amber keemasan Ratu melirik sosok itu kaget, “Arsen?”
Arsenio berdiri dengan wajah datar dan manik menatap tajam ke arah Raven. Meski sesaat, tapi wajah dingin itu berubah cepat kembali tersenyum menatap istrinya.
“Bukannya sudah kubilang untuk istirahat di rumah saja hari ini? Kenapa kau bersikeras datang?” Melepas genggaman pada Ratu,
“Ibu Vera, menghubungiku langsung, jadi mana mungkin aku tidak datang,” ujarnya cepat, merasa sedikit aneh dengan sifat Arsenio.
“Hh, baiklah. Kita masuk bersama saja,” Manik abu itu melirik ke arah Raven kembali. “Dia bodyguard yang menjaga kedua putra kita tadi?”
“Ya, kau sudah kenal ‘kan? Raven Holigan, bodyguard pribadiku.”
“Pribadi? Ah, begitu,” Senyuman yang tipis, Arsen bergerak menjabat tangan Raven cepat, “Terimakasih sudah menjaga kedua putra kami tadi,” Singkat namun jelas.
Kedua manik lelaki itu saling beradu, Raven balas tersenyum, “Tidak masalah, Tuan. Itu sudah menjadi tugas saya menjaga Nyonya Ratu dan kedua putranya.”
Tak jauh dari posisi mereka. Manik Rheandra menatap tajam, apa dia salah lihat tadi? Raut dingin di wajah Arsen sat Ratu berbicara dengan Raven.
‘Tidak mungkin dia menyukai wanita itu ‘kan?’
Wanita sedingin dan sedatar Ratu. Mustahil bagi Arsen menyukai wanita itu.
***
Di dalam ruangan
Tubuh mungil itu duduk di samping adiknya, menunduk, sementara beberapa kakak kelas di depannya masih terus menangis kencang dipangkuan ibu mereka.
Menunjuk ke arah Asta dan Ravin berulang kali, mendengar tangisan dan ceramah dari ibu-ibu yang kini duduk mengelilinginya.
Asta benci ini! Padahal dia tidak salah, kenapa semua orang justru menyudutkannya dan Ravin? Jelas-jelas kakak kelas itu yang tiba-tiba datang, menghancurkan kastil pasir milik Ravin, dan mendorong adiknya.
Asta yang saat itu sedang bermain perosotan tentu saja tidak terima, dia berlari dan langsung melindungi adiknya. Meski tubuhnya jauh lebih kecil dari tiga kakak kelas itu, dia berusaha melawan.
Memberanikan diri, walau didorong, dipukul atau diejek sekalipun, Asta tidak boleh takut. Kalau dia takut, siapa yang akan melindungi Ravin?
Apalagi saat seorang lelaki berbaju hitam datang dan berusaha melerai mereka. Bukannya masalah selesai, yang ada paman-paman itu justru dibully juga, apa dia baik-baik saja?
Luka yang Asta terima memang tidak banyak karena perlindungan paman tadi. Hanya sedikit luka di tangan dan kaki karena terjatuh di bebatuan, sementara Ravin terluka di bagian pipi,
Asta marah sekali saat melihat adiknya terluka, alhasil dia mengamuk dan menggunakan semua kekuatannya untuk mengalahkan kakak kelas itu!
Sekarang mereka justru menangis dan memanggil orang tua masing-masing! Tidak adil!
Jemari Ravin bergerak menarik pelan pakaian kakaknya, “Kak, kapan ibu dan ayah datang?” tanya pemuda kecil itu dengan wajah merengut.
Asta menghapus sedikit ingus di hidungnya dan tersenyum lebar, menepuk puncak kepala sang adik. “Tenang saja, mereka pasti datang!”
Ravin perlahan tersenyum, namun kembali berubah murung dalam hitungan detik. “Kira-kira ayah dan ibu marah tidak ya dengan kita?” tanya sang Abel lagi,
Kali ini Asta terdiam, jika dilihat dari reaksi ayahnya. Asta yakin kalau lelaki itu pasti akan membela mereka! Tapi jika sang ibu,
Bungkam, senyuman Asta menghilang sesaat. Bisa saja ibu mereka marah besar, dan tidak mau mendengar alasan Asta. Pemuda kecil itu mulai ragu,
“Kak,”
“Apapun yang terjadi Ibu akan selalu mendukung kalian.”
Tiba-tiba teringat perkataan sang ibu tadi pagi, entah kenapa ada sedikit harapan yang muncul. Membayangkan wanita itu akan membela mereka atau tidak?
“Kita tunggu saja,”
***
Masa lalu Pertama untuk Ratu
“Faresta Aksa Mahapranu, sekarang juga cepat minta maaf pada mereka. Kenapa kau selalu suka membuang-buang waktu Ibumu?”
“Tapi mereka yang salah, Bu! Mereka mengejek dan memukul Ravin lebih dulu, kenapa harus aku yang meminta maaf?!”
“Ratu, hentikan! Kau tidak lihat kedua putramu juga sedang terluka?!” Suara ayahnya yang berusaha membela mereka.
“Itu karena perbuatannya sendiri! Pasti kau yang mengajarinya ‘kan?! Putra kita sampai sebrutal ini!”
Pertengkaran ayah dan ibunya kini ditonton oleh semua orang. Asta bahkan tidak sempat menjelaskan semua. Ravin yang berusaha membelanya seolah dianggap angin lalu.
Tatapan tajam sang ibu nampak menusuk, “Minta maaf sekarang juga, Faresta Aksa Mahapranu!!” Teriakan yang terdengar untuk pertama kali padanya, dari bibir sang ibu sendiri.
Berharap bahwa sedikit saja, Ratu mau berdiri dan berada di sisinya. Tapi sayang, harapan hanya sekedar harapn sampai akhir.
“Aku minta maaf.”
***
Apa masa lalu akan terulang lagi? Di saat kepercayaan Asta dan Ravin mulai tumbuh, apa semua itu akan hancur lagi karena sikap Ratu?