[ 34 - Kesempatan ]

1422 Kata
STORY 34 - Kesempatan *** Tahun 2040 – Masa kini [REKOMENDASI LAGU – SKYLAR GREY – EVERYTHING I NEED Ingatan Ratu mengawang, merasakan sakit yang amat parah, seluruh sekujur tubuhnya remuk saat genangan darah mulai tercipta mengenai wajah, melukai kepala. Membentur aspal yang dingin, kesadaran Ratu perlahan hilang. Maniknya berubah buram, tidak bisa bergerak bahkan saat beberapa orang perlahan menghampirinya. Anehnya, wanita itu justru tidak merasa takut, Ada satu hal yang membuat Ratu pasrah, semua rasa sakit ini mengingatkannya akan Ravin. Sakit, ketakutan bercampur jadi satu, memanggil nama Ratu saat itu. Tanpa bisa mengucapkan apapun, ‘Ravin,’ Samar Ratu bisa mendengar suara teriakan Tania dari seberang sana. Wanita itu menjatuhkan kopi yang Ia bawa, berlari sekencang mungkin dan menangis, menghampiri Ratu. Wajahnya pucat pasi, shock tidak bisa berpikir jernih. Nyaris tertabrak kendaraan yang masih mencoba berlalu lalang. Ratu tidak kuat, kesadarannya makin hilang. Rasa sakit ini datang bersamaan dengan rasa kantuk. Pelan tapi pasti, Ratu merasakan bagaimana nyawanya berada diambang kematian. Beginikah rasanya? Mati, tanpa ada keluarga atau orang yang kau sayangi. Hanya orang asing yang mungkin hanya sekedar kasihan dan iba. Hanya Tania. Tak kuat lagi, tubuh Ratu semakin lemas, terbaring di aspal. Saat Tania berlari mendekatinya dan berlutut. Kesadaran sang Edrea hilang sepenuhnya. “Nyonya Ratu, bertahanlah!!!” *** Tubuhnya terasa melayang, terombang-ambing dalam kesadaran yang tiada akhir. Tuhan seolah mengambil rasa sakit Ratu. Samar dalam kesadarannya yang setengah kembali, telinga Ratu mendengar pelan suara beberapa orang familiar. Teriak, dan tangisan tipis. Siapa? Tania kah? Keningnya tertekuk, merasa sedikit aneh. Sesaat dia merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuh, tapi sekarang apa yang terjadi? Rasa sakit itu seolah hilang dalam sekejap. Kedua manik yang begitu berat terbuka, kini perlahan mampu bergerak kembali. Apa yang terjadi? Keanehan ini membuat Ia semakin bingung. Mencoba bergerak lagi, jemari dan beberapa otot tubuh yang tadinya lemas kini dapat bergerak juga. Semua makin terasa saat suara-suara itu terdengar keras, diiringi teriakan. Satu nama terlintas dalam pikiran Ratu. Dia mengingat jelas, suara keras itu, kedua maniknya reflek terbuka. Dalam kondisi terbaring, “Asta,” Bibir sang Edrea memanggil nama sang putra. Tapi apa yang Ia temukan? Kegelapan yang sangat pekat, bahkan nyaris tidak bisa membuatnya melihat jelas. Berusaha bangkit dan duduk. Keanehan itu makin terasa saat seluruh tubuh yang awalnya terluka parah kini bisa duduk dengan mudah. Alis Ratu tertekuk bingung, tidak bisa melihat jelas kondisi tubuhnya sekarang. Pikiran itu teralih kembali saat mendengar suara Asta. Sosok yang tengah berargumen dengan seseorang, “Asta,” Mengikuti arah suara tadi, kali ini dibalik kegelapan yang menyelimuti Ratu. Sebuah sinar berwarna putih terang terlihat samar, tak jauh dari posisinya. Maniknya menyipit, telinga masih berusaha mendengar. Teriakan Asta beradu mulut dengan ayahnya sendiri. “Ini salahnya!! Kalau saja saat ini Ravin masih ada di samping kita, mungkin dia mau