[ 37 - Rindu yang Besar ]

2000 Kata
STORY 37 - Rindu yang Besar *** Tahun 2025 – Masa kini REKOMENDASI LAGU – SKYLAR GREY – COMING HOME Lagi-lagi dia berada di sini. Saat mata Ratu terbuka, hal yang Ia lihat hanya sebuah kegelapan, dimana satu cahaya menjadi penerang baginya. Beberapa orang berdiri di cahaya tersebut, Manik Ratu menyipit, ternyata apa yang Ia lihat tadi hanya mimpi belaka? Tentang Arsen, Asta dan Ravin. Itu hanya mimpi kejam yang membuat Ia menyesali lebih dalam perbuatannya dulu? “Uhk,” Meringkuk, dan menahan tangis. Tubuh wanita itu menegang saat melihat orang-orang di depan sana berjalan mendekatinya. “Ibu!! Kenapa Ibu terlambat menjemputku?!! Aku menunggu di tengah hujan saat itu!!!”;Teriakan Ravindra terdengar kencang, memekkakan telinga. “Ah!! Maafkan, Ibu!!” teriak Ratu kencang, menutup kedua telinganya, “Beraninya kau memintaku menikah Rheandra?! Sebenarnya dimana hatimu, Ratu?!!” Diiringi suara Arsenio yang menggelegar, “Kembalikan adikku, Ibu!! Kembalikan Ravin!! Kenapa bukan Ibu saja yang mati menggantikan Ravin, kenapa?!!” Suara Asta tak kalah besar, semakin membuat Ratu takut. “Maaf!! Maafkan aku , maafkan aku!!” “Kumohon hentikan,” Gemetar, menutup telinga bahkan berupaya mencakar kedua pipinya sendiri. Ratu sudah tidak kuat lagi, dia hampir gila! “MAAF!! MAAFKAN AKU!!” Manik Ratu tertutup erat, dia takut menatap ketiga orang itu. Apalagi Ravin, Ratu takut. Berusaha mengelak saat Arsen, Asta dan Ravin memaksa bahkan mencengkram kedua tangannya. “HUA, MAAF!! MAAF!!” Memberontak, dan berteriak. Menangis kencang, manik Ratu enggan terbuka. “Ratu, sadar! Ratu!” Sampai saat kedua pipinya terasa hangat, seseorang menyentuh pipi Ratu lembut. Tangan mungil berusaha menggenggam jemarinya, menghapus air mata yang jatuh di pipi sang ibu. “Ibu, jangan nangis.” “Jangan nangis, huee!” Teriakan kompak dan tangisan kedua pemuda kecil semakin menyadarkan Ratu. Menghilangkan kegelapan dalam diri wanita itu perlahan, “Ratu, bangunlah,” Bisikan lembut terngiang dalam telinganya. Satu kecupan di kening, berhasil menenangkan tubuh wanita itu, aroma segar minyak kayu putih menguar masuk ke dalam indra penciumannya. “Kakak, kebanyakan pakai kayu putihnya! Awas nanti ibu mabuk darat lho,” “Sudah sedikit kok!” Suara-suara kecil membuat kesadaran Ratu semakin pulih, kedua manik sang Edrea perlahan terbuka. Tidak ada kegelapan sama sekali melainkan terang cahaya pagi masuk melalui celah jendela yang terbuka. Saat wanita itu sadar sepenuhnya, “Syukurlah kau sudah sadar,” ucap seseorang di samping Ratu, menyentuh kening sang Edrea pelan. “Kau demam, hari ini beristirahatlah dulu. Jangan bekerja,” Arsenio mendesah sekilas, Sementara dua sosok mungil yang kini sudah berada di samping tempat tidur. Mereka masih merasa takut untuk naik dan memilih tetap di samping sang ayah. Melihat sang ibu lekat, “Ibu, kenapa Ayah? Kok tadi tiba-tiba jatuh?” tanya Ravin polos, Asta mengangguk kecil. “Ibu, sakit apa?” Celoteh ringan yang membuat Ratu rindu, tak ada lagi kegelapan. Satu pemandangan langka tercetak di depan Ratu, dalam posisi berbaring. ‘Ini bukan mimpi,’ Walau dia jatuh berulang kali, dan bangkit lagi. Mereka tetap ada di sini, Arsenio, Asta bahkan Ravindra. Tak ada satu pun dari mereka yang hilang, Tuhan memberikan Ratu kesempatan lagi. Untuk berubah dan memperbaiki diri. Kali ini wanita itu percaya, akan keajaiban yang diberikan untuknya. Kesempatan ini tidak boleh Ia sia-siakan. Meski harus Ratu bayar dengan apapun dia tidak masalah. “Ayah, akan ambilkan kompres dan handuk dulu. Kalian berdua ayo keluar dulu, Ibu sedang demam. Jangan sampai tertular,” tegur Arsen pelan. Asta dan Ravin kompak menggeleng, “Kita mau jaga ibu, Ayah!” rengek mereka. “Jangan, nanti tertular. Lagipula ibu kalian perlu istirahat banyak,” Meski hanya sekali saja, walau Ratu egois. Dia ingin mengesampingkan kesehatannya, kali ini wanita itu berusaha untuk duduk menyender, ketiga orang di sampingnya terkejut. “Kau mau kemana?” “Ibu, mau kemana!” Ratu menggeleng tipis, menyamankan tubuhnya, meski masih merasa pusing. Entah kenapa dia tidak suka membuang semua waktu yang sudah diberikan oleh Tuhan. Untuk kali ini saja, “Asta, Ravin,” ucap wanita itu pelan, Sosok mungil di dekat sana menegang kaget, untuk pertama kalinya. Mereka mendengar suara lembut keluar dari bibir sang ibu? Kompak menoleh, bahkan saat sebuah senyuman tipis tercipta di wajah cantik itu, “Kemarilah,” Memanggil bahkan meminta mereka untuk mendekat? Manik keduanya mengerjap polos, sementara Arsen dia ikut bingung. Apa karena Ratu sedang sakit, jadi wanita itu berubah tiba-tiba? “Ayah, akan mengambil baskom dan handuk dulu,” Mengendikkan bahu sekilas, dia berjalan keluar dari kamar. Meninggalkan ketiga orang itu, Baik Asta ataupun Ravin masih ragu, mereka hanya diam dan berdiri di tempat masing-masing. Sementara Ratu mendesah tipis, “Kalian tidak ingin melihat Ibu dari dekat?” ucapnya lagi. Dalam beberapa detik, kedua pemuda kecil itu menggeleng cepat. Ravin yang lebih dulu naik ke tempat tidur meski harus bersusah payah, Asta sedikit ragu, menatap sang ibu berulang kali, tapi berusaha untuk ikut naik. “Ibu, sakit demam ya?” Ravin duduk di samping Ratu, masih takut untuk mendekat. “Mendekatlah,” Meski egois, tapi untuk kali ini saja. Ratu ingin melihat kedua putranya dari dekat. Ravin mendekat lagi, sementara Asta menunggu. Keduanya nampak ragu, Ratu pun langsung memutar siasat. Wanita itu tanpa ragu terbatuk beberapa kali, membuat kedua pemuda kecil di dekat sana tanpa basa-basi mendekat. “Ibu!” Tidak menyia-nyiakan strateginya, Ratu tersenyum tipis. Kedua tangan wanita itu terlentang cepat, merangkul putra-putranya ke dalam pelukan dalam hitungan detik. “Uwa!” Aroma khas sang ibu menguar masuk ke dalam penciuman Asta dan Ravin, merasakan pelukan yang hangat. Hal yang nyaris tidak pernah dilakukan wanita itu selama ini, “Ibu, merindukan kalian.” Satu kalimat tipis terucap, pelan namun masih bisa mereka dengar. Asta dan Ravin mengerjap bingung. Pelukan yang erat namun lembut, mendengar detak jantung sang ibu dari dekat, mencium aroma khas wanita itu, Hangat, menenangkan. Tanpa Ravin sadari, pemuda kecil itu berceletuk di samping Asta. “Apa ibu berubah karena sakit, Kak?” “Tidak tahu,” tukas Asta bingung, “Kalau benar karena itu,” Ravin terkekeh kecil, kali ini tanpa ragu, kedua tangan mungilnya bergerak menerima pelukan wanita itu. “Aku tidak masalah kalau Ibu sakit terus,” “Ngawur, haha!” Asta ikut tertawa kecil, meski ragu dia reflek memeluk sang ibu erat. *** Di sisi lain Apa yang terjadi dengan istrinya? Tiba-tiba saja dalam waktu satu hari sifat Ratu berubah. Saat lelaki itu hendak membawa baskom berisikan handuk. Arsenio melihat sendiri bagaimana Ratu kini memeluk tubuh Asta dan Ravin. Memeluk erat, sembari menghapus air mata yang kadang jatuh dari pelupuk wanita itu. Sosok yang selama ini hampir tidak pernah memeluk kedua putranya, bersikap acuh, mengabaikan, dan lebih memilih pekerjaan dibanding apapun, Rasanya aneh kalau Ratu berubah secepat itu. Lagipula kemarin malam pun, istrinya pulang dalam keadaan tidak baik, penuh amarah, emosi, bahkan mereka sempat bertengkar saat Arsen berusaha memberitahu Ratu untuk beristirahat sejenak, Ratu yang dia kenal tidak pernah semudah itu memperlihatkan senyum. Bahkan untuk sekedar bicara, menukar kalimat atau memeluk mereka. Sang Edrea akan memilih pekerjaan dibanding apapun. Ini saja, Arsenio sudah menebak kalau Ratu akan menolak nasehatnya dan bersikeras untuk bekerja lagi. Tidak mau beristirahat, atau sekedar menghabiskan waktu dengan mereka. Lelaki itu berjalan masuk, membawa baskom dan handuk, dia ingin melihat seperti apa reaksi Ratu. Apa wanita itu akan mendorong tubuh kedua putranya dan kembali memasang wajah dingin. Berpura-pura kuat, dan tegar. Hh, Arsenio sudah hapal sekali sifat asli istrinya. Mendesah sekilas, menatap Ratu sekilas. “Aku sudah membawa air dan baskom, berbaringlah lagi, Ratu.” ucap lelaki itu pelan, Saat pandangan mereka bertemu, manik amber Ratu justru menatap lekat Arsen. Tidak ada niat untuk teralih sama sekali, sampai akhirnya wanita itu mengangguk polos. “Baiklah,” Melepas pelukan pada Asta dan Ravin. Tanpa membantah sama sekali, Ratu mengembalikan posisinya tadi. Semua orang di sekitarnya mengerjap kaget, Arsen menegang, sementara Ravin dan Asta mengerjap bingung. Mereka saling tatap sesaat, terutama sang Rajendra. Jujur, dia heran. Sejak kapan istrinya bisa berubah jadi penurut? “A-ah, baiklah.” Menatap Asta dan Ravin, “Asta, Ravin, sebaiknya sekarang kalian kembali ke kamar. Kak Rhea juga sudah datang,” Mendengar nama Rheandra, dan sebutan ‘kakak’ itu. Manik Ratu melebar sesaat, jantungnya kembali berdetak cepat. Ada begitu banyak teka-teki di hari terakhir kematian Ratu saat itu, wajah sang Edrea berubah tegang. Dia berusaha tenang, menutup manik sekilas. Sementara Ravin dan Asta seolah tidak rela, tapi saat melihat wajah tegas sang ayah, keduanya langsung beranjak turun dari kasur. Ayah mereka sangat mengerikan saat marah. “Cepat sembuh, Ibu! Nanti kami akan datang lagi,” Ravin berceloteh sembari melambai di ambang pintu, sementara Asta seolah masih ragu hanya melirik Ratu, “Ayo, Ravin,” Menarik tangan adiknya untuk keluar dari kamar. Ratu memang tidak bisa menyalahkan sikap Asta, karena sejak awal. Mungkin di usia Asta yang kelima tahun, Ratu pernah membuat pemuda kecil itu trauma, selain karena sifat Asta yang sedikit tertutup dengannya. Apa kepercayaan putranya itu sudah hilang? Mengingat lagi, masa depan yang mungkin saja terjadi. “Hari ini sampai aku mati, jangan pernah temui aku lagi. Jangan pernah menganggapku putramu, jangan berbicara atau menyapaku. Untuk kali ini saja, di hari ulangtahun kedua putramu.” Manik Ratu terpejam kembali, merasa sakit yang luar biasa. Seolah melupakan keberadaan Arsen di dekatnya, kalimat Asta terngiang dalam pikiran wanita itu. “Tolong dengarkan permintaanku, Nyonya Ratu.” Tetes bening di pelupuk kembali mengalir tanpa Ia sadari. Menutup wajah dengan kedua tangan, tidak ada isak tangis, Ratu terdiam. Membiarkan air mata turun, membasahi pipinya. “Apa yang kau tangisi?” Suara Arsen memecah keheningan, Ratu tersentak. Merasakan seseorang kini duduk di samping tempat tidur, bunyi tetes air di dalam baskom. Satu pertanyaan singkat itu tidak bisa Ia jawab, “Kau tiba-tiba jatuh pingsan, dan memeluk kedua putramu seperti itu,” Melanjutkan kata-katanya, dengan pelan. Arsen menempatkan handuk tepat di kening Ratu, “Apa kau bermimpi buruk? Bukannya sejak kemarin kubilang untuk beristirahat saja setidaknya satu hari,” desah sang Rajendra, Ratu masih diam, membuka kedua matanya. Merasakan dingin handuk di kening, segar dan menenangkan. Perasaan Ratu kembali membaik, “Ya, aku baru saja bangun dari mimpi yang sangat buruk,” jawab Ratu akhirnya. “Kau tidak ingin bercerita padaku?” tukas Arsen lagi, lelaki itu tetap duduk di sampingnya, dengan senyuman tipis dan manik menatap hangat. Ratu yang dulu pasti akan langsung menepis handuk di keningnya, berusaha bangkit, menolak perawatan dari Arsen dan berniat kembali bekerja. Berbicara ketus, tanpa ekspresi seperti biasa. Tapi dia tidak ingin hal itu terjadi dua kali. “Apa kau akan percaya? Kalau aku baru saja bermimpi keluarga ini hancur gara-gara satu wanita tidak becus yang gagal menjadi seorang ibu,” Manik Arsenio melebar, saat mendengar respon singkat Ratu. Bungkam sesaat, menatap semua gerak-gerik istrinya. Dia sendiri tidak tahu harus merespon seperti apa, karena untuk pertama kali juga. Mereka bisa berbicara selama ini, “Apa wanita itu kejam dan menakutkan?” celetuk sang Rajendra tiba-tiba, masih tersenyum, mengambil baskom hendak membiarkan Ratu beristirahat, Wanita itu meringsek, memunggungi sang suami. Berusaha menutupi ekspresinya. “Ya, sangat menakutkan dan kejam,” Berdiri sekilas, masih dengan senyuman di wajahnya, “Kutebak saat wanita itu marah, dia pasti masih terlihat cantik walau menakutkan.” Menanggapi ucapan Ratu dengan gurau singkat. Sang Edrea membalikkan tubuhnya, “Aku serius!” Di depan sana, Arsen terkekeh tipis, berjalan mendekati Ratu dan tanpa aba-aba mengelus lembut puncak kepala istrinya. “Jika wanita itu mencoba untuk berubah, apa menurutmu keluarga kita akan baik-baik saja?” Satu pertanyaan kembali terlontar, manik amber Ratu menelisik setiap ekspresi kecil Arsen. Sosok itu tersenyum namun menyimpan rasa pedih tak terlihat. “Beristirahatlah hari ini, aku akan pergi ke toko setelah mengantar Asta dan Ravin.” ucap Arsen berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Saat Ia berniat pergi, meninggalkan Ratu. Tanpa menyadari wanita di sebelahnya tadi perlahan bangkit, dan reflek memegang pakaian sang Rajendra. Menghentikan gerak Arsen seketika, “Ada apa?” Ratu tersentak, mengerjap berulang kali. Sampai akhirnya sadar kembali, melepas genggamannya, “Maaf, bukan apa-apa,” Bahkan saat dia mendapat kesempatan lagi untuk berubah. Ada beberapa sifat yang tidak hilang dari dalam diri Ratu. Wanita itu masih tak bisa mengungkapkan perasaannya dengan baik,
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN