[ 35 - Pilihan ]

1871 Kata
STORY 35 - Pilihan *** Tahun 2040 – Masa kini REKOMENDASI LAGU – SKYLAR GREY – EVERYTHING I NEED Wanita itu berdiri di sana, dengan punggung terbungkuk dan senyuman sendu terlihat di wajahnya. Sosok di depan Ratu perlahan berjalan mendekat. Menggunakan tongkat yang Ia bawa. “Ne-nenek yang tadi?” ucap Ratu tak percaya, bagaimana bisa nenek itu ada di sini?! Panik tentu saja. Tanpa menjawab ucapan Ratu, “Kenapa kau menolongku tadi, Nona?” Seiring dengan langkah yang semakin dekat, satu pertanyaan terucap. ‘Kenapa?’ Alis Ratu bertaut bingung. “Kita bahkan tidak mengenal satu sama lain, kau tidak tahu siapa nenek tua ini, dan tiba-tiba saja bergerak menolongku.” Ratu masih terdiam, perlahan menghapus air mata di pelupuknya. Kedua maniknya saling bertatapan dengan nenek tersebut, menengadah sekilas. Jika ditanya seperti itu, bukannya jawaban Ratu sudah jelas. Raut di wajah sang Edrea berubah polos, “Kenapa saya butuh alasan untuk menolong anda, Nenek?” Ratu tak perlu banyak alasan untuk menjawab pertanyaan nenek itu. Tubuhnya hanya bereaksi saja, persis ketika dia melihat Ravin beberapa tahun lalu, dan berakhir tidak bisa menyelamatkan putranya sendiri. Ratu tak ingin kejadian itu datang lagi. Mengalihkan perhatian, siapa sangka jawaban Ratu justru membuat sang nenek terkekeh tipis. “Kau benar-benar polos, Nona cantik.” Senyuman sendu itu berubah menjadi begitu hangat. Sang nenek berjalan kembali, dan kali ini tanpa Ratu sadari. Sebuah kursi taman sudah berada di dekat mereka. Manik Ratu mengerjap tak percaya, mengusap mata berulang kali. Sang nenek berjalan dan akhirnya duduk di sana, “Kemarilah, Nona.” Meminta Ratu untuk mendekat. Sedikit ragu, saat melihat senyuman nenek itu sekali lagi. Entah kenapa keraguan Ratu menghilang seketika, perlahan bangkit dan berjalan pelan. “Duduklah di sini,” Wanita paruh baya itu menepuk posisi di sampingnya. Mengikuti dengan polos, dalam jarak yang cukup dekat mereka duduk berdampingan. Hening beberapa saat, Ratu mengalihkan perhatian lagi. Memberanikan diri dan mengeluarkan semua akting terbaik miliknya. Menjadi sosok yang tenang dan dewasa, “Kenapa Nenek bisa ada di sini? Tempat apa ini sebenarnya? Gelap, dan sunyi,” Menatap sekeliling, semua terasa gelap dan sunyi, tak ada siapapun kecuali mereka. Nenek di sampingnya duduk sembari memegang tongkat miliknya. “Menurutmu tempat apa ini?” Bertanya balik, alis Ratu tertekuk bingung. “Tempat apa?” Ia mendesah. Menggeleng kecil, “Barusan saya melihat keluarga saya di sana, lengkap dengan tubuh saya yang terbaring kaku.” jawab Ratu, seraya menunjuk ke arah bayangan Arsen dan Asta tadi. Berpikir sejenak, “Jika memang perkiraan saya, tempat ini kemungkinan adalah neraka? Atau batas kesadaran saya sekarang,” Neraka? Alih-alih menyebut surga, Ratu justru memilih tempat mengerikan itu, dan lagi-lagi mendengar jawaban Ratu. Sang nenek tertawa kecil. “Jawaban keduamu mungkin benar, Nona.” Tawa nenek itu terhenti saat kedua maniknya menatap Ratu teduh. “Kau menolak untuk bangun dan berada dalam fase kritis karena menolong nenek tua ini.” “Kau kehilangan banyak darah di tempat kejadian, rumah sakit sudah cukup merawat dan menyelamatkan nyawamu, Nona. Tapi kenapa,” Kalimat sang nenek terhenti, menatap Ratu serius. “Sepertinya kau sendiri yang menolak untuk sadar?” Ratu terdiam, perlahan menunduk dengan kedua tangan mengepal. “Tak ada tanda-tanda kesadaranmu kembali. Kau seolah tidak ingin bangun untuk selamanya. Kenapa, Nona?” Mendengus sekilas, “Untuk apa saya sadar lagi, Nek? Jika kehadiran saya selama ini hanya membuat semua orang menderita.” Kedua maniknya menatap dingin, raut berubah sendu. “Mereka semua terluka karena keegoisan saya. Suami, putra, dan sahabat. Tidak ada satupun dari mereka yang berakhir bahagia jika saya tetap hidup.” lanjut wanita itu. Akan lebih baik dia pergi saja, itu yang Ratu pikirkan. Meski sakit melihat Arsen menangis, tapi Ratu yakin. Kesedihan Arsen dan Asta akan segera berakhir. Rhea pasti bisa menolong mereka. Saat Ratu pergi nanti, mereka akan bahagia. Dia yakin itu. “Kau yakin?” Satu pertanyaan kembali muncul. Ratu menatap sang nenek lagi, mengangguk kecil dan tersenyum. “Tentu saja, jika saya pergi mereka pasti akan hidup bahagia. Arsen dengan Rhea, Asta akan menikah dengan orang yang Ia cintai. Mempunyai anak-anak lucu, hidup tanpa beban dan tangisan lagi. Saya yakin,” tegasnya. Itulah bayangan yang muncul di pikiran Ratu. Kali ini senyuman teduh di wajah sang nenek berubah pedih. “Kau yakin berpikir bahwa mereka akan bahagia saat melihatmu pergi?” Alis Ratu bertaut sesaat, “Ya.” Mengangguk yakin. Nenek itu menutup mata sekilas, sebelum akhirnya menatap ke depan. “Lihatlah.” Apa? Semakin bingung, Ratu mengikuti arah pandangan sang nenek. Menatap ke depan bingung, ‘Lihat apa?’ Secercah cahaya kembali muncul, layaknya layar yang lebar. Manik sang Edrea menyipit silau, ‘Apa itu?’ “Lihatlah masa depan yang akan terjadi saat kau tiada, Nona.” Masa depan? *** Masa depan yang Ratu kira akan bahagia tanpa dirinya. Tepat saat layar terpampang di depan sana memperlihatkan semua. Tubuh Ratu menegang seketika. “Jangan tangkap anak saya!!! Dia tidak bersalah!! Asta, katakan kalau kau tidak bersalah!!!” Suara teriakan Arsenio menggema. Sosok yang kini semakin menua, dengan rambut-rambut putih dan keriput di wajah terlihat jelas. Lelaki itu menangis, saat beberapa anggota kepolisian menghalau tubuh ringkihnya. “ASTA!! PUTRA SAYA TIDAK BERSALAH!! LEPASKAN!!” Memberontak dan memanggil nama Asta berulang kali. Tubuh tegap Asta nampak kurus, dengan rambut panjang yang menutupi wajah tampannya. Semua ekspresi terlihat jelas, tanpa senyuman dan manik dingin menatap sang ayah. “Memang aku yang melakukannya. Ayah, tidak perlu repot-repot membelaku,” “A-apa?” “Putra anda sudah mengakui sendiri. Dia sengaja menabrak wanita dan laki-laki itu berulang kali, dan melakukan penyiksaan sebelum waktu kejadian.” Arsen menolak untuk percaya, teriakannya menggema. “TIDAK!! INI PASTI SALAH PAHAM!! PUTRAKU TIDAK MUNGKIN MEMBUNUH ORANG!!” Asta tidak lagi menjawab ucapan Arsen, lelaki itu berbalik dan membiarkan para polisi memborgol kedua tangannya. “Aku tidak menyesal, Ayah!! Karena aku berhasil menghancurkan pembunuh Ravin sekarang!! Mereka pasti akan masuk neraka!! Tuhan akan membalas kejahatan mereka, khahahaha!!” “Walau tubuhku membusuk di penjara, asal kedua orang itu mati. Aku tak peduli, khahahaha!!!” Suara tawa Asta terdengar keras, tiba-tiba dan membuat semua orang di sana terkejut. Tertawa puas, tanpa penyesalan. Begitu nyaring, seiring dengan tubuh kurus tegap diseret masuk ke dalam mobil kepolisian. “ASTA!! ASTA!!! JANGAN TANGKAP PUTRA SAYA!!!” Tubuh Arsen terjatuh, memanggil nama Asta berulang kali. Menangis, berteriak kencang. Saat para anggota kepolisian pergi. Kerumunan orang yang berkumpul karena melihat keributan hanya bisa diam. Tanpa ada niat untuk menenangkan atau membantu Arsen untuk berdiri. Mereka justru menatap sanksi dan penuh amarah. Berbisik dan menganggap Arsen sebagai pelaku. “Dasar orangtua tidak becus, sebenarnya bagaimana dia merawat Asta sampai membuat dia seperti itu?!” “Ck, ck, putranya membunuh dan justru tertawa. Dasar ibliss,” “Apa dia tidak punya malu?” “Orangtua macam apa dia? Menjadikan putranya sebagai pembunuh?!” Begitu banyak cacian Arsen terima, tapi beban lelaki itu seolah sudah sangat berat. Menangis dan memanggil nama Asta. Tanpa ada siapapun di sampingnya. Bahkan keberadaan Rheandra pun tidak Ratu lihat. Kemana wanita itu? Tidak kedua orangtuanya. Keluarga Ratu yang justru berbalik dan menganggap bahwa kehadiran Arsen adalah aib bagi mereka. “ASTAA!!! KEMBALIKAN PUTRAKU!!” *** Semua Ratu lihat dengan jelas, kedua maniknya terbelalak tak percaya. Menutup bibir, dan menangis. Napasnya terasa sesak, semua perkiraan yang Ia pikirkan tadi jauh meleset. Tidak ada kebahagiaan di sana. Arsen dan Asta justru semakin menderita, hancur tepat beberapa tahun setelah kepergian Ratu. “Tidak---tidak mungkin, mereka seharusnya bahagia!” Terisak kecil, menggeleng sekilas. Menatap sang nenek lagi, “Mereka harusnya bahagia, Nek!” Asta menjadi seorang pembunuh dan Arsen semakin hancur tanpa pendamping di sisinya. Bukan ini yang Ratu inginkan!! “Saya tidak menginginkan ini, Nek! Saya tidak mau!!” Tubuhnya bergetar, perlahan tanpa sadar Ratu bergerak hingga akhirnya berlutut tepat di depan nenek tadi. Sosok yang menatapnya sendu. “Saya mohon, Nek. A-apa anda bisa melakukan sesuatu? Tolong-hiks- tolong selamatkan mereka, saya akan memberikan apapun pada Nenek, nyawa, tubuh ini apapun itu!” Berlutut dan reflek menyentuhkan keningnya ke tanah. Menundukkan tubuh, “Keberadaan nenek di sini pasti karena menginginkan sesuatu ‘kan? Ambil saja nyawa saya, Nek. Tapi sebelum itu, tolong---hiks—tolong sekali saja, saya ingin melihat mereka bahagia.” “Tolong, Nek. Tolong, ini salah saya, semuanya!! Saya yang membuat mereka menderita. Karena saya begitu egois dan tidak peduli pada mereka, tolong—tolong saya, Nek,” Terisak dan tak henti mengucapkan permintaan tolong. Bukan ini yang Ratu inginkan!! “Tolong, saya mohon. Apapun itu, akan saya berikan, Nek.” Berlutut tanpa henti, menangis dan terisak. Tanpa menyadari sosok nenek yang Ia lihat tadi perlahan berdiri dan mendekatinya. Mengulurkan salah satu tangan, Menyentuh puncak kepala Ratu lembut, “Apa kau yakin, Nona cantik?” Ratu tersentak, menengadah cepat. Melihat sosok sang nenek yang tersenyum sendu, “Kau ingin mengubah semuanya?” Tanpa basa-basi, Ratu mengangguk cepat. “Ya, saya yakin! Saya akan melakukan semuanya, berapa pun bayaran yang Nenek mau,” jawabnya tegas. Merasakan jemari sang nenek menyentuh pipinya, “Meski kau harus membayar semuanya nanti?” “Ya, berapa pun harga yang Nenek berikan. Saya akan membayar meski nyawa taruhannya.” Sang nenek terhenti sesaat, menatap lekat kedua manik Ratu. Air mata mengalir dari kedua pupuk sang Edrea. Dalam sekali tarikan napas, nenek itu tersenyum tipis, “Baiklah. Jika memang itu keinginan, Nona.” “Aku akan mengabulkan satu permintaanmu.” Satu permintaan? Napas Ratu tercekat. “Per-permintaan?” Tersenyum sekilas, menarik tangannya dari wajah Ratu. Nenek tersebut memainkan tongkat di salah satu tangan. “Apapun itu. Katakan dengan jelas, dan tutup kedua matamu, Nona. Karena kau sudah menyelamatkan nyawa nenek tua ini, aku akan memberimu hadiah kecil.” Melihat nenek itu berjalan menjauh. “Satu permintaan yang saat ini sangat kau inginkan.” Menundukkan pandangan, apa Ratu bisa mempercayai nenek itu? Meneguk ludah tanpa sadar, dengan napas terengah. Jika memang benar, tak ada salahnya mencoba ‘kan? Menarik napas panjang. Perlahan wanita itu menutup kedua matanya. Jantung berdetak cepat, ‘Satu permintaan,’ Satu permintaan yang tulus dari diri Ratu. Jika memang benar. Dengan ragu bibir sang Edrea berucap tipis, “Aku ingin-” Kedua tangan terkepal, dan air mata menetes kembali. Semua kilas ingatannya selama ini membuat Ia semakin berani. Tidak ada lagi kehancuran atau kematian. Ratu akan mengubahnya! “Aku ingin kembali hidup dan merubah semuanya!!” Satu permintaan terucap lantang. Seiring dengan cahaya putih perlahan menyelimuti Ratu. Tempat gelap yang mengelilingi sang Edrea ikut hilang. Begitu juga sang nenek. Terkejut, Ratu reflek membuka mata. Mendapati tubuhnya perlahan hilang, menatap ke arah sang nenek yang masih berdiri tak jauh dari posisinya. Dengan senyuman teduh yang hangat. Mendengar ucapan terakhir wanita paruh baya itu. “Aku harap saat kita bertemu lagi nanti, kebaikan hatimu untuk menyelamatkan nenek tua ini tidak berubah, Nona cantik.” “Ne-nenek!!” “Sampai bertemu lagi, Nona.” Saat itu juga kedua manik Ratu berubah silau. Menutup manik reflek, “Ahhh!!!” Teriakan menggema, nyawa dan tubuh Ratu seolah tertarik begitu kuat. *** “Aghhh!!!” Teriakan Ratu menggema, kedua manik wanita itu terbuka cepat. Detak jantungnya begitu kuat terdengar, keringat menetes deras di sekujur tubuh. Selimut menutupi tubuh sang Edrea. Aroma khas yang sudah lama tak Ia hirup masuk ke dalam indra penciuman. Seketika Ratu merasa nyawa-nya seolah kembali lagi. *** Tahun 2025 – Start Again
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN