STORY 39 - Perlahan Berubah
***
Tahun 2025 – Masa kini
REKOMENDASI LAGU – TIME FLIES – MONSTERS
Seberapa besar pengaruh Rheandra bagi kedua putranya saat itu sudah menjadi pelajaran besar bagi Ratu untuk berhati-hati pada sang Samantha.
Perlahan, dia akan merebut kembali peran ibu yang sempat diambil oleh Rhea. Meski tak bisa begitu saja terjadi, pelan-pelan Ratu akan berusaha. Merubah semua sifatnya.
Dia sudah cukup muak hidup penuh dengan penyesalan. Dimulai dari hal kecil, “Kalau begitu aku berangkat dulu mengantar Asta dan Ravin.” ucap Arsen sembari menenteng tas milik kedua putranya.
Ratu mengangguk paham, “Hati-hati di jalan,”
Lelaki itu menoleh sekilas padanya, hari yang benar-benar aneh. Melihat sikap Ratu berubah drastis masih tidak bisa Ia pungkiri, “Kau benar akan beristirahat ‘kan hari ini?”
“Tentu saja, kepalaku pusing karena pekerjaan kemarin, jadi istirahat adalah pilihan terbaik.” jelasnya cepat.
“Baiklah kalau begitu, jangan memaksakan diri.” ucap Arsen, berbalik hendak keluar. “Kau juga,” bisik Ratu sekilas.
Wanita itu menatap kedua putra mungilnya, Ravin melambai sekilas dari luar rumah, sementara Asta masih sibuk memperbaiki tali sepatu,
“Tunggu sebentar, Ayah!” tukas pemuda kecil itu, berusaha bergerak cepat.
Ratu tersenyum tipis, satu hal yang tak pernah Ia lihat. Bagaimana pertumbuhan kedua putranya, sosok mungil itu tumbuh dewasa menjadi seorang yang kuat dan pintar berkelahi.
Mendesah sekilas, Ia berjalan menghampiri Asta. Tepat di depan sang Faresta, Ratu menunduk, bergerak memperbaiki tali sepatu Asta.
Sementara sang pemuda kecil mengerjap kaget, “A-aku bisa sendiri kok, Ibu.” tukasnya heran.
“Hm, maksudmu memasang tali sepatu ini dengan benar?” ungkap Ratu jujur. Asta mengangguk yakin, “Iya, aku bisa.” Kali ini bergerak mengikat tali di sebelahnya lagi.
Tak ada suara lagi yang keluar dari bibir Asta, pemuda itu bungkam. Ragu untuk bicara, dia justru gugup dan mempercepat gerakan, namun semua berubah gagal.
Ratu melihat semuanya, Ia menghela tipis. “Asta,”
Tubuh Asta menegang, mengerjap sedikit takut. Apa ibunya akan memarahi dia lagi? Seperti malam itu? Kalau memang benar, Asta sudah siap dengan pembelaannya!
Ratu masih menunduk, terfokus pada sepatu putranya. “Kau tahu ‘kan kalau Ibu tidak suka melihatmu bertengkar,” ucap wanita itu lebih dulu.
Asta langsung tahu, raut wajahnya berubah kesal. Rheandra yang berada tak jauh dari posisi mereka mendengar jelas ucapan Ratu. Ia sudah berniat untuk menghampiri Asta dan membela pemuda kecil itu,
“Nyonya Ratu,”
Tapi sayang, saat Ratu menengadah. Asta tidak melihat ekspresi dingin yang biasa tercetak di wajah ibunya.
Bibir sang Faresta bungkam kembali, kedua manik amber keemasan yang biasa menatap tajam dan dingin. Kini berubah teduh, walau tanpa senyuman.
“Tidak ada seorang pun ibu di dunia ini yang ingin melihat putra mereka terluka.” Bergerak pelan, Tuhan memberikan Ratu kesempatan untuknya membuka diri terlebih dahulu, di depan kedua putranya terutama Asta.
Bergerak pelan, mengusap puncak kepala Asta lembut. “Maaf jika Ibu membentakmu malam itu.” Tersenyum tipis, mengelus pelan salah satu pipi Asta, “Tapi kau tahu apa yang Ibu puji dari perbuatanmu saat di taman kanak-kanak?”
Asta menggeleng polos, “Tidak tahu,”
Perlahan Ratu berdiri kembali, beriringan dengan Asta yang menengadah menatap wanita itu. Masih tak percaya, saat ibunya tersenyum nampak sangat cantik.
“Sikap kerenmu melindungi Ravin, Ibu suka itu. Jadi kalau ada yang berani mengganggu kalian, jangan takut untuk melawan,” ujar Ratu gamblang, mengelus rambut Asta sekali lagi.
“Sampai kapan pun, Ibu akan selalu mendukungmu.”
