STORY 36 - Kembali
***
Tahun 2025 – Masa kini - Usia Ratu 30 Tahun
REKOMENDASI LAGU – JAMES ARTHUR - IMPOSSIBLE
Tubuhnya terasa panas, dengan kedua manik amber yang masih terbelalak lebar, napas terengah, entah kenapa Ratu merasa tubuhnya seperti sangat lelah. Menyingkap selimut sekilas, namun tetap diam di tempatnya.
‘Apa yang terjadi?’ batin Ratu, salah satu tangannya bergerak memijat pelipis yang kini berdenyut. Rasanya Ratu seperti bangun dari tidur panjang selama bertahun-tahun. Lalu mimpi tentang nenek tadi? Kematiannya?
‘Seharusnya aku sudah mati ‘kan?’
Jelas-jelas Ratu melihat sendiri tubuhnya terbaring kaku, hanya ada Arsen yang menemani, sementara Asta menolak untuk datang. Karena ucapan terakhir lelaki itu, Ratu masih mengingat jelas.
Tersenyum pedih, apa dia sudah berada di surga sekarang? Setelah melihat masa depan mengerikan yang ditunjukan nenek itu, Ratu tidak rela. Bagaimana hancurnya kedua orang yang Ia sayangi.
Asta ditangkap oleh kepolisian karena kasus tabrak lari dan pembunuhan, tanpa ada niat untuk menyembunyikan sama sekali. Putranya justru tertawa dan merasa senang, bagai orang gila lelaki itu seolah bangga karena sudah membunuh.
Sementara Arsenio, dengan tubuh yang sudah menua. Berteriak membela Asta sendiri, tanpa ada bantuan sedikit pun dari keluarga Ratu. Menopang semua beban hidup dan kesedihannya.
Membayangkan itu saja sudah cukup membuat jantung Ratu terasa sakit, napasnya kembali sesak. Menekuk kedua kaki dan menundukkan tubuh. Bagai anak kecil, seperti biasa.
Ratu kembali menangis, jika sendirian. Terisak tipis, merasakan sakit berulang kali, betapa rindu, dan banyak penyesalan terus terngiang.
Apa sampai dia mati pun, Tuhan akan membiarkan Ratu mengingat setiap kejadian dalam hidupnya? Dosa terbesar wanita itu.
“Aku lelah,” bisiknya tipis.
***
Menangis selama beberapa menit, isakan wanita itu tiba-tiba terhenti saat mendengar suara ribut di luar kamarnya. Alis Ratu tertekuk bingung,
Menengadah dan menghapus air mata cepat, “Apa Tania sudah datang?”
Jam berapa sekarang? Jika ini memang benar di surga, kenapa Ratu begitu familiar dengan suasana kamarnya? Dia sendiri baru sadar saat mencoba berjalan dan meneliti ruang lebih detail.
Tirai jendela, posisi barang-barang, tempat tidur king size, bahkan sebuah vas bunga berisikan bunga lily liar yang biasa di tempatkan oleh laki-laki itu setiap harinya, dulu saat mereka masih berstatus suami istri.
Tentu saja yang Ratu maksud adalah Rajendra Rakha Arsenio. Kenapa bunga itu bisa ada di surga? Lalu ruangan ini terasa sangat familiar,
Berjalan pelan, meneliti dan berusaha mengabaikan suara gaduh di luar kamar. Sampai akhirnya Ratu melangkah tak sengaja ke arah lemari pakaian dengan kaca besar terpasang sempurna.
Melewati kaca tersebut sembari melirik sekilas, mengingat setiap detail wajah dan rambut panjang yang sudah Ia potong bertahun-tahun lalu. Kerutan dan rambut putih pasti sudah bertambah lagi sekarang. Itu yang ada di pikiran Ratu,
Tapi tubuh sang Edrea terhenti seketika, saat dia menangkap sosok yang berbeda dari bayangannya. Memilih untuk melihat lebih jelas, berdiri tegap dengan alis tertekuk,
“A---apa yang terjadi-” Tercekat, Ratu mendekatkan wajahnya secepat mungkin. Bahkan memegang rambut yang kini masih tergerai panjang, warnanya pun masih coklat kehitaman tanpa rambut putih sedikit pun, tak ada kerutan di wajah, mata amber keemasan nampak cerah.
Bahkan keriput di tangan, wajah dan seluruh tubuhnya hilang. Semua berubah kencang lagi?! Jantung Ratu terasa mencelos begitu saja,
“Apa ini? Ke---kenapa wajahku bisa berubah seperti ini? Lalu rambut ini, sejak kapan panjang lagi?” racau wanita itu bingung, dia benar-benar berubah kacau. Napas mulai memburu tak percaya,
Saat manik Ratu melirik ke arah kalender tak jauh dari posisinya. Berlari cepat, menyambet benda itu. “Tahun berapa sekarang,”
Mengecek tahun dan tanggal. Semakin terkejut, saat melihat angka yang tercetak di sana. “Tahun 2025?”
Januari tahun 2025.
Apa ini mimpi? Semua hal gila terjadi padanya dalam waktu singkat? Rambut pendek kembali memanjang, hilangnya keriput, rambut putih, dan kantung mata yang cukup parah.
‘Tidak mungkin,’
Kembali berjalan dan melihat pantulan dirinya di depan kaca. Pikiran Ratu bergerak cepat, kedua tangan terkepal kuat. Ini bukan surga atau neraka?
‘Mana mungkin aku kembali-’ Pikiran sang Edrea tercekat saat mengingat nenek yang Ia temui dalam ambang kesadarannya saat itu, pembicaraan mereka. Permintaan terakhir Ratu.
“Karena kau sudah menolong nenek tua ini, katakan permintaanmu, Nona cantik.”
“Aku ingin kembali hidup dan memperbaiki semuanya!”
Kembali hidup? Tidak bisa Ratu bayangkan kalau kata kembali yang diberikan pada nenek itu justru membawa Ratu ke masa lalu?
Dia benar-benar kembali ke masa lalu?
***
Menyeka keringat yang menetes dari pelipisnya, Ratu masih tidak percaya. Berusaha mencari bukti yang lebih akurat. Foto pernikahan, pakaian di lemari, kamar yang terasa familiar, dan terakhir.
Suara-suara kecil di luar sana membuat tubuh Ratu menegang hebat. Detak jantungnya semakin cepat, meneguk ludah berulang kali. Lama wanita itu berdiri diambang pintu, enggan untuk membuka benda di depannya.
Salah satu tangan terayun hendak membuka pintu namun gagal. Beberapa kali mencoba, tapi Ratu takut. Jika harapannya akan hancur dalam beberapa detik.
Takut, dia gemetar. Napas wanita itu terengah, untuk kelima kalinya. Ratu membuka kenop pintu, sangat pelan, berusaha menenangkan diri.
Hal yang pertama kali dia dengar adalah suara teriakan kecil.
“Ah, Ayah aku mau s**u anggur dan roti panggang ya!”
“Siap komandan! Kalian berdua sudah mandi ‘kan? Bersihkan badan dulu, setelah itu datang lagi ke sini, kita sarapan bersama.”
Terasa sangat familiar, suara mungil yang terdengar nyaring dan suara baritone itu. Tubuh Ratu reflek bergerak, melangkah pelan, menuruni tangga. Menggigit bibir bawah sekuat mungkin. Dengan napas terengah,
Tuhan, kumohon jangan hukum aku dengan memberi harapan palsu ini walau hanya sesaat. Jika kau memang ingin memberiku kesempatan, untuk sebentar saja, kumohon.
Jangan biarkan aku bangun dari mimpi ini.
Langkah Ratu terhenti diambang pintu dapur, dengan penuh keringat menetes dan napas terengah. Manik amber keemasan itu melebar shock, tubuhnya seolah ingin jatuh begitu saja namun Ratu tahan.
Sekuat mungkin, berusaha untuk tidak pingsan melihat pemandangan di depan sana. Satu sosok mungil yang tengah memegang sekotak s**u di tangan, dan seorang lelaki tampan dengan balutan apron biru. Kedua orang itu menoleh kompak.