membantu ibu!!” “Asta, jaga bicaramu!! Kondisi ibumu sedang kritis dan masih sempat-sempatnya kau menyalahkan Ratu?!!” “Kenapa memangnya?!! Ini ‘kan memang salah wanita itu, dia yang terlalu egois, dia terlalu mementingkan harta, harga diri bahkan menelantarkan kita!!” “Aku sudah berjanji tidak mau bertemu dengannya lagi, jadi jangan repot-repot memanggilku ke sini!!” Suara tamparan terdengar jelas, Ratu reflek memekik. Kedua maniknya melebar, tubuh itu gemetar tak percaya. Apa ini mimpi? Tapi kenapa terasa begitu nyata? Apa yang Ia lihat sekarang? Kenapa tubuhnya ada di sana? Terbaring pucat di atas tempat tidur, diselingi infus dan bantuan pernapasan. Tidak sadarkan diri. ‘Ke-kenapa aku ada di sana?’ Ratu menolak percaya, pasalnya sekarang dia sedang duduk di sini, sadar dan sehat. Apa yang sebenarnya terjadi?! “Ayah, tidak pernah mengajarkanmu jadi laki-laki kurang ajar seperti ini, Asta!!” Asta dan Arsen berada tak jauh dari posisi Ratu, tapi entah kenapa dia tidak bisa menggapai mereka. Berusaha sekuat mungkin, berteriak memanggil bahkan berusaha untuk mendekat. Mereka justru semakin jauh, Dia seolah berada di atas, hanya bisa melihat dari jauh. “Arsen,” Tak percaya bahwa Arsen akan menampar pipi Asta seperti itu, Ratu akui bahwa dia terkejut. Saat Asta mengatakan dengan gamblang, Sadar bahwa Ratu tak bisa melakukan apapun, raganya tengah berbaring lemas di sana, “Pukul lagi, Ayah! Apa Ayah sadar kalau selama ini pun baik Ayah ataupun ibu tidak pernah mengajarkanku apapun?!!” Tubuh Arsen nampak tersentak, sadar dengan perbuatannya. Hendak mendekat dan menggapai tubuh sang putra, menepuk pundaknya, “Asta, maaf-” Asta sudah lebih dulu menepis tangan Arsen, dengan manik menatap tajam, “Tidak sadarkah kalau kalian hanya memikirkan diri sendiri saja selama ini?! Apa kalian pernah menanyakan pendapat kami untuk berpisah?! Apa kalian pernah memikirkan perasaan kami?!! Seenaknya mengambil keputusan dan berpisah!!” teriak Asta menggelegar. Arsen bungkam, ucapan Asta seolah telak mengenainya. Napas Asta terengah, dengan wajah memerah dan tak bisa mengendalikan air mata yang jatuh dari pelupuk. Lelaki itu menepuk dadanya keras, “Kalau memang kalian belum siap berkeluarga, kami lebih memilih untuk tidak lahir saja ke dunia ini!!” Satu ucapan terakhir dibarengi sosok Asta yang berlari meninggalkan ruang. Menangis, membiarkan Arsen sendiri di dalam sana. Sosok tegap yang awalnya berdiri namun dalam hitungan detik, jatuh dalam keadaan shock. Tumbang dan terlihat lemah. Terdiam beberapa saat, dalam hening, salah satu tangan Arsen bergerak pelan, memukul lantai sekuat mungkin. Berulang kali, semakin keras, diiringi nafas terengah. Suara tertahan dan tubuh bergetar. Salah satu tangan mengacak rambutnya kasar, menggeleng keras, menekuk kedua kaki perlahan. Ratu melihat jelas, untuk kali ini. Rajendra Rakha Arsenio, lelaki penuh dengan senyuman tulus, sabar penuh kasih sayang dan selalu nampak tegar di depan seluruh keluarga kecilnya. Tak pernah sekalipun Ratu melihat sosok itu nampak rapuh, dan hancur seperti saat ini. Apalagi saat mendengar suara alat pendeteksi jantung milik Ratu perlahan keras, lelaki itu menegang, shock. Berusaha untuk berdiri namun