Pertama kalinya, napas Asta terasa sesak. Manik bulatnya berkaca, Ia terkejut tentu saja. Mendengar ucapan sang ibu dan senyuman wanita itu sudah cukup membuat sesuatu di dalam tubuh sang Faresta berterbangan.
Rasa senang, bangga dan hal yang tak bisa Ia ungkapkan dengan kata-kata. Tanpa sadar Asta menunduk, berjalan melewati sang ibu,
Hari ini entah apa yang terjadi tapi semua amarahnya pada sang ibu karena kejadian malam itu menghilang dalam sekejap. Menggigit bibir bawah sekuat mungkin, dan bersikap keren.
“A-aku berangkat dulu!” Menahan rona merah di pipinya, tubuh kecil itu berlari keluar, menghampiri adik dan ayahnya.
Samar-samar di luar sana, Ratu mendengar celetukan Ravin. “Lho, kok Kakak nangis?”
“Bukan!!”
***
Mereka hanya berdua, saat pintu rumah tertutup kembali. Ratu berbalik dan menemukan Rhea masih berdiri tak jauh dari posisinya. Raut wajah sang Edrea kembali berubah dingin,
Berjalan mendekati wanita itu, “Karena Asta dan Ravin sudah pergi, kau bisa pulang, Rhea.” ujar Ratu sekilas, dia mungkin tidak mengira kalau Rheandra akan membalas ucapan Ratu.
Melihat sikap dan ekspresi Rhea yang kembali tenang dengan senyumannya, seolah tak terganggu dengan keberadaan Ratu. “Saya masih harus membersihkan mainan dan pakaian Ravin, Asta, Nyonya.”
“Hm, setelah itu apa yang ingin kau lakukan?”
“Mungkin membuatkan makan siang, dan mengantar bekal di ke toko tuan Arsen.”
Alis Ratu tertekuk sesaat, “Membawa bekal ke toko suamiku? Untuk apa?”
Tersenyum tipis, “Karena tuan Arsen terbiasa tidak pulang, jadi saya berinisiatif membawakan makan siang langsung Nyonya. Setelah itu saya akan menemani Asta dan Ravin sampai malam, jadi saya tidak punya kesempatan untuk pulang.”
Seberapa bodohnya Ratu dulu? Sampai membiarkan wanita ini membawakan bekal makan siang setiap hari pada suaminya. “Aku menugaskanmu untuk menjaga kedua putraku bukan mengurus keperluan suamiku, Rheandra." tegas dan jelas,
“Jika bukan saya yang membawakan makan siang, apa Nyonya Ratu yang akan melakukannya?” Satu pertanyaan kembali dibalikkan dengan mudah.
Ratu mendengus tipis, selama satu tahun bekerja di sini. Rheandra benar-benar berpikir bahwa dia sudah punya hak untuk berada diantara keluarganya.
“Saya tahu anda sangat sibuk dengan pekerjaan, Nyonya. Jika anda tak keberatan, saya juga akan membawa makan siang ke kantor Nyonya Ratu setiap hari, bagaimana?”
Untuk saat ini, Rheanda masih bisa menjaga ekspresi dan aktingnya. Sementara Ratu malas berdebat lebih jauh, “Tidak usah, aku hanya ingin kau lebih fokus menjaga kedua putraku saja. Tak lebih, paham?”
Tersenyum tenang, “Baik, Nyonya Ratu.”
Berjalan meninggalkan Rheandra, kepala Ratu berdenyut sakit. Hh, berdebat dengan wanita itu membuat semua tenaganya hilang,
Sepertinya dia harus beristirahat sejenak, sebelum ibu guru Vera menghubungi nanti.
***
Wanita itu memperhatikan punggung sang Edrea yang perlahan kembali naik ke lantai dua. Senyuman di wajah Rheandra menghilang sekejap, diganti tatapan dingin.
Keanehan Ratu berhasil membuatnya bingung, entah apa yang terjadi sampai membuat wanita berhati dingin itu tersenyum dengan mudah. Tapi rencananya selama satu tahun ini tidak boleh gagal.
‘Wanita itu sudah merebut Rakha dariku, tenang saja. Akan kupastikan kau sendiri yang meminta untuk bercerai dengan Rakha nanti, Nyonya Ratu.’
Dia datang ke sini bukan untuk menjadi pembantu atau apapun itu. Mendesah sekilas, memperbaiki ikatan rambutnya, walau apapun yang terjadi Rhea memang tidak menyukai Ratu sejak awal.
Tapi berbeda dengan kedua putra mereka, Ravin dan Asta. Darah milik Rakha masih mengalir deras dalam tubuh kedua pemuda kecil itu, jadi tak ada sedikit pun rasa benci tercetak dalam benak Rhea.
“Aku tinggal membuat mereka berdua berpihak padaku,”
Saat ini mungkin yang paling susah Ia pikat hanya Ravindra saja. Entah apa yang diberikan Ratu sampai membuat pemuda kecil itu begitu sayang dengan sang ibu, tapi lain halnya dengan Asta.
Tempramen Asta yang meledak-ledak dan mudah tersinggung bisa dengan mudah Ia manfaatkan. “Jika Asta bisa berpihak padaku, semua akan berjalan lancar.” bisiknya pelan,
Rhea tidak mau membuat Arsen terikat dalam pernikahan yang membuat lelaki itu nampak tersiksa. ‘Tenang saja, Rakha. Sebentar lagi kau akan kubebaskan,’ batinnya senang,
***
Ada hal yang Ratu lupakan sejak tadi, begitu wanita itu masuk ke dalam kamar dan mengecek handphone. Begitu banyak panggilan datang dari sang kakak, Davaron.
Sudah Ia duga, seperti biasa lelaki itu akan mengamuk jika tidak melihat keberadaan Ratu di kantor. Apalagi jam kerja sudah lewat, membayangkan ekspresi sang kakak, Ratu hanya mendesah sinis.
Bagaimana dia bisa lupa? Peran kedua orangtua dan kakaknya selama ini sama sekali tidak berguna. Mereka tidak pernah berada di samping Ratu, bahkan keluarga kecilnya.
Dia sendiri bingung, kenapa dulu Ratu begitu mengejar harta yang justru membuat hidupnya menderita? Melupakan keluarga, demi mendapat jabatan sebagai pemilik perusahaan Ragnala?
Saat dia berhasil menduduki tempat itu dan mengalahkan Davaron, apa yang Ratu dapatkan? Tak ada sedikit pun hari bahagia, keluarga kecilnya hancur, Davaron tetap mendapat kekuasaan yang setara dengan Ratu bahkan lebih.
Sekarang Ratu sudah lelah, dia tidak ingin mengejar sesuatu yang justru menghancurkannya lagi.
Handphone kembali berdering, nama Davaron tercetak di layar. Mendesah tipis, wanita itu langsung mengangkat panggilan.
Tanpa basa-basi terlebih dahulu, “Dimana kau sekarang? Kenapa mejamu kosong, sekertarismu bilang kalau kau belum datang ke kantor sejak tadi?”
Berjalan dan duduk di pinggir tempat tidur, Ratu menyender santai. “Aku sedang beristirahat di rumah, sejak kemarin kondisiku tidak begitu baik,” jawab Ratu singkat,
Tentu saja jawaban itu tidak cukup membuat Davaron berucap iba dan khawatir padanya. “Kau sakit? Ck, jangan membual. Cepatlah ke kantor sekarang juga, siapkan materi untuk rapat siang nanti. Jangan membuatku menunggu, Veena.”
Benarkan? Tak ada kata khawatir dalam kamus Davaron pada adiknya. Ratu mendengus, “Materi rapat hari ini cukup mudah, aku yakin Kakak bisa membuatnya sendiri,”
Kalau biasanya Ratu yang mengajukan diri untuk membuat materi rapat selama ini, berjuang mendapat pengakuan kedua orangtuanya. Tapi sekarang berbeda, dia sudah pernah mengalami hal itu sebelumnya.
“Apa?! Jangan bercanda, Veena! Pukul satu nanti client kita menunggu, dan kau menyuruhku membuat materi itu sekarang?!”
“Iya, memangnya ada masalah? Kakak, jauh lebih pintar dariku ‘kan? Jadi untuk kali ini buatlah materi sendiri,”
“Kau jangan bermain-main, Veena!!” Davaron mendengus, berusaha menahan amarah. “Kau mau kinerjamu menurun hanya karena masalah ini? Jika ayah dan ibu tahu, entah apa yang akan mereka katakan,”
Jika biasanya ancaman itu sudah cukup membuat Ratu ketar-ketir dan terpaksa mengikuti kemauan sang kakak. Sekarang berbeda, dia justru mendengus remeh,
“Tidak masalah, aku bisa mengejar Kakak kapanmu aku mau. Tapi sekarang adikmu ini sedang lelah, jadi semua sisa rapat kuserahkan pada Kakak,” Tersenyum dengan senang,
“Apa?!! Veena, tunggu dulu! Jangan bercanda, cepat ke kantor sekarang juga!!”
“Sampai jumpa besok, Kakak. Semangat!”
“Veena!!”
Sebelum mendengar teriakan lelaki itu, Ratu sudah lebih dulu mematikan panggilan. Ia langsung melempar cepat handphone ke atas tempat tidur, berbaring menikmati waktu.
Menutup mata dengan senyuman tipis tercetak. “Hh, rasanya lega sekali,” desah Ratu.
Setelah sekian lama, akhirnya Ratu berhasil mengatakan semua kebimbangannya selama ini. Dia senang dan benar-benar lega.
Setidaknya untuk hari ini dia sudah membuat langkah pertama dengan baik.