“Ratu/Ibu?” ucap mereka bersamaan.
***
Rajendra Rakha Arsenio, rambut ikal bergelombang menjadi ciri khas lelaki itu, rahang yang nampak tegas, tampan dengan kedua manik abu tenang dan hangat. Tak terpikir dalam benak Ratu, kalau dia akan melihat kembali sosok hangat itu tersenyum padanya,
Sangat hangat bahkan sering kali membuat Ia nyaris meleleh dan melupakan semua aktingnya selama ini. Lelaki yang tidak melupakan perannya sebagai kepala keluarga, ayah, dan suami yang begitu sempurna hingga akhir.
Dibalik kebaikan hati, sikap tenang dan sabar yang Arsenio miliki, kenapa Ratu baru sadar, di saat terakhir. Sang suami tetap berpegang teguh pada pendirian sebagai sosok kuat, dan akan tetap membela keluarga kecilnya.
“Kau sudah bangun?” Suara baritone itu mengalun lembut diiringi senyuman hangat, “Maaf, kami terlalu berisik ya sampai membangunkanmu?” kekeh sang Rajendra sekali lagi.
Melihat Ratu diambang pintu, wanita itu masih berdiri kaku.
Sementara Asta yang memegang kotak s**u di tangan hanya melihat bingung, ragu untuk mendekati sang ibu, pemuda kecil itu memilih diam. Menatap ayahnya bingung.
“Ayah, ibu kenapa diam di sana terus dari tadi?” tanya sang Faresta,
Lelaki dewasa yang tumbuh begitu cepat dan berubah dingin, mendorong Ratu untuk menjauh, serta berjanji untuk tidak menemuinya lagi. Masih mengingat dengan jelas, perpisahan terakhir mereka.
Faresta Aksa Mahapranu, sosok yang di masa depan akan menjadi seorang pembunuh karena Ratu. Masa depan lelaki itu hancur berantakan, bahkan berubah menjadi gila.
Sekarang di depan Ratu, Asta justru terlihat polos dan manis. Menatap bingung ke arahnya dan seolah takut untuk mendekat.
‘Mereka juga berubah.’ batin Ratu kembali, jika memang ini benar. Waktu sudah berubah tanpa sepengetahuan Ratu. Permintaannya saat itu,
Jika Arsenio dan Asta kini berada di depan sana, dalam kondisi yang berbeda. Itu berarti-
“Ibu, sudah bangun?”
Tubuh Ratu menegang saat merasakan sebuah jemari mungil menarik pelan pakaiannya. Detak jantung wanita itu semakin cepat, menoleh ragu. Menahan diri untuk tidak terkejut,
Saat manik amber itu bertemu, melihat sosok mungil yang kini tengah mengucek salah satu mata, menggunakan baju tidur. Satu senyuman tercetak di wajah manisnya.
“Selamat pagi,” Suara khas yang terdengar lembut, manis dan menggemas. Tawa kecil sosok itu nyaris membuat napas Ratu tercekat,
Tanpa Ia sadari, setetes demi setetes cairang bening jatuh membasahi pipinya. Tubuh Ratu berdiri di posisinya, perlahan terasa lemas. Seolah tidak bisa menahan diri lagi,
Ravindra Abel Alterio, sosok yang telah meninggal dalam pelukannya saat itu kini berada di depan Ratu. Dalam wujud mungil yang begitu Ia rindukan.
“Ibu?”
Dalam beberapa detik, Ratu merasakan tubuhnya limbung, tak bisa menahan diri. Perlahan berubah gelap, beriringan dengan Arsen yang sadar dengan keadaannya.
“Ratu!!” Melupakan kegiatannya tadi dan berlari mendekati wanita itu, Asta pun sama. Raut wajah khawatir tercetak jelas,
Kesadaran Ratu hilang saat tubuhnya benar-benar menyentuh lantai. Suara teriakan terngiang dalam pikirannya.
“IBU!!”
“RATU, BANGUN!”
Jika dia bangun nanti, apa semua mimpi ini akan menghilang lagi?