dia tak bisa. Arsen terjatuh berulang kali, lutut menyentuh lantai, dengan napas terengah dan kedua manik melebar, “Jangan---jangan pergi kumohon,” Nampak panik, menghampiri tubuh Ratu yang masih terbaring kaku. Lelaki itu menggeleng kencang, menarik selimut Ratu bahkan mengguncang pelan tubuh sang Edrea. “Kumohon Ratu, maafkan aku. Jangan pergi---jangan pergi,” Arsenio nampak sangat hancur, air mata turun membasahi pipinya, berusaha berdiri namun tak bisa. Saat suara pendeteksi jantung itu makin keras. “DOKTER!! SUSTER!! TOLONG!!” Teriakan Arsen melolong, memenuhi seluruh ruangan. “TOLONG, DOKTER!!! NYAWA ISTRIKU!! TOLONG DIA!!” Garis nyawa Ratu semakin hilang, kepanikan Arsen memuncak. “RATU, BANGUN!! JANGAN TIDUR SEPERTI INI!! BANGUN!! KAU TAHU AKU MASIH MARAH PADAMU!! JANGAN TIDUR DULU!!” Bahkan hingga akhir hayatnya, Ratu tak percaya bahwa Arsen masih ada di sana. Memeluk bahkan menangis kencang. Memanggil nama sang Edrea, Ratu tak bisa melakukan apapun, selain hanya melihat dari jauh. Sosok Arsen yang rapuh dan hancur. Bahkan saat Rheandra datang, menjauhkan tubuh Arsen darinya, lelaki itu reflek mendorong sang Samantha. “TOLONG DIA!!!” “Rakha, jangan seperti ini!! Bangunlah!!” “HUAAA!! DOKTER, SUSTER!!” Saat dokter dan suster datang, tubuh Arsen dipaksa menjauh, dalam keadaan menangis dan terduduk di atas lantai. “Kumohon selamatkan dia, kumohon,” Memohon berulang kali. Sakit, perih, dan kecewa dengan dirinya sendiri. Ratu menangis kencang, melihat kondisi Arsen. Mengetahui fakta dan kasih sayang lelaki yang Ia sia-siakan dulu. Kenapa di saat terakhir seperti ini?!! Kenapa Ratu baru sadar?! Semua hal yang selalu Ia jaga berakhir dengan kehancuran. Harga diri dan kekayaan yang Ia junjung tinggi justru menjadi bencana bagi keluarga kecilnya! Kali ini Ratu benar-benar yakin bahwa dirinya telah pergi, dan sekarang mungkin dia tengah berada di neraka. Menunggu hukuman yang akan Tuhan berikan padanya. “Maafkan aku, maafkan aku,” Terisak tipis, tubuh wanita itu gemetar. Terjatuh dan terduduk tanpa bisa melakukan apapun lagi. Ratu salah, dia yang salah selama ini. Arsen hanya berusaha menjadi seorang pemimpin keluarga yang baik dan sempurna, namun Ratu justru menjadi sosok istri serta ibu yang egois. Ratu tidak menyalahkan mereka, baik Arsen, Asta ataupun Ravin. Ini salahnya. Perlahan semakin hilang, saat suara detak nyawa Ratu menipis. Pemandangan di bawah sana pelan berubah menjadi samar, gelap kembali menutupi. Ratu tidak bisa mengatakan apapun lagi, dia terlalu lelah. Kesalahan Ratu begitu banyak, bahkan sekarang pun Ratu yakin kalau Tuhan tak akan memaafkannya. “Maafkan aku,” Teriakan dan pemandangan Arsen yang hancur hilang dalam hitungan detik. Meninggalkan Ratu sendiri dalam kegelapan. “Maafkan aku-hiks,” “Kita bertemu lagi, Nona cantik.” Saat suara yang familiar masuk ke dalam pendengarannya, tubuh Ratu menegang. Tangisan wanita itu terhenti, beriring dengan tubuh yang perlahan bangkit kembali. Di area yang gelap, secercah cahaya muncul, kedua manik sang Edrea melihat jelas sosok itu. “Ka-kau,” Sosok wanita paruh baya yang baru saja Ia selamatkan tadi berdiri dengan senyuman sendu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN